alexametrics
30.5 C
Madiun
Monday, May 16, 2022

Lahan Tanam Kedelai di Pacitan Susut 5.176 Hektare

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Luasan lahan tanam kedelai di Pacitan kian susut. Dari 5.276 hektare tinggal 100 hektare selama rentang delapan tahun terakhir. Saban tahun, luasan lahan tanaman komoditas kacang-kacangan itu terus mengalami penyusutan. Di tahun ini, sisa luasannya tak lebih dari 5 persen.

Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian  (Disperta) Pacitan Gatut Winarso mengatakan, puncak tanam kedelai terjadi delapan tahun silam. Pada 2015 itu, hampir seluruh kecamatan menanam bahan baku tempe dan tahu tersebut. Belakangan warga mulai kehilangan gairah untuk menanam kedelai. ‘’Tahun ini kami data tinggal 100-an hektare,’’ ungkapnya, Senin (28/2).

Tak adanya kepastian harga dituding menjadi biang penghilang gairah menanam kedelai. Meski kini harga komoditas impor melambung hingga Rp 14 ribu per kilogram. Namun, tidak demikian dengan kedelai lokal yang banderolnya hanya berkisar Rp 7.000 per kilogram. ‘’Tahun lalu ada produsen ingin beli Rp 7.000 saja batal karena ada daerah lain yang menjual lebih murah, beruntung saat itu di pasaran masih laku Rp 7.500,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Ponkeskdes Dirintis Pakde Karwo, Dibubarkan Khofifah

Meski harga kedelai amburadul, kebutuhan pasar tetap tinggi. Bahkan, jika dikalkulasi, kebutuhan kedelai Pacitan tak mampu dipenuhi petaninya sendiri. Begitu pula di tingkat provinsi yang selama ini masih mengandalkan suplai impor. Padahal, Jatim digadang sebagai lumbung kedelai. ‘’Sebenarnya kalau tanam berapa pun masih kurang, tapi kualitas kedelai kita yang masih kalah,’’ urainya.

Gatut menambahkan, saat ini muncul tren baru di kalangan petani kedelai. Mereka mulai beralih menanam kedelai hitam ketimbang kedelai hijau. Jenis itu dianggap lebih terjamin harganya. Kedelai hitam juga digunakan sebagai bahan baku kecap untuk beberapa perusahaan besar. Dari 100 hektare luasan tanam tahun ini, 30 persennya ditanami kedelai hitam. ‘’Para petani sudah bekerja sama dengan perusahaan kecap, jadi harganya terjamin,’’ pungkasnya. (gen/c1/fin/her)

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Luasan lahan tanam kedelai di Pacitan kian susut. Dari 5.276 hektare tinggal 100 hektare selama rentang delapan tahun terakhir. Saban tahun, luasan lahan tanaman komoditas kacang-kacangan itu terus mengalami penyusutan. Di tahun ini, sisa luasannya tak lebih dari 5 persen.

Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian  (Disperta) Pacitan Gatut Winarso mengatakan, puncak tanam kedelai terjadi delapan tahun silam. Pada 2015 itu, hampir seluruh kecamatan menanam bahan baku tempe dan tahu tersebut. Belakangan warga mulai kehilangan gairah untuk menanam kedelai. ‘’Tahun ini kami data tinggal 100-an hektare,’’ ungkapnya, Senin (28/2).

Tak adanya kepastian harga dituding menjadi biang penghilang gairah menanam kedelai. Meski kini harga komoditas impor melambung hingga Rp 14 ribu per kilogram. Namun, tidak demikian dengan kedelai lokal yang banderolnya hanya berkisar Rp 7.000 per kilogram. ‘’Tahun lalu ada produsen ingin beli Rp 7.000 saja batal karena ada daerah lain yang menjual lebih murah, beruntung saat itu di pasaran masih laku Rp 7.500,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Terminal Sepi, Omzet Pedagang Turun

Meski harga kedelai amburadul, kebutuhan pasar tetap tinggi. Bahkan, jika dikalkulasi, kebutuhan kedelai Pacitan tak mampu dipenuhi petaninya sendiri. Begitu pula di tingkat provinsi yang selama ini masih mengandalkan suplai impor. Padahal, Jatim digadang sebagai lumbung kedelai. ‘’Sebenarnya kalau tanam berapa pun masih kurang, tapi kualitas kedelai kita yang masih kalah,’’ urainya.

Gatut menambahkan, saat ini muncul tren baru di kalangan petani kedelai. Mereka mulai beralih menanam kedelai hitam ketimbang kedelai hijau. Jenis itu dianggap lebih terjamin harganya. Kedelai hitam juga digunakan sebagai bahan baku kecap untuk beberapa perusahaan besar. Dari 100 hektare luasan tanam tahun ini, 30 persennya ditanami kedelai hitam. ‘’Para petani sudah bekerja sama dengan perusahaan kecap, jadi harganya terjamin,’’ pungkasnya. (gen/c1/fin/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/