alexametrics
23.3 C
Madiun
Monday, May 23, 2022

Petani Pusing Gagal Panen Cabai Keriting

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Tatap mata para petani cabai di Desa Gembong, Kecamatan Arjosari, pedih. Bukan karena terpapar pedasnya buah yang ditanam. Melainkan menahan kepedihan akibat cabai yang ditanamnya gagal panen.

Dengan berat hati, hektarean lahan cabai yang terendam banjir dan terserang hama itu dicabuti. Lantaran tak dapat dipertahankan lagi hingga tiba masa panen. Satu hektare tanaman cabai milik Suprihatin, tinggal beberapa petak saja yang dapat dipertahankan. Situasi itu benar-benar membuatnya seperti ’’kapok lombok’’. ‘’Cabai banyak yang mati terserang banjir akibat tanggul jebol,’’ ungkapnya, Rabu (29/12).

Dari segelintir petak lahan, cabai keriting yang masih hijau terpaksa dipanen dini untuk meminimalkan kerugian. Karena dipanen dini, harganya pun susut tinggal Rp 11 ribu dari Rp 13 ribu per kilogramnya. ‘’Padahal kalau cabainya sudah benar-benar masak, bisa laku terjual sampai Rp 28 ribu sekilo,’’ ratap Suprihatin.

Baca Juga :  Prioritaskan Pengentasan Kemiskinan

Anton Andesma, petani lain, juga mengalami gagal panen. Dia harus merelakan cabai yang susah payah ditanamnya terserang hama patek dan layu fusarium. Serangan itu membuat daun cabai layu dan buahnya mengering. ‘’Sudah tidak bisa diselamatkan lagi,’’ ucapnya.

Banjir merendam tanaman cabai di Gembong. Besarnya luapan irigasi itu membuat puluhan hektare cabai tergenang dan membusuk. Kini, petani hanya bisa pasrah sembari mencoba memperbaiki saluran irigasi setempat. ‘’Musibah ini membuat kami harus melewatkan momen kenaikan harga di pasaran,’’ tuturnya. (ti2/c1/fin/her)

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Tatap mata para petani cabai di Desa Gembong, Kecamatan Arjosari, pedih. Bukan karena terpapar pedasnya buah yang ditanam. Melainkan menahan kepedihan akibat cabai yang ditanamnya gagal panen.

Dengan berat hati, hektarean lahan cabai yang terendam banjir dan terserang hama itu dicabuti. Lantaran tak dapat dipertahankan lagi hingga tiba masa panen. Satu hektare tanaman cabai milik Suprihatin, tinggal beberapa petak saja yang dapat dipertahankan. Situasi itu benar-benar membuatnya seperti ’’kapok lombok’’. ‘’Cabai banyak yang mati terserang banjir akibat tanggul jebol,’’ ungkapnya, Rabu (29/12).

Dari segelintir petak lahan, cabai keriting yang masih hijau terpaksa dipanen dini untuk meminimalkan kerugian. Karena dipanen dini, harganya pun susut tinggal Rp 11 ribu dari Rp 13 ribu per kilogramnya. ‘’Padahal kalau cabainya sudah benar-benar masak, bisa laku terjual sampai Rp 28 ribu sekilo,’’ ratap Suprihatin.

Baca Juga :  Lagi Enak Masak Diguncang Tanah Gerak

Anton Andesma, petani lain, juga mengalami gagal panen. Dia harus merelakan cabai yang susah payah ditanamnya terserang hama patek dan layu fusarium. Serangan itu membuat daun cabai layu dan buahnya mengering. ‘’Sudah tidak bisa diselamatkan lagi,’’ ucapnya.

Banjir merendam tanaman cabai di Gembong. Besarnya luapan irigasi itu membuat puluhan hektare cabai tergenang dan membusuk. Kini, petani hanya bisa pasrah sembari mencoba memperbaiki saluran irigasi setempat. ‘’Musibah ini membuat kami harus melewatkan momen kenaikan harga di pasaran,’’ tuturnya. (ti2/c1/fin/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/