alexametrics
31.3 C
Madiun
Wednesday, May 18, 2022

Duh, Kasus Leptospirosis Renggut Nyawa Seorang Warga Pacitan

PACITAN, Jawa Pos Radar Pacitan – Teror penyakit bertubi-tubi mengancam kesehatan warga Pacitan. Selain Covid-19, demam berdarah dengue (DBD), dan cikungunya, leptospirosis menebarkan terornya. Penyakit yang ditimbulkan dari urine hewan itu merenggut nyawa seorang kakek berusia 70 tahun.

Kadinkes Pacitan Hendra Purwaka mengamini wabah leptospirosis layaknya serangan bom waktu. Saban tahun, ada saja laporan penularan yang disebabkannya. Penularannya terjadi di beberapa wilayah berbeda. ‘’Penularan tidak di satu wilayah saja. Bahkan, di Tulakan setiap tahunnya ada temuan kasus,’’ ungkapnya, Jumat (31/12).

Hendra mengatakan, leptospirosis merupakan penyakit yang berasal dari bakteri leptospira. Bakteri tersebut hidup dalam tubuh hewan perantara seperti tikus, kuda, atau babi yang dikeluarkan melalui urine. Biasanya urine itu terbawa genangan atau mengendap di tanah kemudian menularkan kepada manusia. ‘’Penderita leptospirosis biasanya demam dan air kencingnya kuning,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Viral Truk Oleng di Pacitan, Sopir Ditilang Lalu Kendaraan Ditahan

Meski tingkat kematiannya rendah, jika tak lekas mendapat pertolongan, leptospirosis terbilang berbahaya. ‘’Pada fase kedua, infeksi penyakit dapat menjalar ke organ vital. Penderita dapat mengalami gagal ginjal sampai radang selaput otak (meningitis, Red),’’ terangnya.

Meski sulit dideteksi, pencegahannya terbilang gampang. Cukup menjauhkan diri dengan hewan perantara leptospirosis. Semisal tikus, baik di sawah maupun di rumah. Pola hidup bersih juga perlu diperhatikan. Salah satunya tidak membuang sisa makanan sembarangan. ‘’Tikus masuk rumah itu kan cari sisa makanan. Jadi, harus lebih waspada,’’ pesan Hendra. (gen/c1/fin/her)

PACITAN, Jawa Pos Radar Pacitan – Teror penyakit bertubi-tubi mengancam kesehatan warga Pacitan. Selain Covid-19, demam berdarah dengue (DBD), dan cikungunya, leptospirosis menebarkan terornya. Penyakit yang ditimbulkan dari urine hewan itu merenggut nyawa seorang kakek berusia 70 tahun.

Kadinkes Pacitan Hendra Purwaka mengamini wabah leptospirosis layaknya serangan bom waktu. Saban tahun, ada saja laporan penularan yang disebabkannya. Penularannya terjadi di beberapa wilayah berbeda. ‘’Penularan tidak di satu wilayah saja. Bahkan, di Tulakan setiap tahunnya ada temuan kasus,’’ ungkapnya, Jumat (31/12).

Hendra mengatakan, leptospirosis merupakan penyakit yang berasal dari bakteri leptospira. Bakteri tersebut hidup dalam tubuh hewan perantara seperti tikus, kuda, atau babi yang dikeluarkan melalui urine. Biasanya urine itu terbawa genangan atau mengendap di tanah kemudian menularkan kepada manusia. ‘’Penderita leptospirosis biasanya demam dan air kencingnya kuning,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Awas, Ranitidin Picu Kanker

Meski tingkat kematiannya rendah, jika tak lekas mendapat pertolongan, leptospirosis terbilang berbahaya. ‘’Pada fase kedua, infeksi penyakit dapat menjalar ke organ vital. Penderita dapat mengalami gagal ginjal sampai radang selaput otak (meningitis, Red),’’ terangnya.

Meski sulit dideteksi, pencegahannya terbilang gampang. Cukup menjauhkan diri dengan hewan perantara leptospirosis. Semisal tikus, baik di sawah maupun di rumah. Pola hidup bersih juga perlu diperhatikan. Salah satunya tidak membuang sisa makanan sembarangan. ‘’Tikus masuk rumah itu kan cari sisa makanan. Jadi, harus lebih waspada,’’ pesan Hendra. (gen/c1/fin/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/