alexametrics
29.9 C
Madiun
Friday, May 20, 2022

Kasus Cerai di Ponorogo Marak, Dipicu Masalah LDR Jadi TKI

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Tak semua orang nyaman menjalani long distance relationship (LDR) alias hubungan jarak jauh. Faktanya, tak sedikit pernikahan kandas gegara pasangan merantau ke negeri orang. Pengadilan Agama (PA) Ponorogo mencatat, dari 1.463 perkara cerai gugat di sepanjang tahun lalu, 50 persen dilayangkan oleh istri yang notabene seorang pekerja migran Indonesia (PMI).

Humas PA Ponorogo Sukahatta Wakano mengatakan, mayoritas istri yang menggugat cerai suaminya adalah PMI yang bekerja di Taiwan. Disusul tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Hongkong, Malaysia, dan Singapura. ‘’Padahal, ketika istri berangkat, hubungan masih harmonis,’’ ujarnya, Kamis (3/3).

Para janda tersebut menyebutkan alasan mereka menceraikan sang suami. Mayoritas masalah ekonomi, dengan persentase mencapai 60 persen. Mereka berdalih suami tak memberi nafkah. Sebanyak 40 persen sisanya akibat perselingkuhan. Istri menuding suami yang tinggal di kampung halaman berpaling ke lain hati. ‘’Istri berangkat atas izin suami untuk memperbaiki ekonomi,’’ tutur Sukahatta. ‘’Nyatanya, ekonomi hadir sebagai pemecah rumah tangga,’’ imbuhnya.

Baca Juga :  ’’Gunung Mrican’’ Akan Sirna Setahun

Tak heran muncul tren bongkar rumah untuk penyelesaian harta gono-gini. Sukahatta menyayangkan cara penyelesaian tersebut. Anak patut dipertimbangkan menerima warisan dari kedua orang tua yang bercerai. Sayangnya, pikiran pasangan telanjur cupet. ‘’Ibaratnya kalah jadi arang menang jadi abu, saking bencinya sehingga tidak ada pikiran positif,’’ ungkapnya.

Mayoritas pihak istri maupun suami khawatir orang ketiga datang ke rumah yang telah dibangun bersama. Apalagi jika ada anak yang masih kecil. ‘’Masalahnya anak kecil belum bisa mengurus diri sendiri, itu yang kami sesalkan,’’ pungkasnya. (kid/c1/naz/her)

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Tak semua orang nyaman menjalani long distance relationship (LDR) alias hubungan jarak jauh. Faktanya, tak sedikit pernikahan kandas gegara pasangan merantau ke negeri orang. Pengadilan Agama (PA) Ponorogo mencatat, dari 1.463 perkara cerai gugat di sepanjang tahun lalu, 50 persen dilayangkan oleh istri yang notabene seorang pekerja migran Indonesia (PMI).

Humas PA Ponorogo Sukahatta Wakano mengatakan, mayoritas istri yang menggugat cerai suaminya adalah PMI yang bekerja di Taiwan. Disusul tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Hongkong, Malaysia, dan Singapura. ‘’Padahal, ketika istri berangkat, hubungan masih harmonis,’’ ujarnya, Kamis (3/3).

Para janda tersebut menyebutkan alasan mereka menceraikan sang suami. Mayoritas masalah ekonomi, dengan persentase mencapai 60 persen. Mereka berdalih suami tak memberi nafkah. Sebanyak 40 persen sisanya akibat perselingkuhan. Istri menuding suami yang tinggal di kampung halaman berpaling ke lain hati. ‘’Istri berangkat atas izin suami untuk memperbaiki ekonomi,’’ tutur Sukahatta. ‘’Nyatanya, ekonomi hadir sebagai pemecah rumah tangga,’’ imbuhnya.

Baca Juga :  Korban Ledakan Petasan di Ponorogo Dirujuk ke Solo

Tak heran muncul tren bongkar rumah untuk penyelesaian harta gono-gini. Sukahatta menyayangkan cara penyelesaian tersebut. Anak patut dipertimbangkan menerima warisan dari kedua orang tua yang bercerai. Sayangnya, pikiran pasangan telanjur cupet. ‘’Ibaratnya kalah jadi arang menang jadi abu, saking bencinya sehingga tidak ada pikiran positif,’’ ungkapnya.

Mayoritas pihak istri maupun suami khawatir orang ketiga datang ke rumah yang telah dibangun bersama. Apalagi jika ada anak yang masih kecil. ‘’Masalahnya anak kecil belum bisa mengurus diri sendiri, itu yang kami sesalkan,’’ pungkasnya. (kid/c1/naz/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/