alexametrics
23.7 C
Madiun
Sunday, May 22, 2022

Kemenag Mulai Sosialisasikan Pedoman Pengeras Suara

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Polemik seputar aturan pengeras suara tak perlu diperpanjang. Kementerian Agama (Kemenag) resmi merilis surat edaran (SE) tentang pedoman penggunaan pengeras suara di masjid dan musala. SE 5/2022 yang ditandatangani Menag Yaqut Cholil Qoumas itu memberikan kisi-kisi pedoman secara gamblang. Demi mewujudkan ketenteraman, ketertiban, dan kenyamanan bersama.

Kepala Kantor Kemenag Pacitan  Moh. Nasim langsung menyosialisasikan pedoman itu ke seluruh tokoh agama dan masyarakat. Dewan Masjid Indonesia (DMI) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) serta ormas keagamaan diberi pencerahan. ‘’Kami deklarasikan dukungan terhadap surat edaran tersebut,’’ ujarnya, Kamis (3/3).

Beberapa ketentuan tertuang dalam SE yang diteken Kemenag pertengahan bulan lalu. Kapan saatnya menggunakan pengeras suara luar dan dalam. Volume diatur sesuai kebutuhan namun tidak sampai melebihi 100 dB (desibel). Kualitas audio rekaman yang diperdengarkan juga diperhatikan agar tidak sumbang dan pelafalannya benar.

Baca Juga :  Dewan Sebut Sudah Waktunya Pilkades Pacitan Digelar E-Voting

Durasi pengoperasiannya dibedakan antara subuh dengan empat waktu salat lainnya. ‘’Subuh dihidupkan sebelum azan maksimal 10 menit. Duhur, asar, magrib, dan isya dihidupkan sebelum azan maksimal 5 menit,’’ urai Nasim.

Ketentuan dalam SE itu bersifat fleksibel. Kemenag meminta kanwil di setiap daerah berkoordinasi dengan pemkab dan ormas Islam dalam pengawasan dan pembinaannya. Pengeras suara tetap menjadi salah satu media syiar Islam. Nasim berharap ketentuan itu kian mengukuhkan toleransi keberagaman masyarakat di Pacitan. ‘’Semua ini demi menjaga kenyamanan lingkungan,’’ tuturnya. (gen/c1/fin/her)

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Polemik seputar aturan pengeras suara tak perlu diperpanjang. Kementerian Agama (Kemenag) resmi merilis surat edaran (SE) tentang pedoman penggunaan pengeras suara di masjid dan musala. SE 5/2022 yang ditandatangani Menag Yaqut Cholil Qoumas itu memberikan kisi-kisi pedoman secara gamblang. Demi mewujudkan ketenteraman, ketertiban, dan kenyamanan bersama.

Kepala Kantor Kemenag Pacitan  Moh. Nasim langsung menyosialisasikan pedoman itu ke seluruh tokoh agama dan masyarakat. Dewan Masjid Indonesia (DMI) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) serta ormas keagamaan diberi pencerahan. ‘’Kami deklarasikan dukungan terhadap surat edaran tersebut,’’ ujarnya, Kamis (3/3).

Beberapa ketentuan tertuang dalam SE yang diteken Kemenag pertengahan bulan lalu. Kapan saatnya menggunakan pengeras suara luar dan dalam. Volume diatur sesuai kebutuhan namun tidak sampai melebihi 100 dB (desibel). Kualitas audio rekaman yang diperdengarkan juga diperhatikan agar tidak sumbang dan pelafalannya benar.

Baca Juga :  Warga Babadan Tewas Saat Perbaiki Sumur

Durasi pengoperasiannya dibedakan antara subuh dengan empat waktu salat lainnya. ‘’Subuh dihidupkan sebelum azan maksimal 10 menit. Duhur, asar, magrib, dan isya dihidupkan sebelum azan maksimal 5 menit,’’ urai Nasim.

Ketentuan dalam SE itu bersifat fleksibel. Kemenag meminta kanwil di setiap daerah berkoordinasi dengan pemkab dan ormas Islam dalam pengawasan dan pembinaannya. Pengeras suara tetap menjadi salah satu media syiar Islam. Nasim berharap ketentuan itu kian mengukuhkan toleransi keberagaman masyarakat di Pacitan. ‘’Semua ini demi menjaga kenyamanan lingkungan,’’ tuturnya. (gen/c1/fin/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/