alexametrics
29.7 C
Madiun
Friday, May 13, 2022

Kenal Lebih Dekat Obrok Sakti Kota Reog

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Bosan bersepeda gunung (mountain bike), Obrok Sakti Kota Reog (Oskar) mencari pengalaman baru dengan bersepeda touring. Sesuai nama komunitasnya, kumpulan goweser ini tak canggung memakai nama obrok karena sepeda yang dikendarai memang dipenuhi barang bawaan. Mulai dari tas, speaker aktif, wajan, bahan makanan mentah, hingga kebutuhan harian lainnya.

Efisiensi menjadi prinsip touring yang dipegang teguh komunitas ini. Pesepeda yang terhimpun dalam Oskar ini selalu membawa barang begitu banyak. Supaya di jalan sanggupnya tak sekadar mereparasi sepeda, tetapi juga masak sendiri. ‘’Kalau setiap bersepeda makannya di warung itu boros. Kami biasakan masak sendiri supaya minim pengeluaran dan mendapatkan keasyikan tersendiri,’’ kata Tatang Susilo, anggota Oskar, Selasa (5/4).

Oskar beranggotakan 15 goweser yang punya peran masing-masing. Mulai juru reparasi sepeda, masak, dokumentasi, hingga soal agama. Setiap touring, keikutsertaan anggota tidak selalu lengkap. Maklum, masing-masing dari mereka punya kesibukan yang jadwalnya kerap berbenturan. ‘’Touring ke luar kota itu minimal dua hari,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Ya Ampun, Nasibmu Perpusda Ponorogo

Banyak yang harus dipersiapkan sebelum bersepeda jarak jauh. Paling utama adalah fisik dan mental. Melahap jarak tempuh yang tak pernah kurang dari 100 kilometer, terkadang membuat pesepeda kram dan kelelahan. Kondisi sepeda dan peralatan penunjang lainnya juga harus dipersiapkan. Jauhnya jarak tempuh itu kerap membuat bearing (bantalan) roda belakang sepeda hancur karena menopang barang cukup banyak. ‘’Jika tidak ada persiapan, pasti putus di tengah jalan,’’ ungkap Tatang.

Goweser Oskar kerap melibas trek antarkota dan pegunungan. Mereka kerap bersepeda ke Bojonegoro, Kediri, dan Blitar. Pekan lalu sejatinya ingin touring ke Jogjakarta, namun ditunda. ‘’Kemungkinan berangkatnya setelah Lebaran nanti,’’ tuturnya.

Solidaritas sesama pesepeda touring cukup erat. Tuan rumah selalu ramah menyambut di setiap daerah. Ketika melintasi kota yang ada komunitasnya, wajib mampir. Oskar baru dibentuk 22 Maret 2021, namun keberadaannya sudah cukup dikenal di kalangan pesepeda. Banyak yang mengira komunitas ini sudah terbentuk sejak lama. ‘’Saya juga tidak menyangka kok langsung terkenal ya,’’ ucapnya. (fac/fin/c1)

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Bosan bersepeda gunung (mountain bike), Obrok Sakti Kota Reog (Oskar) mencari pengalaman baru dengan bersepeda touring. Sesuai nama komunitasnya, kumpulan goweser ini tak canggung memakai nama obrok karena sepeda yang dikendarai memang dipenuhi barang bawaan. Mulai dari tas, speaker aktif, wajan, bahan makanan mentah, hingga kebutuhan harian lainnya.

Efisiensi menjadi prinsip touring yang dipegang teguh komunitas ini. Pesepeda yang terhimpun dalam Oskar ini selalu membawa barang begitu banyak. Supaya di jalan sanggupnya tak sekadar mereparasi sepeda, tetapi juga masak sendiri. ‘’Kalau setiap bersepeda makannya di warung itu boros. Kami biasakan masak sendiri supaya minim pengeluaran dan mendapatkan keasyikan tersendiri,’’ kata Tatang Susilo, anggota Oskar, Selasa (5/4).

Oskar beranggotakan 15 goweser yang punya peran masing-masing. Mulai juru reparasi sepeda, masak, dokumentasi, hingga soal agama. Setiap touring, keikutsertaan anggota tidak selalu lengkap. Maklum, masing-masing dari mereka punya kesibukan yang jadwalnya kerap berbenturan. ‘’Touring ke luar kota itu minimal dua hari,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Bawaslu Ponorogo Tunggu Gakumdu

Banyak yang harus dipersiapkan sebelum bersepeda jarak jauh. Paling utama adalah fisik dan mental. Melahap jarak tempuh yang tak pernah kurang dari 100 kilometer, terkadang membuat pesepeda kram dan kelelahan. Kondisi sepeda dan peralatan penunjang lainnya juga harus dipersiapkan. Jauhnya jarak tempuh itu kerap membuat bearing (bantalan) roda belakang sepeda hancur karena menopang barang cukup banyak. ‘’Jika tidak ada persiapan, pasti putus di tengah jalan,’’ ungkap Tatang.

Goweser Oskar kerap melibas trek antarkota dan pegunungan. Mereka kerap bersepeda ke Bojonegoro, Kediri, dan Blitar. Pekan lalu sejatinya ingin touring ke Jogjakarta, namun ditunda. ‘’Kemungkinan berangkatnya setelah Lebaran nanti,’’ tuturnya.

Solidaritas sesama pesepeda touring cukup erat. Tuan rumah selalu ramah menyambut di setiap daerah. Ketika melintasi kota yang ada komunitasnya, wajib mampir. Oskar baru dibentuk 22 Maret 2021, namun keberadaannya sudah cukup dikenal di kalangan pesepeda. Banyak yang mengira komunitas ini sudah terbentuk sejak lama. ‘’Saya juga tidak menyangka kok langsung terkenal ya,’’ ucapnya. (fac/fin/c1)

Most Read

Artikel Terbaru

/