alexametrics
26.2 C
Madiun
Sunday, May 29, 2022

Sudarsono Seolah Tak Takut Disengat Lebah

Sudarsono seolah tak takut disengat lebah. Dia menjadi bagian penting dalam memerangi tawon Vespa affinis sepanjang dua bulan terakhir. Alat pelindung diri (APD) hanya pelengkap. Modal utamanya tetaplah keberanian.

======================

MIZAN AHSANI, Ponorogo, Jawa Pos Radar Ponorogo

PERINTAH pertama yang diterima Sudarsono saat pindah tugas di Bidang Damkar Satpol PP Ponorogo bukan menanggulangi kebakaran. Melainkan memusnahkan sarang tawon yang meresahkan warga di Jambon, November lalu. Tiba di lokasi, anggota yang dipasrahi tugas menjadi operator damkar itu bertanya-tanya. Dia sempat ragu dan bingung. Memikirkan cara mengangkut sarang lebah tanpa membahayakan lingkungan di sekitar. ‘’Waktu itu sudah pakai APD. Tapi belum tahu caranya mengevakuasi,’’ kenang warga Keniten, Ponorogo, itu.

Kala itu Sudarsono mengenakan jaket yang tahan api lengkap dengan helm khusus. Sarang tawon yang hendak dimusnahkan bertengger di atap rumah. Sulit didekati karena tinggi. Pun, rawan menyerang sekitarnya jika diusik langsung. Tebersitlah ide menggunakan detergen. Sepengetahuannya, serangga tak berdaya jika diberi sabun. ‘’Air dari damkar mulai dialirkan. Sebelum disemprotkan, ada tabung yang sudah diisi detergen. Sehingga keluarnya nanti air yang sudah bercampur detergen,’’ urai pria 40 tahun itu.

Disemprotkanlah air sabun itu untuk memusnahkan ribuan ekor tawon Vespa affinis beserta sarangnya. Begitu jatuh ke tanah, air masih disemprotkan di sekitar sarang. Guna memastikan tak ada lagi tawon yang masih bisa terbang. ‘’Setelah terbukti berhasil, sejak saat itu selalu bawa detergen,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Akali Domisili, Empat Siswa Mengundurkan Diri

Sampai pergantian tahun, sudah 46 sarang tawon yang dimusnahkan dari berbagai lokasi. Sudarsono tak tahu betul mengapa tiba-tiba spesies penyengat itu merebak dua bulan terakhir. Apalagi, lokasi sarangnya rata-rata sulit untuk dijangkau. ‘’Selain di atap, juga bertengger di pohon. Untuk yang tidak terlalu tinggi, kami langsung pangkas sarangnya dan masukkan ke karung goni,’’ jelas Sudarsono.

Beruntung, dari puluhan lokasi sarang tawon yang telah disambangi, dirinya belum pernah sekalipun disengat tawon. Padahal, Sudarsono sering berada dalam barisan paling depan. Pernah suatu ketika anggota lain atau bahkan komandan regunya justru diserang. Padahal berada di belakang Sudarsono. ‘’Waktu itu teman dan komandan regu kurang rapat dalam menggunakan APD. Setelah disengat, langsung mual dan sakit, katanya pusing,’’ bebernya.

Bagi Sudarsono, memenuhi panggilan tugas adalah kewajibannya. Karenanya, dia siap setiap saat meski bukan waktunya piket. Seperti saat penumpasan sarang tawon di Kertosari, Babadan, jelang akhir tahun kemarin. ‘’Walaupun bukan waktunya piket, tapi kalau dipanggil ya pasti datang. Awalnya dulu memang cemas, tapi yang penting berani dan sigap,’’ tandasnya. *** (fin/c1)

Sudarsono seolah tak takut disengat lebah. Dia menjadi bagian penting dalam memerangi tawon Vespa affinis sepanjang dua bulan terakhir. Alat pelindung diri (APD) hanya pelengkap. Modal utamanya tetaplah keberanian.

======================

MIZAN AHSANI, Ponorogo, Jawa Pos Radar Ponorogo

PERINTAH pertama yang diterima Sudarsono saat pindah tugas di Bidang Damkar Satpol PP Ponorogo bukan menanggulangi kebakaran. Melainkan memusnahkan sarang tawon yang meresahkan warga di Jambon, November lalu. Tiba di lokasi, anggota yang dipasrahi tugas menjadi operator damkar itu bertanya-tanya. Dia sempat ragu dan bingung. Memikirkan cara mengangkut sarang lebah tanpa membahayakan lingkungan di sekitar. ‘’Waktu itu sudah pakai APD. Tapi belum tahu caranya mengevakuasi,’’ kenang warga Keniten, Ponorogo, itu.

Kala itu Sudarsono mengenakan jaket yang tahan api lengkap dengan helm khusus. Sarang tawon yang hendak dimusnahkan bertengger di atap rumah. Sulit didekati karena tinggi. Pun, rawan menyerang sekitarnya jika diusik langsung. Tebersitlah ide menggunakan detergen. Sepengetahuannya, serangga tak berdaya jika diberi sabun. ‘’Air dari damkar mulai dialirkan. Sebelum disemprotkan, ada tabung yang sudah diisi detergen. Sehingga keluarnya nanti air yang sudah bercampur detergen,’’ urai pria 40 tahun itu.

Disemprotkanlah air sabun itu untuk memusnahkan ribuan ekor tawon Vespa affinis beserta sarangnya. Begitu jatuh ke tanah, air masih disemprotkan di sekitar sarang. Guna memastikan tak ada lagi tawon yang masih bisa terbang. ‘’Setelah terbukti berhasil, sejak saat itu selalu bawa detergen,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Akali Domisili, Empat Siswa Mengundurkan Diri

Sampai pergantian tahun, sudah 46 sarang tawon yang dimusnahkan dari berbagai lokasi. Sudarsono tak tahu betul mengapa tiba-tiba spesies penyengat itu merebak dua bulan terakhir. Apalagi, lokasi sarangnya rata-rata sulit untuk dijangkau. ‘’Selain di atap, juga bertengger di pohon. Untuk yang tidak terlalu tinggi, kami langsung pangkas sarangnya dan masukkan ke karung goni,’’ jelas Sudarsono.

Beruntung, dari puluhan lokasi sarang tawon yang telah disambangi, dirinya belum pernah sekalipun disengat tawon. Padahal, Sudarsono sering berada dalam barisan paling depan. Pernah suatu ketika anggota lain atau bahkan komandan regunya justru diserang. Padahal berada di belakang Sudarsono. ‘’Waktu itu teman dan komandan regu kurang rapat dalam menggunakan APD. Setelah disengat, langsung mual dan sakit, katanya pusing,’’ bebernya.

Bagi Sudarsono, memenuhi panggilan tugas adalah kewajibannya. Karenanya, dia siap setiap saat meski bukan waktunya piket. Seperti saat penumpasan sarang tawon di Kertosari, Babadan, jelang akhir tahun kemarin. ‘’Walaupun bukan waktunya piket, tapi kalau dipanggil ya pasti datang. Awalnya dulu memang cemas, tapi yang penting berani dan sigap,’’ tandasnya. *** (fin/c1)

Most Read

Artikel Terbaru

/