alexametrics
24.6 C
Madiun
Friday, August 19, 2022

Keraton Surakarta Hadiningrat Apresiasi Kesetiaan Juru Kunci

Puluhan juru kunci dari Ponorogo dan Kediri mendapatkan penghargaan dan penyematan gelar dari Keraton Surakarta Hadiningrat. Atas besarnya jasa merawat dan menjaga makam leluhur.

————–

NUR WACHID, Ponorogo

LANTUNAN gamelan mengiringi tarian jathilan dan anoman. Tamu undangan yang berpakaian lengkap adat Jawa spontan berdiri tatkala iringan penari menyambut kedatangan tamu agung dari Keraton Surakarta Hadiningrat. G.K.R. Wandansari Koes Moertiyah atau Gusti Moeng dan KPH Edi Wirabumi. Kedatangan mereka pun dikawal sejumlah keluarga dari keraton.

Tamu agung antusias menikmati sajian tari asli Ponorogo yang ditampilkan untuk menyambut kedatangan mereka. Usai tarian, musik gamelan kembali bertalu. Mengiringi langkah tamu agung menapaki karpet merah menuju kursi di pendapa. ‘’Kami laksanakan kekancingan bagi juru kunci di Ponorogo dan sebagian dari Kediri,’’ kata KRT Suro Agul-Agul, Pangarsa II Pakasa Gebang Tinatar Ponorogo.

Sejatinya, jasa juru kunci tak dapat dihargai dengan apa pun. Dengan tulus ikhlas, mereka mengabdikan hidupnya untuk merawat dan menjaga makam leluhur. Karena itu, sudah sepantasnya mereka mendapatkan penghargaan setinggi-tingginya.  ‘’Suatu kebanggaan tersendiri bagi para juru kunci,’’ ucapnya.

Sebanyak 32 juru kunci mendapat penghargaan langsung dari tamu agung. Satu per satu, juru kunci dipanggil dan diminta berdiri membentuk barisan di atas karpet merah. Kemudian berjalan diiringi musik gamelan. Usai prosesi doa, Gusti Moeng menyematkan selendang dan memberikan piagam kepada setiap juru kunci. ‘’Ini bentuk kepedulian keluarga dalem terhadap para pelestari sejarah,’’ terangnya.

Baca Juga :  Minta Mendagri Mundur, Fadli Zon: Ini Memalukan

Usai prosesi, juru kunci berjalan kembali menuju tempat duduknya masing-masing. Prosesi itu menandai penyematan gelar baru: Mas Ngabehi (M.Ng) bagi para juru kunci. Apresiasi ini diharapkan menjadi pelecut bagi juru kunci agar tak lelah melestarikan warisan sejarah di desanya masing-masing. Terutama, merawat makam leluhur yang menjadi tugas sehari-hari ‘’Juru kunci tidak boleh dipandang sebelah mata,’’ tegasnya.

Prosesi kekancingan itu dipersiapkan jauh hari. Pada mulanya, Pakasa Gebang Tinatar Ponorogo melakukan pendataan juru kunci di Ponorogo dan Kediri. Menyertai prosesi juga dihelat halalbihalal dan sambung rasa. Juru kunci diberi waktu menyampaikan segala keluhan dan tamu agung memberikan solusi. ‘’Semoga pemerintah terus peduli terhadap juru kunci yang merupakan abdi setia para leluhur kita,’’ ucapnya. *** (fin/c1)

Puluhan juru kunci dari Ponorogo dan Kediri mendapatkan penghargaan dan penyematan gelar dari Keraton Surakarta Hadiningrat. Atas besarnya jasa merawat dan menjaga makam leluhur.

————–

NUR WACHID, Ponorogo

LANTUNAN gamelan mengiringi tarian jathilan dan anoman. Tamu undangan yang berpakaian lengkap adat Jawa spontan berdiri tatkala iringan penari menyambut kedatangan tamu agung dari Keraton Surakarta Hadiningrat. G.K.R. Wandansari Koes Moertiyah atau Gusti Moeng dan KPH Edi Wirabumi. Kedatangan mereka pun dikawal sejumlah keluarga dari keraton.

Tamu agung antusias menikmati sajian tari asli Ponorogo yang ditampilkan untuk menyambut kedatangan mereka. Usai tarian, musik gamelan kembali bertalu. Mengiringi langkah tamu agung menapaki karpet merah menuju kursi di pendapa. ‘’Kami laksanakan kekancingan bagi juru kunci di Ponorogo dan sebagian dari Kediri,’’ kata KRT Suro Agul-Agul, Pangarsa II Pakasa Gebang Tinatar Ponorogo.

Sejatinya, jasa juru kunci tak dapat dihargai dengan apa pun. Dengan tulus ikhlas, mereka mengabdikan hidupnya untuk merawat dan menjaga makam leluhur. Karena itu, sudah sepantasnya mereka mendapatkan penghargaan setinggi-tingginya.  ‘’Suatu kebanggaan tersendiri bagi para juru kunci,’’ ucapnya.

Sebanyak 32 juru kunci mendapat penghargaan langsung dari tamu agung. Satu per satu, juru kunci dipanggil dan diminta berdiri membentuk barisan di atas karpet merah. Kemudian berjalan diiringi musik gamelan. Usai prosesi doa, Gusti Moeng menyematkan selendang dan memberikan piagam kepada setiap juru kunci. ‘’Ini bentuk kepedulian keluarga dalem terhadap para pelestari sejarah,’’ terangnya.

Baca Juga :  Kasus Covid-19 Ponorogo Tersisa 27 Pasien Dirawat

Usai prosesi, juru kunci berjalan kembali menuju tempat duduknya masing-masing. Prosesi itu menandai penyematan gelar baru: Mas Ngabehi (M.Ng) bagi para juru kunci. Apresiasi ini diharapkan menjadi pelecut bagi juru kunci agar tak lelah melestarikan warisan sejarah di desanya masing-masing. Terutama, merawat makam leluhur yang menjadi tugas sehari-hari ‘’Juru kunci tidak boleh dipandang sebelah mata,’’ tegasnya.

Prosesi kekancingan itu dipersiapkan jauh hari. Pada mulanya, Pakasa Gebang Tinatar Ponorogo melakukan pendataan juru kunci di Ponorogo dan Kediri. Menyertai prosesi juga dihelat halalbihalal dan sambung rasa. Juru kunci diberi waktu menyampaikan segala keluhan dan tamu agung memberikan solusi. ‘’Semoga pemerintah terus peduli terhadap juru kunci yang merupakan abdi setia para leluhur kita,’’ ucapnya. *** (fin/c1)

Most Read

Artikel Terbaru

/