alexametrics
28.9 C
Madiun
Friday, July 1, 2022

Ratusan Santri Tahlilan Iringi Kepergian Mbah Moen

PONOROGO, JAWA Pos Radar Ponorogo – Nahdliyin di Bumi Reyog turut berduka atas meninggalnya KH Maimoen Zubair Selasa (6/8). Tak lama setelah menerima kabar duka, Ponpes Ittihadul Ummah menghelat jamaah salat gaib dan tahlil bersama.

Wujud belasungkawa kepada ulama karismatik itu dihelat bakda jamaah salat Duhur. Diikuti 200-an pelajar MTs/MA Maarif di Pesantren Jarakan, Banyudono, tersebut. ‘’Ketika ada tokoh agama dan bangsa yang meninggal dunia, kewajiban kami untuk mendoakannya,’’ kata Saiful Bahri, waka kesiswaan Ponpes Ittihadul Ummah Ponorogo.

Di kalangan nahdliyin, KH Maimoen Zubair meninggalkan kesan mendalam. Banyak jasa yang ditorehkan ulama yang hidup sejak prakemerdekaan hingga sekarang itu. Almarhum yang dikenal alim dalam berbagai cabang keilmuan Islam itu selalu mengajarkan kesederhanaan. Mbah Moen juga tak lelah mengajari bangsa ini pentingnya toleransi antarsesama. ‘’Kiprah beliau sangat luar biasa. Kami ingin santri meneladani ajaran-ajaran almarhum.’’ Mbah Moen juga tak pernah memaksakan kehendak. Karena umat tumbuh sesuai zamannya. Begitu pula dalam menuntut ilmu yang tidak mengenal waktu. ‘’Mau tua atau muda, tidak jadi penghalang untuk terus menuntut ilmu,’’ pungkasnya. (dil/c1/fin)

Baca Juga :  Satu Temuan Tim Hunter Covid-19, Warga Ke-296 Reaktif Korona

PONOROGO, JAWA Pos Radar Ponorogo – Nahdliyin di Bumi Reyog turut berduka atas meninggalnya KH Maimoen Zubair Selasa (6/8). Tak lama setelah menerima kabar duka, Ponpes Ittihadul Ummah menghelat jamaah salat gaib dan tahlil bersama.

Wujud belasungkawa kepada ulama karismatik itu dihelat bakda jamaah salat Duhur. Diikuti 200-an pelajar MTs/MA Maarif di Pesantren Jarakan, Banyudono, tersebut. ‘’Ketika ada tokoh agama dan bangsa yang meninggal dunia, kewajiban kami untuk mendoakannya,’’ kata Saiful Bahri, waka kesiswaan Ponpes Ittihadul Ummah Ponorogo.

Di kalangan nahdliyin, KH Maimoen Zubair meninggalkan kesan mendalam. Banyak jasa yang ditorehkan ulama yang hidup sejak prakemerdekaan hingga sekarang itu. Almarhum yang dikenal alim dalam berbagai cabang keilmuan Islam itu selalu mengajarkan kesederhanaan. Mbah Moen juga tak lelah mengajari bangsa ini pentingnya toleransi antarsesama. ‘’Kiprah beliau sangat luar biasa. Kami ingin santri meneladani ajaran-ajaran almarhum.’’ Mbah Moen juga tak pernah memaksakan kehendak. Karena umat tumbuh sesuai zamannya. Begitu pula dalam menuntut ilmu yang tidak mengenal waktu. ‘’Mau tua atau muda, tidak jadi penghalang untuk terus menuntut ilmu,’’ pungkasnya. (dil/c1/fin)

Baca Juga :  Ilham Berjuang Melawan Kelainan Kelamin sejak Lahir

Most Read

Artikel Terbaru

/