alexametrics
30.1 C
Madiun
Sunday, May 22, 2022

Plengsengan Batu Terjang Sekolah di Ponorogo

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Gedung bawah SDN 3 Temon, Ngrayun, Ponorogo, remuk diterjang longsoran plengsengan setinggi 3×14 meter. Bangunan yang tertimpa bencana itu terdiri dua ruangan dan difungsikan menjadi tiga kelas. Ketika longsor terjadi pada siang bolong Jumat lalu (3/12), siswa dan guru sudah pulang karena bersamaan ujian semester. ‘’Anak-anak pulang jam sepuluh, longsor terjadi setelah salat Jumat,’’ kata Kepala SDN 3 Temon Sucipto kemarin (6/12).

Model gedung sekolah dasar negeri itu terbagi menjadi dua bagian. Yakni, bangunan atas dan bawah. Pembatas kedua gedung berupa plengsengan dari tatanan batu belah. Bangunan bawah yang tertimpa material plengsengan. Satu dari dua ruangan yang ada sengaja disekat untuk tambahan kelas. Sucipto menyebut, ruang kelas III, IV, dan V kini tak lagi dapat dipakai karena rusak berat. ‘’Pembelajaran sekarang terpaksa dibagi sesi pagi dan siang,’’ ujarnya.

Plengsengan yang longsor itu dibangun atas swadaya masyarakat pada 2010 lalu. Setahun kemudian, menyusul membangun gedung sekolah di bagian bawah. Sucipto memerinci, satu lemari dan 35 bangku beserta kursinya ikut rusak diterjang material longsor. Sebelumnya tidak ada tanda-tanda terjadi longsor hingga kegiatan belajar-mengajar berlangsung normal. Ketika longsor menerjang, hujan juga tidak sedang turun. ‘’Kami akan menyewa rumah warga untuk dipakai kelas sementara,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Kantor Imigrasi Ponorogo Sosialisasikan Penggunaan Aplikasi M-Paspor

Sementara itu, Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko yang kemarin turun ke lokasi menilai tidak perlu relokasi. Sebab, ahli konstruksi merekomendasikan membangun ulang plengsengan dengan penulangan serta cor semen. Namun, gedung sekolah yang terdiri dua ruangan itu perlu dirobohkan total. ‘’Untuk mengurangi risiko, renovasi akan dituntaskan segera,’’ tegas Sugiri.

Dia mafhum pembelajaran tatap muka terkendala lantaran rusaknya tiga ruang kelas. Bupati menyarankan pengelola sekolah memanfaatkan ruangan yang ada di gedung bagian atas. Salah satunya, perpustakaan. ‘’Karena kondisinya memang darurat, pakai ruangan yang ada dulu,’’ pintanya. (mg7/c1/hw)

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Gedung bawah SDN 3 Temon, Ngrayun, Ponorogo, remuk diterjang longsoran plengsengan setinggi 3×14 meter. Bangunan yang tertimpa bencana itu terdiri dua ruangan dan difungsikan menjadi tiga kelas. Ketika longsor terjadi pada siang bolong Jumat lalu (3/12), siswa dan guru sudah pulang karena bersamaan ujian semester. ‘’Anak-anak pulang jam sepuluh, longsor terjadi setelah salat Jumat,’’ kata Kepala SDN 3 Temon Sucipto kemarin (6/12).

Model gedung sekolah dasar negeri itu terbagi menjadi dua bagian. Yakni, bangunan atas dan bawah. Pembatas kedua gedung berupa plengsengan dari tatanan batu belah. Bangunan bawah yang tertimpa material plengsengan. Satu dari dua ruangan yang ada sengaja disekat untuk tambahan kelas. Sucipto menyebut, ruang kelas III, IV, dan V kini tak lagi dapat dipakai karena rusak berat. ‘’Pembelajaran sekarang terpaksa dibagi sesi pagi dan siang,’’ ujarnya.

Plengsengan yang longsor itu dibangun atas swadaya masyarakat pada 2010 lalu. Setahun kemudian, menyusul membangun gedung sekolah di bagian bawah. Sucipto memerinci, satu lemari dan 35 bangku beserta kursinya ikut rusak diterjang material longsor. Sebelumnya tidak ada tanda-tanda terjadi longsor hingga kegiatan belajar-mengajar berlangsung normal. Ketika longsor menerjang, hujan juga tidak sedang turun. ‘’Kami akan menyewa rumah warga untuk dipakai kelas sementara,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Penerbangan Balon Udara Ancam Keselamatan Para Penjaga Langit

Sementara itu, Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko yang kemarin turun ke lokasi menilai tidak perlu relokasi. Sebab, ahli konstruksi merekomendasikan membangun ulang plengsengan dengan penulangan serta cor semen. Namun, gedung sekolah yang terdiri dua ruangan itu perlu dirobohkan total. ‘’Untuk mengurangi risiko, renovasi akan dituntaskan segera,’’ tegas Sugiri.

Dia mafhum pembelajaran tatap muka terkendala lantaran rusaknya tiga ruang kelas. Bupati menyarankan pengelola sekolah memanfaatkan ruangan yang ada di gedung bagian atas. Salah satunya, perpustakaan. ‘’Karena kondisinya memang darurat, pakai ruangan yang ada dulu,’’ pintanya. (mg7/c1/hw)

Most Read

Artikel Terbaru

/