alexametrics
30.8 C
Madiun
Tuesday, May 24, 2022

Kekeringan di Ponorogo Terparah Sepanjang Sejarah

PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo – Kekeringan yang melanda Bumi Reyog pada tahun lalu disebut-sebut yang terparah sepanjang sejarah. Hampir lima bulan terjadi kekeringan hebat. Pun, 10.844 jiwa harus menggantungkan dropping air bersih dari pemkab.

Pengiriman terakhir dilakukan pekan lalu. ‘’Wilayah yang mengalami kekeringan pada 2019 lalu merupakan yang terluas selama BPBD berdiri,’’ kata Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Setyo Budiono Selasa (7/1).

Budi menyebut, kekeringan pada 2019 terjadi selama hampir 10 bulan. Wilayah yang mengalami kekeringan sebanyak 41 dusun di 27 desa yang tersebar di 10 kecamatan. Sejak pengiriman pertama hingga berakhir awal Januari ini, total 2,57 juta liter air didistribusikan ke wilayah terdampak.

Jumlah itu, kata dia, belum termasuk distribusi air yang dilakukan kelompok masyarakat dan swasta. ‘’Terakhir pengiriman di Duri, Slahung. Pada 30 Desember mengajukan surat memohon suplai air, dan terus disuplai sampai awal Januari,’’ bebernya.

Baca Juga :  Khawatir Pemilih Milenial Tak Maksimal

Angka tersebut jauh melebihi prediksi awal kekeringan di Ponorogo. Mulanya BPBD memprediksi kekeringan hanya akan melanda 27 dusun di 18 desa yang  tersebar di tujuh kecamatan. ‘’Ke depan perlu ada antisipasi supaya tidak terulang,’’ ujar Budi.

Tahun ini BPBD tetap menyiagakan anggaran untuk suplai air ke desa-desa rawan terdampak kekeringan. Namun, di APBD hanya dialokasikan Rp 80 juta. Selain itu, ada bantuan dari pemprov senilai sekitar Rp 200 juta.

Budi berharap, desa tak hanya bergantung kiriman air dari pemerintah. ‘’Ada beberapa wilayah yang sudah dibangun sumur. Ini sangat penting. Setidaknya, walaupun volume air yang keluar masih sedikit, bisa mengurangi ketergantungan suplai air,’’ tandasnya. (naz/c1/isd) 

PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo – Kekeringan yang melanda Bumi Reyog pada tahun lalu disebut-sebut yang terparah sepanjang sejarah. Hampir lima bulan terjadi kekeringan hebat. Pun, 10.844 jiwa harus menggantungkan dropping air bersih dari pemkab.

Pengiriman terakhir dilakukan pekan lalu. ‘’Wilayah yang mengalami kekeringan pada 2019 lalu merupakan yang terluas selama BPBD berdiri,’’ kata Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Setyo Budiono Selasa (7/1).

Budi menyebut, kekeringan pada 2019 terjadi selama hampir 10 bulan. Wilayah yang mengalami kekeringan sebanyak 41 dusun di 27 desa yang tersebar di 10 kecamatan. Sejak pengiriman pertama hingga berakhir awal Januari ini, total 2,57 juta liter air didistribusikan ke wilayah terdampak.

Jumlah itu, kata dia, belum termasuk distribusi air yang dilakukan kelompok masyarakat dan swasta. ‘’Terakhir pengiriman di Duri, Slahung. Pada 30 Desember mengajukan surat memohon suplai air, dan terus disuplai sampai awal Januari,’’ bebernya.

Baca Juga :  Otak Diisi, Tubuh Digembleng, Hati Diasah

Angka tersebut jauh melebihi prediksi awal kekeringan di Ponorogo. Mulanya BPBD memprediksi kekeringan hanya akan melanda 27 dusun di 18 desa yang  tersebar di tujuh kecamatan. ‘’Ke depan perlu ada antisipasi supaya tidak terulang,’’ ujar Budi.

Tahun ini BPBD tetap menyiagakan anggaran untuk suplai air ke desa-desa rawan terdampak kekeringan. Namun, di APBD hanya dialokasikan Rp 80 juta. Selain itu, ada bantuan dari pemprov senilai sekitar Rp 200 juta.

Budi berharap, desa tak hanya bergantung kiriman air dari pemerintah. ‘’Ada beberapa wilayah yang sudah dibangun sumur. Ini sangat penting. Setidaknya, walaupun volume air yang keluar masih sedikit, bisa mengurangi ketergantungan suplai air,’’ tandasnya. (naz/c1/isd) 

Most Read

Artikel Terbaru

/