alexametrics
23.9 C
Madiun
Friday, May 20, 2022

Waspadai Siklus KLB Tiga Tahunan

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Ada pihak yang waswas siklus tiga tahunan terulang. Tingkat kesakitan akibat demam berdarah dengue (DBD) di Ponorogo sempat tinggi diikuti tingkat kematian hingga ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB) pada 2019 lalu. Wakil Ketua DPRD Ponorogo Dwi Agus Prayitno mendesak pemkab segera mengambil langkah strategis. ‘’Jangan sampai penanganannya terlambat sehingga terjadi KLB lagi,’’ kata Dwi, Sabtu (8/1).

Politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu merujuk data milik Dinkes Ponorogo bahwa 21 pasien terdiagnosis DBD selama pekan pertama Januari ini. Belum lagi, RSUD dr Harjono juga mencatat telah merawat 130 pasien terinfeksi virus dengue selama Desember lalu. Dwi beranggapan bahwa fogging (penyemprotan insektisida) sebagai hal yang mendesak. ‘’Fogging tetap harus jalan agar meminimalkan nyamuk berkembang biak,’’ ujarnya.

Dia meminta pemkab tak lagi memusingkan persoalan anggaran penanganan DBD. Sebab, nominalnya tak akan sebanding dengan penanggulangan pandemi Covid-19. Dwi merasa kasihan kepada masyarakat yang sedikit lega pandemi korona mereda, namun muncul lagi ancaman virus jenis lain. ‘’Dinkes juga sedang giat sosialisasi terkait pemberantasan sarang nyamuk,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Gang Gayam, Ruang Presentasi Film di Setiaris Artspace

Dwi mengungkapkan, tersedia anggaran tidak terduga senilai Rp 10 miliar di APBD 2022 untuk menangani kasus DBD jika ada lonjakan signifikan. Dia berharap tidak terulang siklus tiga tahunan wabah DBD hingga KLB terpaksa ditetapkan. ‘’Saya berharap tidak terjadi dan anggaran tidak terduga itu masih tersimpan utuh,’’ ucapnya.

Langkah terbaik, imbuh dia, masyarakat sadar pentingnya memberantas sarang nyamuk untuk mencegah serangan DBD. Setiap rumah tangga rajin menguras dan menutup rapat tempat-tempat penampungan air, serta mendaur ulang barang bekas. ‘’Jangan biarkan juga air hujan menggenang,’’ pungkasnya. (mg7/c1/hw)

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Ada pihak yang waswas siklus tiga tahunan terulang. Tingkat kesakitan akibat demam berdarah dengue (DBD) di Ponorogo sempat tinggi diikuti tingkat kematian hingga ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB) pada 2019 lalu. Wakil Ketua DPRD Ponorogo Dwi Agus Prayitno mendesak pemkab segera mengambil langkah strategis. ‘’Jangan sampai penanganannya terlambat sehingga terjadi KLB lagi,’’ kata Dwi, Sabtu (8/1).

Politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu merujuk data milik Dinkes Ponorogo bahwa 21 pasien terdiagnosis DBD selama pekan pertama Januari ini. Belum lagi, RSUD dr Harjono juga mencatat telah merawat 130 pasien terinfeksi virus dengue selama Desember lalu. Dwi beranggapan bahwa fogging (penyemprotan insektisida) sebagai hal yang mendesak. ‘’Fogging tetap harus jalan agar meminimalkan nyamuk berkembang biak,’’ ujarnya.

Dia meminta pemkab tak lagi memusingkan persoalan anggaran penanganan DBD. Sebab, nominalnya tak akan sebanding dengan penanggulangan pandemi Covid-19. Dwi merasa kasihan kepada masyarakat yang sedikit lega pandemi korona mereda, namun muncul lagi ancaman virus jenis lain. ‘’Dinkes juga sedang giat sosialisasi terkait pemberantasan sarang nyamuk,’’ tuturnya.

Baca Juga :  18 Anak di Magetan Terjangkit DBD

Dwi mengungkapkan, tersedia anggaran tidak terduga senilai Rp 10 miliar di APBD 2022 untuk menangani kasus DBD jika ada lonjakan signifikan. Dia berharap tidak terulang siklus tiga tahunan wabah DBD hingga KLB terpaksa ditetapkan. ‘’Saya berharap tidak terjadi dan anggaran tidak terduga itu masih tersimpan utuh,’’ ucapnya.

Langkah terbaik, imbuh dia, masyarakat sadar pentingnya memberantas sarang nyamuk untuk mencegah serangan DBD. Setiap rumah tangga rajin menguras dan menutup rapat tempat-tempat penampungan air, serta mendaur ulang barang bekas. ‘’Jangan biarkan juga air hujan menggenang,’’ pungkasnya. (mg7/c1/hw)

Most Read

Artikel Terbaru

/