alexametrics
28.7 C
Madiun
Sunday, May 22, 2022

Sedu Sedan Perajin Dadak Merak

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Badai pandemi korona itu belum sepenuhnya sirna. Dampaknya masih sangat dirasakan perajin reyog di Ponorogo.

Widi Wardoyo mengaku produksinya macet sejak awal pandemi Covid-19. Sejak dua tahun belakangan, dia hanya menerima satu orderan dari Palembang. ”Pekerja terpaksa dikurangi. Biasanya tiga, sekarang tinggal satu,” keluh perajin di Kelurahan Keniten, Ponorogo, itu.

Sejak merintis 15 tahun silam, baru pandemi kali ini yang benar-benar membuat usahanya limbung. Penghasilan Widi drop hingga 80 persen. Sebelum pandemi dia sanggup membukukan omzet berkisar Rp 30 juta-Rp 50 juta sebulan. ‘’Perajin yang bekerja di sini masuknya ketika ada garapan,’’ ujarnya.

Suram ekonomi itu tak dirasakan Widi seorang. Dampaknya berantai terhadap mitra usaha yang selama ini memasok bahan-bahan mentah. Mulai perajin kerangka singo barong, rengkek (kerangka dadak merak), perajin kulit lembu, hingga perajin bulu merak. ”Merekalah yang selama ini menyuplai bahan baku,” imbuh pria kelahiran 1963 itu.

Baca Juga :  Perdana di 2022, Lansia di Ponorogo Meninggal Suspek Covid-19

Untuk menyelesaikan reyog (singo barong dan dadak merak) butuh waktu sekitar sebulan. Singo barong menggunakan bahan kulit lembu yang telah disamak. Kemudian diwarna dan dilukis menyerupai corak kulit harimau. Sedangkan rambut singo barong menggunakan ekor sapi brahman dari Malang. ‘’Dadak butuh sedikitnya 1.500-an bulu merak,’’ sebutnya.

Pandemi lekas usai dan ekonomi pulih kembali menjadi doa yang paling sering dipanjatkan Widi hari-hari ini. Sebagaimana seniman reyog pada umumnya, dia pun merindukan kemeriahan pentas pertunjukan seni tradisional kebanggaan Ponorogo itu.

’’Konsumen kebanyakan dari luar kota dan ketika ada event biasanya laku keras,’’ ungkapnya. (kid/c1/fin) 

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Badai pandemi korona itu belum sepenuhnya sirna. Dampaknya masih sangat dirasakan perajin reyog di Ponorogo.

Widi Wardoyo mengaku produksinya macet sejak awal pandemi Covid-19. Sejak dua tahun belakangan, dia hanya menerima satu orderan dari Palembang. ”Pekerja terpaksa dikurangi. Biasanya tiga, sekarang tinggal satu,” keluh perajin di Kelurahan Keniten, Ponorogo, itu.

Sejak merintis 15 tahun silam, baru pandemi kali ini yang benar-benar membuat usahanya limbung. Penghasilan Widi drop hingga 80 persen. Sebelum pandemi dia sanggup membukukan omzet berkisar Rp 30 juta-Rp 50 juta sebulan. ‘’Perajin yang bekerja di sini masuknya ketika ada garapan,’’ ujarnya.

Suram ekonomi itu tak dirasakan Widi seorang. Dampaknya berantai terhadap mitra usaha yang selama ini memasok bahan-bahan mentah. Mulai perajin kerangka singo barong, rengkek (kerangka dadak merak), perajin kulit lembu, hingga perajin bulu merak. ”Merekalah yang selama ini menyuplai bahan baku,” imbuh pria kelahiran 1963 itu.

Baca Juga :  Jangan Keburu Nafsu Kelola Wisata Telaga Sarean dan Ngeblak

Untuk menyelesaikan reyog (singo barong dan dadak merak) butuh waktu sekitar sebulan. Singo barong menggunakan bahan kulit lembu yang telah disamak. Kemudian diwarna dan dilukis menyerupai corak kulit harimau. Sedangkan rambut singo barong menggunakan ekor sapi brahman dari Malang. ‘’Dadak butuh sedikitnya 1.500-an bulu merak,’’ sebutnya.

Pandemi lekas usai dan ekonomi pulih kembali menjadi doa yang paling sering dipanjatkan Widi hari-hari ini. Sebagaimana seniman reyog pada umumnya, dia pun merindukan kemeriahan pentas pertunjukan seni tradisional kebanggaan Ponorogo itu.

’’Konsumen kebanyakan dari luar kota dan ketika ada event biasanya laku keras,’’ ungkapnya. (kid/c1/fin) 

Most Read

Artikel Terbaru

/