alexametrics
25.6 C
Madiun
Friday, May 20, 2022

Gugah Rindu Gurih Serabi Kerun Ayu di Ponorogo

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Serabi Kerun Ayu tak lekang waktu. Sedari dulu, kulineran tradisional itu selalu difavoritkan. Banyak warga perantauan menyempatkan untuk klangenan rasa menikmati gurihnya olahan santan dan parutan kelapa tersebut.

Saat Lebaran, produksinya meningkat pesat. Saban hari bisa menghabiskan 40 liter adonan. Meningkat dari hari biasanya sekitar 30-35 liter per hari. Selain rasanya yang gurih, serabi ini punya ciri khas pada cara memasaknya.

Endang Tatik, generasi kelima serabi Kerun Ayu, telaten memasak. Sedari pagi dia tak beranjak dari tempat duduknya. Menghadap panci berisi adonan empat literan. Di samping kanannya terdapat lima tungku dilengkapi kereweng atau wajan berbahan tanah liat. ‘’Satu menit masak satu serabi,’’ katanya, Minggu (8/5).

Endang cekatan menciduk adonan dengan irus lalu dituangkan ke wajan kereweng. Sembari tangan kirinya memegang sudip berbahan kayu untuk mengangkat serabi yang telah matang kemudian ditiriskan di atas tampah. Tangannya telaten beralih dari satu kereweng ke kereweng lainnya. ‘’Harus masak terus. Kalau berhenti, adonannya rusak,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Dewan Anggap Penyewa Aset Daerah di Jalan Baru Langgar Perjanjian

Endang harus menghabiskan empat liter adonan tiap dua jam. Lebih dari kurun waktu itu, adonan bakal basi. Karenanya, tiap dua jam perempuan 42 tahun itu harus membuat adonan baru sebanyak empat liter. ‘’Saya buka mulai setengah dua pagi sampai jam satu siang,’’ tuturnya.

Bumbu adonan dia dapatkan dari generasi terdahulu secara turun-temurun. Ibunya, Wagiyati, merupakan generasi keempat yang berjualan sejak 1985. Endang yang meneruskan usaha keluarga ini selama 18 tahun terakhir. ‘’Generasi pertama sampai ketiga saya tidak tahu,’’ ungkapnya.

Jajanan pasar itu dibanderol Rp 1.000 per biji. Adonannya dari tepung beras, parutan kelapa, garam, air hangat, ditambah bumbu-bumbu yang diwariskan turun-temurun. Komposisi tiap bahan juga memengaruhi kelezatan serabi. Termasuk besarnya nyala api untuk memasak. ‘’Kalau apinya sedang atau kecil, serabinya tidak bisa mekar dan keras,’’ ujarnya. (kid/c1/fin)

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Serabi Kerun Ayu tak lekang waktu. Sedari dulu, kulineran tradisional itu selalu difavoritkan. Banyak warga perantauan menyempatkan untuk klangenan rasa menikmati gurihnya olahan santan dan parutan kelapa tersebut.

Saat Lebaran, produksinya meningkat pesat. Saban hari bisa menghabiskan 40 liter adonan. Meningkat dari hari biasanya sekitar 30-35 liter per hari. Selain rasanya yang gurih, serabi ini punya ciri khas pada cara memasaknya.

Endang Tatik, generasi kelima serabi Kerun Ayu, telaten memasak. Sedari pagi dia tak beranjak dari tempat duduknya. Menghadap panci berisi adonan empat literan. Di samping kanannya terdapat lima tungku dilengkapi kereweng atau wajan berbahan tanah liat. ‘’Satu menit masak satu serabi,’’ katanya, Minggu (8/5).

Endang cekatan menciduk adonan dengan irus lalu dituangkan ke wajan kereweng. Sembari tangan kirinya memegang sudip berbahan kayu untuk mengangkat serabi yang telah matang kemudian ditiriskan di atas tampah. Tangannya telaten beralih dari satu kereweng ke kereweng lainnya. ‘’Harus masak terus. Kalau berhenti, adonannya rusak,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Tradisi Reogan Dilanjutkan Pasca-Lebaran

Endang harus menghabiskan empat liter adonan tiap dua jam. Lebih dari kurun waktu itu, adonan bakal basi. Karenanya, tiap dua jam perempuan 42 tahun itu harus membuat adonan baru sebanyak empat liter. ‘’Saya buka mulai setengah dua pagi sampai jam satu siang,’’ tuturnya.

Bumbu adonan dia dapatkan dari generasi terdahulu secara turun-temurun. Ibunya, Wagiyati, merupakan generasi keempat yang berjualan sejak 1985. Endang yang meneruskan usaha keluarga ini selama 18 tahun terakhir. ‘’Generasi pertama sampai ketiga saya tidak tahu,’’ ungkapnya.

Jajanan pasar itu dibanderol Rp 1.000 per biji. Adonannya dari tepung beras, parutan kelapa, garam, air hangat, ditambah bumbu-bumbu yang diwariskan turun-temurun. Komposisi tiap bahan juga memengaruhi kelezatan serabi. Termasuk besarnya nyala api untuk memasak. ‘’Kalau apinya sedang atau kecil, serabinya tidak bisa mekar dan keras,’’ ujarnya. (kid/c1/fin)

Most Read

Artikel Terbaru

/