alexametrics
29.2 C
Madiun
Tuesday, May 17, 2022

Bocah 12 Tahun Jadi Pemulung agar Bisa Sekolah dan Menyambung Hidup

Exel Aditya Putra baru berusia 12 tahun. Selepas orang tuanya bercerai, dia dan tiga saudaranya bertahan hidup bersama kakek-neneknya. Anak kedua dari empat bersaudara itu memulung setiap pulang sekolah. Untuk menyambung hidup, bersekolah, dan menafkahi kedua adiknya yang masih kecil.

======================

MIZAN AHSANI, Ponorogo, Jawa Pos Radar Ponorogo

RONGSOKAN berserakan di teras rumah Suraji dan Surip. Rumah itu berada di tengah kompleks pemakaman Ki Ageng Jati Sulur, Purbosuman. Exel Aditya Putra, satu dari empat cucu sepasang kakek-nenek itu.

Saat Jawa Pos Radar Ponorogo berkunjung Rabu (8/1), Exel baru saja pulang sekolah dari SDN Kepatihan. Sekitar pukul 12.30 itu, Exel bergegas masuk ke rumah dan berganti baju lalu menemui koran ini di teras. Bajunya compang-camping, celananya robek. Exel ngobrol sembari menata botol-botol bekas yang didapatnya dari memulung semalam. ‘’Nggak tahu,’’ jawab Exel saat ditanya soal hobinya.

Exel juga tidak punya cita-cita. Di saat bocah seumurannya melakukan apa yang mereka suka, tidak dengan Exel. Sepulang sekolah dia bergegas memulung. Rutinitas itu dia lakukan sejak Agustus tahun lalu. Exel saat ini duduk di bangku kelas IV SD. Seharusnya dia kelas VI, namun sempat putus sekolah dua tahun. ‘’Hasil dari memulung untuk sekolah dan jajan adik-adik,’’ ujarnya.

Di rumah kakek-neneknya, Exel seatap bersama sang kakak Kailila Nisa Ayu Sasmita, 15, serta kedua adik yang masih kecil. Yakni, Dea Angelita Putri, 8, dan Deeva Afsan Misya, 4. Deeva, si bungsu, dekat dengan Exel. Selalu menghampiri kakaknya setiap berada di rumah. Ke sana ke mari menenteng botol dot yang isinya bukan susu, melainkan minuman sari buah sachet-an. ‘’Uang dari memulung ini juga untuk beli es Deeva,’’ kata Exel.

Baca Juga :  Tak Kenal Maka Tak Kebal Bukan Sekadar Jargon

Exel menceritakan kesehariannya. Setiap pulang sekolah, Exel beristirahat sejenak. Kalau tidak malas, Exel mulai berangkat memulung sekitar pukul 13.00. Kalau malas, baru berangkat pukul 15.00. Dengan berjalan kaki dan membawa karung, Exel mulai menyusuri lingkungan sekitar rumah dan jalan protokol. Tidak peduli panas atau hujan. ‘’Kadang sampai alun-alun. Pulangnya malam,’’ ungkapnya.

Dari memulung, biasanya Exel mendapat Rp 3.000 hingga Rp 10 ribu. Yang paling laku, kata dia, adalah sampah botol-botol plastik. Hasil memulung dia jual di Sinduro. Exel mengaku tidak punya pilihan lain karena tidak ada lagi yang bisa diandalkan untuk menafkahi keluarga. Sang kakak yang kelas IX SMP juga nyambi bekerja. ‘’Bapak ibu sudah tidak di rumah,’’ sebut Exel.

Surip, neneknya, tak kuasa mencegah Exel memulung. Sebab, dia dan Suraji juga tidak punya jalan keluar dari impitan ekonomi selama ini. Surip menyebut, kedua orang tua Exel sudah bercerai dua tahun lalu. Sang bapak pergi ke Kalimantan. Sedangkan ibunya, tiga bulan lalu pergi ke Situbondo. ‘’Ibunya sebelumnya tidak ada pekerjaan. Dulu bapaknya masih mengirimi sebulan sekali. Tapi semenjak bercerai sudah tidak,’’ jelas Surip.

Rumah yang ditinggali selama ini adalah rumah Surip dan Suraji. Di tengah kompleks makam yang dikeramatkan warga. Kemarin beberapa komunitas tergerak memberi bantuan kepada keluarga Exel. Pasalnya, beberapa hari terakhir foto Exel yang memulung saat hujan di larut malam viral di media sosial setelah diunggah salah seorang warganet. Surip hanya bisa pasrah dengan keadaan. ‘’Ibunya janji, kalau suatu saat sudah ada pemasukan akan mengirimi untuk biaya hidup. Kami sudah tua, tidak bisa apa-apa,’’ ucapnya. *** (fin/c1)

Exel Aditya Putra baru berusia 12 tahun. Selepas orang tuanya bercerai, dia dan tiga saudaranya bertahan hidup bersama kakek-neneknya. Anak kedua dari empat bersaudara itu memulung setiap pulang sekolah. Untuk menyambung hidup, bersekolah, dan menafkahi kedua adiknya yang masih kecil.

======================

MIZAN AHSANI, Ponorogo, Jawa Pos Radar Ponorogo

RONGSOKAN berserakan di teras rumah Suraji dan Surip. Rumah itu berada di tengah kompleks pemakaman Ki Ageng Jati Sulur, Purbosuman. Exel Aditya Putra, satu dari empat cucu sepasang kakek-nenek itu.

Saat Jawa Pos Radar Ponorogo berkunjung Rabu (8/1), Exel baru saja pulang sekolah dari SDN Kepatihan. Sekitar pukul 12.30 itu, Exel bergegas masuk ke rumah dan berganti baju lalu menemui koran ini di teras. Bajunya compang-camping, celananya robek. Exel ngobrol sembari menata botol-botol bekas yang didapatnya dari memulung semalam. ‘’Nggak tahu,’’ jawab Exel saat ditanya soal hobinya.

Exel juga tidak punya cita-cita. Di saat bocah seumurannya melakukan apa yang mereka suka, tidak dengan Exel. Sepulang sekolah dia bergegas memulung. Rutinitas itu dia lakukan sejak Agustus tahun lalu. Exel saat ini duduk di bangku kelas IV SD. Seharusnya dia kelas VI, namun sempat putus sekolah dua tahun. ‘’Hasil dari memulung untuk sekolah dan jajan adik-adik,’’ ujarnya.

Di rumah kakek-neneknya, Exel seatap bersama sang kakak Kailila Nisa Ayu Sasmita, 15, serta kedua adik yang masih kecil. Yakni, Dea Angelita Putri, 8, dan Deeva Afsan Misya, 4. Deeva, si bungsu, dekat dengan Exel. Selalu menghampiri kakaknya setiap berada di rumah. Ke sana ke mari menenteng botol dot yang isinya bukan susu, melainkan minuman sari buah sachet-an. ‘’Uang dari memulung ini juga untuk beli es Deeva,’’ kata Exel.

Baca Juga :  Meri Reyog, Jaranan Thek Ngebet Pentas

Exel menceritakan kesehariannya. Setiap pulang sekolah, Exel beristirahat sejenak. Kalau tidak malas, Exel mulai berangkat memulung sekitar pukul 13.00. Kalau malas, baru berangkat pukul 15.00. Dengan berjalan kaki dan membawa karung, Exel mulai menyusuri lingkungan sekitar rumah dan jalan protokol. Tidak peduli panas atau hujan. ‘’Kadang sampai alun-alun. Pulangnya malam,’’ ungkapnya.

Dari memulung, biasanya Exel mendapat Rp 3.000 hingga Rp 10 ribu. Yang paling laku, kata dia, adalah sampah botol-botol plastik. Hasil memulung dia jual di Sinduro. Exel mengaku tidak punya pilihan lain karena tidak ada lagi yang bisa diandalkan untuk menafkahi keluarga. Sang kakak yang kelas IX SMP juga nyambi bekerja. ‘’Bapak ibu sudah tidak di rumah,’’ sebut Exel.

Surip, neneknya, tak kuasa mencegah Exel memulung. Sebab, dia dan Suraji juga tidak punya jalan keluar dari impitan ekonomi selama ini. Surip menyebut, kedua orang tua Exel sudah bercerai dua tahun lalu. Sang bapak pergi ke Kalimantan. Sedangkan ibunya, tiga bulan lalu pergi ke Situbondo. ‘’Ibunya sebelumnya tidak ada pekerjaan. Dulu bapaknya masih mengirimi sebulan sekali. Tapi semenjak bercerai sudah tidak,’’ jelas Surip.

Rumah yang ditinggali selama ini adalah rumah Surip dan Suraji. Di tengah kompleks makam yang dikeramatkan warga. Kemarin beberapa komunitas tergerak memberi bantuan kepada keluarga Exel. Pasalnya, beberapa hari terakhir foto Exel yang memulung saat hujan di larut malam viral di media sosial setelah diunggah salah seorang warganet. Surip hanya bisa pasrah dengan keadaan. ‘’Ibunya janji, kalau suatu saat sudah ada pemasukan akan mengirimi untuk biaya hidup. Kami sudah tua, tidak bisa apa-apa,’’ ucapnya. *** (fin/c1)

Most Read

Artikel Terbaru

/