alexametrics
27.8 C
Madiun
Monday, May 23, 2022

Kalah dengan Jamu, Reyog Urutan Kedua yang Diusulkan ke UNESCO

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Kemendikbudristek ternyata hanya menempatkan reyog pada urutan kedua sebagai nominasi tunggal yang didaftarkan ke intangible cultural heritage (ICH) The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).

‘’Beberapa jam lalu tim pengusul diundang Dirjen Perlindungan Kebudayaan bahwa Kemendikbudristek mengutamakan jamu,’’ kata Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko, Jumat (8/4) malam.

Kang Giri –sapaan bupati— mengaku nelangsa dengan keputusan tersebut. Mengingat perjuangan seniman untuk mengantarkan reyog agar diakui dunia sangat panjang. Tim asistensi turut mengadakan penelitian dan survei ke berbagai daerah. Mulai Jabodetabek, Metro Lampung, Solo, dan Ponorogo. ‘’Memandang koorporasi jamu, kami tidak merendahkan nominasi itu. Tapi dampak pandemi terhadap reyog ini sangat terasa. Jujur kami nelangsa,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Dianggarkan Rp 2 M, Pemkab Ponorogo Bakal Bangun Sirkuit Tahun 2022

Sejatinya, Kang Giri tidak rela jika reyog disandingkan dengan jamu. Sebab, dua entitas itu berbeda. Apalagi Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) telah menyatakan reyog memenuhi syarat lengkap untuk diusulkan ke ICH Unesco. ‘’Tapi Mas Menteri (Nadiem Makarim) justru memilih jamu. Berbagai elemen mendesak kami agar pusat meninjau ulang,’’ tegasnya.

Di saat bersamaan, muncul rumor Malaysia juga mengklaim reyog dan sedang mendaftarkannya ke ICH Unesco. Kesempatan mendapat pengakuan dunia ini tidak datang dua kali dalam waktu dekat. Indonesia bakal kehilangan reyog sebagai warisan tradisi asli untuk selama-lamanya. (kid/fin/her)

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Kemendikbudristek ternyata hanya menempatkan reyog pada urutan kedua sebagai nominasi tunggal yang didaftarkan ke intangible cultural heritage (ICH) The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).

‘’Beberapa jam lalu tim pengusul diundang Dirjen Perlindungan Kebudayaan bahwa Kemendikbudristek mengutamakan jamu,’’ kata Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko, Jumat (8/4) malam.

Kang Giri –sapaan bupati— mengaku nelangsa dengan keputusan tersebut. Mengingat perjuangan seniman untuk mengantarkan reyog agar diakui dunia sangat panjang. Tim asistensi turut mengadakan penelitian dan survei ke berbagai daerah. Mulai Jabodetabek, Metro Lampung, Solo, dan Ponorogo. ‘’Memandang koorporasi jamu, kami tidak merendahkan nominasi itu. Tapi dampak pandemi terhadap reyog ini sangat terasa. Jujur kami nelangsa,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  47 Pelamar Ikut Lelang JPTP Pemkab Ponorogo

Sejatinya, Kang Giri tidak rela jika reyog disandingkan dengan jamu. Sebab, dua entitas itu berbeda. Apalagi Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) telah menyatakan reyog memenuhi syarat lengkap untuk diusulkan ke ICH Unesco. ‘’Tapi Mas Menteri (Nadiem Makarim) justru memilih jamu. Berbagai elemen mendesak kami agar pusat meninjau ulang,’’ tegasnya.

Di saat bersamaan, muncul rumor Malaysia juga mengklaim reyog dan sedang mendaftarkannya ke ICH Unesco. Kesempatan mendapat pengakuan dunia ini tidak datang dua kali dalam waktu dekat. Indonesia bakal kehilangan reyog sebagai warisan tradisi asli untuk selama-lamanya. (kid/fin/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/