alexametrics
25 C
Madiun
Monday, September 26, 2022

Siswa Korea Selatan Ingin Belajar Menulis Hanacaraka

Aksara Adiwarna, Geliat Literasi Bahasa Jawa di Kesugihan

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Jangan sampai orang Jawa kehilangan ’’Jawa’’-nya. Era disrupsi informasi ini menjadi tantangan tersendiri dalam pelestarian aksara Jawa. Apalagi, pembelajarannya selama ini sebatas di kelas. Pemerintah Desa (Pemdes) Kesugihan membumikan penulisan hanacaraka lewat Aksara Adiwarna.

—————————————-

PULUHAN anak dengan cerianya berkumpul di Taman Sekar Wilis, Desa Kesugihan, Pulung. Mereka tampak sibuk melukis dengan cat air. Satu anak menuliskan satu aksara Jawa di atas kertas berukuran A4. Begitu selesai, kertas direkatkan di atas stirofoam.

Seketika huruf itu membentuk rangkaian kalimat. Sekar Wilis (nama taman wisata keluarga di Kesugihan), Mangesti manunggaling rasa Kesugihan (bertekad kuat dalam menyatukan rasa antarmasyarakat Desa Kesugihan), Ngunduh wohing pakarti (memetik buah akibat perbuatan), Memayu hayuning pribadi (berbuat baik bagi diri sendiri), Memayu hayuning kulawarga (berbuat baik bagi keluarga), Memayu hayuning sesama (berbuat baik bagi sesama manusia dan makhluk hidup), Memayu hayuning bawana (berbuat baik bagi seluruh dunia).

Ya, kegiatan positif bertajuk Aksara Adiwarna itu untuk mengenalkan aksara Jawa pada generasi muda. Tak kurang dari 50-an anak turut serta dalam giat literasi yang digagas mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Ponorogo dan pemdes setempat. Ke depan, kegiatan serupa menjadi rutinitas di Sanggraloka Sekar Wilis.

Baca Juga :  Pedagang Tidak Sudi Jual Rugi Minyak Goreng

Gerakan ini berawal dari keprihatinan semakin meredupnya budaya Jawa. Pasalnya, pada 1922 silam, berbagai kearifan lokal getol diwariskan generasi muda di desa setempat. Mulai dari aksara Jawa, gamelan, etika, hingga berbagai kearifan lokal lainnya. Hal itu menjadi fokus pembahasan mahasiswa sejak 2019.

Hingga akhirnya membantu desa setempat menghidupkan kembali pembelajaran yang sudah mulai ditinggalkan tersebut. ‘’Selama ini desa masih bekerja sama dengan Purwo Ayu Mardi Utomo dalam pembelajaran,’’ kata Kepala Desa Kesugihan Sugeng Riyanto.

Puncaknya, Aksara Adiwarna yang digelar Minggu (7/8) kemarin. Kegiatan perdana itu sekaligus menjadi embrio dihidupkannya kembali pembelajaran serupa. Pembelajaran aksara Jawa digelar setiap Rabu Pon.

Tidak hanya belajar penulisan dan cara membaca, tapi juga makna dari aksara Jawa itu sendiri. Selain itu, ada latihan gamelan dua kali dalam sepekan. ‘’Antusiasmenya cukup bagus mengingat ini giat perdana. Diikuti siswa SD 1 dan 2 Kesugihan serta SMPN 2 Pulung,’’ lanjutnya.

Acara tersebut rupanya juga didengar sampai mancanegara. Kabarnya, siswa dari Korea Selatan bakal berkunjung untuk mempelajari aksara Jawa dalam waktu dekat. Dinas Pendidikan (Dindik) Ponorogo turut memberikan apresiasi. ‘’Kami berharap kegiatan positif ini dapat menjadi teladan bagi desa lainnya,’’ kata Kabid Pembinaan SD Dindik Ponorogo Edy Suprianto. *** (mg2/kid/c1)

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Jangan sampai orang Jawa kehilangan ’’Jawa’’-nya. Era disrupsi informasi ini menjadi tantangan tersendiri dalam pelestarian aksara Jawa. Apalagi, pembelajarannya selama ini sebatas di kelas. Pemerintah Desa (Pemdes) Kesugihan membumikan penulisan hanacaraka lewat Aksara Adiwarna.

—————————————-

PULUHAN anak dengan cerianya berkumpul di Taman Sekar Wilis, Desa Kesugihan, Pulung. Mereka tampak sibuk melukis dengan cat air. Satu anak menuliskan satu aksara Jawa di atas kertas berukuran A4. Begitu selesai, kertas direkatkan di atas stirofoam.

Seketika huruf itu membentuk rangkaian kalimat. Sekar Wilis (nama taman wisata keluarga di Kesugihan), Mangesti manunggaling rasa Kesugihan (bertekad kuat dalam menyatukan rasa antarmasyarakat Desa Kesugihan), Ngunduh wohing pakarti (memetik buah akibat perbuatan), Memayu hayuning pribadi (berbuat baik bagi diri sendiri), Memayu hayuning kulawarga (berbuat baik bagi keluarga), Memayu hayuning sesama (berbuat baik bagi sesama manusia dan makhluk hidup), Memayu hayuning bawana (berbuat baik bagi seluruh dunia).

Ya, kegiatan positif bertajuk Aksara Adiwarna itu untuk mengenalkan aksara Jawa pada generasi muda. Tak kurang dari 50-an anak turut serta dalam giat literasi yang digagas mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Ponorogo dan pemdes setempat. Ke depan, kegiatan serupa menjadi rutinitas di Sanggraloka Sekar Wilis.

Baca Juga :  Face-Off Jalan Jenderal Sudirman-Urip Sumoharjo Ponorogo Dilengkapi Biopori

Gerakan ini berawal dari keprihatinan semakin meredupnya budaya Jawa. Pasalnya, pada 1922 silam, berbagai kearifan lokal getol diwariskan generasi muda di desa setempat. Mulai dari aksara Jawa, gamelan, etika, hingga berbagai kearifan lokal lainnya. Hal itu menjadi fokus pembahasan mahasiswa sejak 2019.

Hingga akhirnya membantu desa setempat menghidupkan kembali pembelajaran yang sudah mulai ditinggalkan tersebut. ‘’Selama ini desa masih bekerja sama dengan Purwo Ayu Mardi Utomo dalam pembelajaran,’’ kata Kepala Desa Kesugihan Sugeng Riyanto.

Puncaknya, Aksara Adiwarna yang digelar Minggu (7/8) kemarin. Kegiatan perdana itu sekaligus menjadi embrio dihidupkannya kembali pembelajaran serupa. Pembelajaran aksara Jawa digelar setiap Rabu Pon.

Tidak hanya belajar penulisan dan cara membaca, tapi juga makna dari aksara Jawa itu sendiri. Selain itu, ada latihan gamelan dua kali dalam sepekan. ‘’Antusiasmenya cukup bagus mengingat ini giat perdana. Diikuti siswa SD 1 dan 2 Kesugihan serta SMPN 2 Pulung,’’ lanjutnya.

Acara tersebut rupanya juga didengar sampai mancanegara. Kabarnya, siswa dari Korea Selatan bakal berkunjung untuk mempelajari aksara Jawa dalam waktu dekat. Dinas Pendidikan (Dindik) Ponorogo turut memberikan apresiasi. ‘’Kami berharap kegiatan positif ini dapat menjadi teladan bagi desa lainnya,’’ kata Kabid Pembinaan SD Dindik Ponorogo Edy Suprianto. *** (mg2/kid/c1)

Most Read

Artikel Terbaru

/