alexametrics
31 C
Madiun
Wednesday, May 25, 2022

15 Pekerja Migran Tinggal Nama, Anak Ditanggung Beasiswa hingga Sarjana

PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo – 15 pekerja migran Indonesia (PMI) asal Bumi Reyog tutup usia di luar negeri. Catatan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Ponorogo sepanjang 2019 itu diklaim turun dari 2018 sebanyak 17 PMI. ‘’Semuanya sudah kami pulangkan ke Ponorogo,’’ kata Kepala Disnaker Ponorogo Bediyanto Kamis (9/1).

Pejabat yang akrab disapa Ibed itu memerinci, PMI terakhir yang meninggal di luar negeri adalah Endang Sulastri. Warga Suru, Sooko, itu tutup usia pada 23 Agustus lalu di Hongkong dan baru dipulangkan 4 September. ‘’Proses pemulangan tidak cepat karena ada proses-proses hukum di negara tempat bekerja yang harus dipatuhi,’’ terangnya.

Selain pemulangan, disnaker juga memfasilitasi pemenuhan hak bagi ahli waris. Para PMI yang prosedural alis legal umumnya dibekali BPJS Ketenagakerjaan. Jaminan kematian sebesar Rp 87 juta. Anak juga ditanggung beasiswa hingga sarjana. Persoalannya, ada sebagian PMI yang tidak mencantumkan ahli waris yang jelas. ‘’Ada yang harus disidangkan di pengadilan karena tidak ada ahli waris. Padahal punya anak. Yang seperti ini bukan kesalahan kami,’’ kelit Ibed.

Baca Juga :  Ketika Anak-Anak di Madiun Raya Mengidap Kanker Darah

Data terbaru yang dimiliki Ibed, jumlah PMI aktif yang bekerja di luar negeri mencapai 40 ribu jiwa. Didominasi kaum perempuan. Angka tersebut relatif besar untuk ukuran daerah di Jatim. Diakui Ibed, angka itu bisa lebih besar lagi jika PMI nonprosedural alias ilegal ikut tercatat. Namun, karena berangkatnya tanpa sepengetahuan pemerintah, otomatis tidak ada pengawasan. ‘’Tapi, kami tetap proses pemulangannya, baik prosedural maupun tidak. Karena mereka tetap berstatus PMI,’’ pungkasnya. (naz/c1/fin)

PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo – 15 pekerja migran Indonesia (PMI) asal Bumi Reyog tutup usia di luar negeri. Catatan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Ponorogo sepanjang 2019 itu diklaim turun dari 2018 sebanyak 17 PMI. ‘’Semuanya sudah kami pulangkan ke Ponorogo,’’ kata Kepala Disnaker Ponorogo Bediyanto Kamis (9/1).

Pejabat yang akrab disapa Ibed itu memerinci, PMI terakhir yang meninggal di luar negeri adalah Endang Sulastri. Warga Suru, Sooko, itu tutup usia pada 23 Agustus lalu di Hongkong dan baru dipulangkan 4 September. ‘’Proses pemulangan tidak cepat karena ada proses-proses hukum di negara tempat bekerja yang harus dipatuhi,’’ terangnya.

Selain pemulangan, disnaker juga memfasilitasi pemenuhan hak bagi ahli waris. Para PMI yang prosedural alis legal umumnya dibekali BPJS Ketenagakerjaan. Jaminan kematian sebesar Rp 87 juta. Anak juga ditanggung beasiswa hingga sarjana. Persoalannya, ada sebagian PMI yang tidak mencantumkan ahli waris yang jelas. ‘’Ada yang harus disidangkan di pengadilan karena tidak ada ahli waris. Padahal punya anak. Yang seperti ini bukan kesalahan kami,’’ kelit Ibed.

Baca Juga :  Pria Asal Ponorogo Bunuh Diri Tenggak Racun di Puncak Gunung

Data terbaru yang dimiliki Ibed, jumlah PMI aktif yang bekerja di luar negeri mencapai 40 ribu jiwa. Didominasi kaum perempuan. Angka tersebut relatif besar untuk ukuran daerah di Jatim. Diakui Ibed, angka itu bisa lebih besar lagi jika PMI nonprosedural alias ilegal ikut tercatat. Namun, karena berangkatnya tanpa sepengetahuan pemerintah, otomatis tidak ada pengawasan. ‘’Tapi, kami tetap proses pemulangannya, baik prosedural maupun tidak. Karena mereka tetap berstatus PMI,’’ pungkasnya. (naz/c1/fin)

Most Read

Artikel Terbaru

/