alexametrics
24 C
Madiun
Wednesday, May 18, 2022

Kisah Arimbi Sari dan Putri Vinata, Narapidana yang Menyesal Kenal Narkoba

Tinggal di hutan prodeo membuat pandangan hidup dua narapidana narkoba ini banyak berubah. Salah satunya keluarga sebagai harta paling berharga. Berikut kisah Arimbi Sari dan Putri Vinata kala ditemui di Rutan Ponorogo.

=================== 

DILA RAHMATIKA, Kota, Jawa Pos Radar Ponorogo

MATA Arimbi Sari berkaca-kaca kala menceritakan kenangan liburan bersama keluarga. Seperti momen menahan hawa dingin pegunungan dan bersentuhan pasir pantai. Kehangatan semacam itu sudah dua tahun tidak dirasakan akibat mendekam di balik jeruji besi. ‘’Kangen diomelin mama,’’ kata Arimbi.

Gadis asal Surabaya itu merupakan narapidana (napi) kasus narkoba dengan vonis penjara lima tahun. Maret lalu, Arimbi dipindah ke Bumi Reyog ketika hukumannya sudah dijalani dua tahun. Dia berharap bisa bebas secara bersyarat tahun depan. Lalu meluangkan waktu lebih banyak bersama keluarga. ‘’Karena selama di sini (penjara, Red) waktu berkumpul banyak terbuang,’’ ujarnya.

Arimbi masih ingat untuk kali pertama melihat ayahnya menangis. Hatinya ikut hancur. Momen tersebut terjadi ketika dirinya masuk penjara. Padahal selama ini sang ayah dikenal sebagai sosok yang cuek. Kesibukan bekerja membuat keduanya jarang bertemu. ‘’Saya berbuat apa saja dibolehkan. Saya didukung oleh materi, tapi melampaui batas,’’ tutur gadis 21 tahun itu.

Ketika di hotel prodeo, pandangan Arimbi terhadap sosok ayahnya ternyata salah. Di balik sifat cuek terdapat perhatian besar. Ayah ibunya rajin membesuk. Sampai akhirnya terlibat obrolan yang mengetuk mata batinnya. Kalimat tersebut masih membekas di memori ingatannya. ‘’Ini semua kesalahan orang tua, bukan kamu. Maafkan kami, nggak bisa bikin kamu senang. Akhirnya jadi kayak gini. Kurang dekat dan tidak memperhatikan kamu,’’ ucap Arimbi menirukan perkataan orang tuanya kala itu.

Arimbi menyukai musik. Ketika SMP pernah mengikuti les. Dia akhirnya membentuk sebuah band bersama temannya. Grupnya bahkan diundang main event musik indi. Sejak itu pergaulannya meluas. Suka pulang malam hingga akhirnya mengenal narkoba. ‘’Mama sekarang tidak mengizinkan ngeband. Ya gara-gara itu jadi kena masalah,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Melaju Kencang, Nyawa Pemotor Melayang

Selain ingin menambah quality time dengan orang tua, Arimbi juga ingin menggali potensi diri. Angan-angannya adalah menjadi YouTuber, selebgram, atau lainnya. Terpenting kegiatannya positif dan tanpa narkoba. Teman-temannya diharapkan tidak masuk dalam lubang yang sama dengannya. Berhati-hati dalam berteman. Sebab, ketika jatuh, bukan teman yang lebih dulu memberikan support. ‘’Dalam keadaan seperti ini, yang selalu ada hanya keluarga. Mereka memberikan harapan dan dukungan moral,’’ bebernya.

Apa yang disampaikan Arimbi itu diamini Putri Vinata, napi lain di rutan. Bila dipersentasekan, kehadiran teman kala terpuruk hanya 20 persen. ‘’Yang betul-betul peduli dan berempati,’’ sebut perempuan 30 tahun itu.

Sebelum dipenjara karena kasus sabu-sabu (SS), Putri seorang penyanyi di Surabaya. Obat terlarang itu dikonsumsi karena dia ingin kurus. Sebab, tubuhnya sering dicap gendut hingga di-bully orang terdekat. Setelah mengonsumsi, berat badannya turun dari 50 kilogram menjadi 45 kilogram. ‘’Saya jadi ketagihan. Setiap naik satu ons sudah bingung dan konsumi lagi (SS),’’ ujar penerima vonis hukuman lima tahun yang tidak lama lagi bebas itu.

Selama menjalani hukuman, Putri tiga kali pindah tempat penahanan. Kali pertama di Lapas Kelas I Surabaya yang membuatnya mengenal Arimbi. Lalu dipindah ke Rutan Malang. Sebelum akhirnya dilayar ke Ponorogo, April lalu. Dia senang dipertemukan kembali dengan Arimbi. ‘’Ketika bebas saya akan tetap ingat dan mengunjungi teman-teman lainnya (napi, Red),’’ tuturnya. ***(cor/c1)

Tinggal di hutan prodeo membuat pandangan hidup dua narapidana narkoba ini banyak berubah. Salah satunya keluarga sebagai harta paling berharga. Berikut kisah Arimbi Sari dan Putri Vinata kala ditemui di Rutan Ponorogo.

=================== 

DILA RAHMATIKA, Kota, Jawa Pos Radar Ponorogo

MATA Arimbi Sari berkaca-kaca kala menceritakan kenangan liburan bersama keluarga. Seperti momen menahan hawa dingin pegunungan dan bersentuhan pasir pantai. Kehangatan semacam itu sudah dua tahun tidak dirasakan akibat mendekam di balik jeruji besi. ‘’Kangen diomelin mama,’’ kata Arimbi.

Gadis asal Surabaya itu merupakan narapidana (napi) kasus narkoba dengan vonis penjara lima tahun. Maret lalu, Arimbi dipindah ke Bumi Reyog ketika hukumannya sudah dijalani dua tahun. Dia berharap bisa bebas secara bersyarat tahun depan. Lalu meluangkan waktu lebih banyak bersama keluarga. ‘’Karena selama di sini (penjara, Red) waktu berkumpul banyak terbuang,’’ ujarnya.

Arimbi masih ingat untuk kali pertama melihat ayahnya menangis. Hatinya ikut hancur. Momen tersebut terjadi ketika dirinya masuk penjara. Padahal selama ini sang ayah dikenal sebagai sosok yang cuek. Kesibukan bekerja membuat keduanya jarang bertemu. ‘’Saya berbuat apa saja dibolehkan. Saya didukung oleh materi, tapi melampaui batas,’’ tutur gadis 21 tahun itu.

Ketika di hotel prodeo, pandangan Arimbi terhadap sosok ayahnya ternyata salah. Di balik sifat cuek terdapat perhatian besar. Ayah ibunya rajin membesuk. Sampai akhirnya terlibat obrolan yang mengetuk mata batinnya. Kalimat tersebut masih membekas di memori ingatannya. ‘’Ini semua kesalahan orang tua, bukan kamu. Maafkan kami, nggak bisa bikin kamu senang. Akhirnya jadi kayak gini. Kurang dekat dan tidak memperhatikan kamu,’’ ucap Arimbi menirukan perkataan orang tuanya kala itu.

Arimbi menyukai musik. Ketika SMP pernah mengikuti les. Dia akhirnya membentuk sebuah band bersama temannya. Grupnya bahkan diundang main event musik indi. Sejak itu pergaulannya meluas. Suka pulang malam hingga akhirnya mengenal narkoba. ‘’Mama sekarang tidak mengizinkan ngeband. Ya gara-gara itu jadi kena masalah,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Keuletan Sukesiana Menyulap Koran Bekas Menjadi Kerajinan Bernilai Jual

Selain ingin menambah quality time dengan orang tua, Arimbi juga ingin menggali potensi diri. Angan-angannya adalah menjadi YouTuber, selebgram, atau lainnya. Terpenting kegiatannya positif dan tanpa narkoba. Teman-temannya diharapkan tidak masuk dalam lubang yang sama dengannya. Berhati-hati dalam berteman. Sebab, ketika jatuh, bukan teman yang lebih dulu memberikan support. ‘’Dalam keadaan seperti ini, yang selalu ada hanya keluarga. Mereka memberikan harapan dan dukungan moral,’’ bebernya.

Apa yang disampaikan Arimbi itu diamini Putri Vinata, napi lain di rutan. Bila dipersentasekan, kehadiran teman kala terpuruk hanya 20 persen. ‘’Yang betul-betul peduli dan berempati,’’ sebut perempuan 30 tahun itu.

Sebelum dipenjara karena kasus sabu-sabu (SS), Putri seorang penyanyi di Surabaya. Obat terlarang itu dikonsumsi karena dia ingin kurus. Sebab, tubuhnya sering dicap gendut hingga di-bully orang terdekat. Setelah mengonsumsi, berat badannya turun dari 50 kilogram menjadi 45 kilogram. ‘’Saya jadi ketagihan. Setiap naik satu ons sudah bingung dan konsumi lagi (SS),’’ ujar penerima vonis hukuman lima tahun yang tidak lama lagi bebas itu.

Selama menjalani hukuman, Putri tiga kali pindah tempat penahanan. Kali pertama di Lapas Kelas I Surabaya yang membuatnya mengenal Arimbi. Lalu dipindah ke Rutan Malang. Sebelum akhirnya dilayar ke Ponorogo, April lalu. Dia senang dipertemukan kembali dengan Arimbi. ‘’Ketika bebas saya akan tetap ingat dan mengunjungi teman-teman lainnya (napi, Red),’’ tuturnya. ***(cor/c1)

Most Read

Artikel Terbaru

/