alexametrics
33.7 C
Madiun
Thursday, September 29, 2022

Tari Keling, Representasikan Kehidupan Suku Pertama di Ponorogo

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Tari keling eksis sampai kini. Seni tari dari Dusun Mojo, Desa Singgahan, Kecamatan Pulung, itu terwariskan turun-temurun. Selain unik, asal-usul tarian ini sampai sekarang masih menjadi misteri.

Warga meyakini bahwa tarian ini dibawakan Suku Keling. Kendati minim referensi, warga setempat tansah eling (selalu ingat) dan melestarikan tarian purba tersebut. Suku Keling identik dengan kulitnya yang hitam. ‘’Katanya mbah-mbah buyut, Keling merupakan suku pertama di Ponorogo,’’ kata Wiyoto yang juga generasi keempat penerus tari keling.

Hanya ada satu grup tari keling di kabupaten ini. Pun hanya dapat dimainkan oleh warga Dusun Mojo. Tarian ini dibawakan 35 penari dengan berbagai peran. Meliputi prajurit, pujangga, abdi tua atau emban, serta penggembira kerajaan. ’’Dari dulu sampai sekarang gerakannya ya begitu, tidak berubah. Tidak bisa dikolaborasikan dengan kesenian lain,’’ lanjutnya.

Keunikan tari keling terletak pada kostum yang dikenakan prajurit. Mereka mengolesi sekujur tubuhnya dengan campuran minyak goreng (migor) curah dan langes (warna hitam di luar panci). Kemudian memakai mahkota berbahan bulu ayam. Uniknya, mereka menutupi aurat dari anyaman daun kelapa.

Baca Juga :  DAK Kecil dan DAU Luput, Dindik Ponorogo: Perbaikan Sekolah Tunggu PAK

Para prajurit itu memiliki pantangan khusus. Seluruh detail kostum tidak boleh dibuang ke sembarang tempat. Biasanya, para penari membawa pulang kostum ke Dusun Mojo. Termasuk jika ada satu lembar daun kelapa yang jatuh saat pentas, maka penari harus bergegas mengambil dan menyimpannya. ‘’Harus dibuang di tempat asal kami. Pernah ada cerita 2017 lalu, saat ada parade budaya di Kediri. Kostum dibuang di Alas Sukun saat perjalanan pulang. Sejak itu hingga sekarang banyak yang melihat penampakan keling menari di sana,’’ ungkapnya.

Untuk musik pengiring, tarian ini menggunakan alat sederhana. Yakni, gendang, kentongan, ketipung, dan jedhor (beduk berukuran kecil). Wiyoto berharap tarian keling tak kalah pamor dari reog. ’’Kami sangat terbuka lebar bagi siapa saja yang ingin belajar dan turut melestarikan tarian ini,’’ pungksnya. (mg2/kid/c1/fin)

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Tari keling eksis sampai kini. Seni tari dari Dusun Mojo, Desa Singgahan, Kecamatan Pulung, itu terwariskan turun-temurun. Selain unik, asal-usul tarian ini sampai sekarang masih menjadi misteri.

Warga meyakini bahwa tarian ini dibawakan Suku Keling. Kendati minim referensi, warga setempat tansah eling (selalu ingat) dan melestarikan tarian purba tersebut. Suku Keling identik dengan kulitnya yang hitam. ‘’Katanya mbah-mbah buyut, Keling merupakan suku pertama di Ponorogo,’’ kata Wiyoto yang juga generasi keempat penerus tari keling.

Hanya ada satu grup tari keling di kabupaten ini. Pun hanya dapat dimainkan oleh warga Dusun Mojo. Tarian ini dibawakan 35 penari dengan berbagai peran. Meliputi prajurit, pujangga, abdi tua atau emban, serta penggembira kerajaan. ’’Dari dulu sampai sekarang gerakannya ya begitu, tidak berubah. Tidak bisa dikolaborasikan dengan kesenian lain,’’ lanjutnya.

Keunikan tari keling terletak pada kostum yang dikenakan prajurit. Mereka mengolesi sekujur tubuhnya dengan campuran minyak goreng (migor) curah dan langes (warna hitam di luar panci). Kemudian memakai mahkota berbahan bulu ayam. Uniknya, mereka menutupi aurat dari anyaman daun kelapa.

Baca Juga :  DAK Kecil dan DAU Luput, Dindik Ponorogo: Perbaikan Sekolah Tunggu PAK

Para prajurit itu memiliki pantangan khusus. Seluruh detail kostum tidak boleh dibuang ke sembarang tempat. Biasanya, para penari membawa pulang kostum ke Dusun Mojo. Termasuk jika ada satu lembar daun kelapa yang jatuh saat pentas, maka penari harus bergegas mengambil dan menyimpannya. ‘’Harus dibuang di tempat asal kami. Pernah ada cerita 2017 lalu, saat ada parade budaya di Kediri. Kostum dibuang di Alas Sukun saat perjalanan pulang. Sejak itu hingga sekarang banyak yang melihat penampakan keling menari di sana,’’ ungkapnya.

Untuk musik pengiring, tarian ini menggunakan alat sederhana. Yakni, gendang, kentongan, ketipung, dan jedhor (beduk berukuran kecil). Wiyoto berharap tarian keling tak kalah pamor dari reog. ’’Kami sangat terbuka lebar bagi siapa saja yang ingin belajar dan turut melestarikan tarian ini,’’ pungksnya. (mg2/kid/c1/fin)

Most Read

Artikel Terbaru

/