alexametrics
25.1 C
Madiun
Friday, May 13, 2022

Pemprov Jatim Minta Bantuan Pemerintah Australia

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Antisipasi penyakit mulut dan kuku (PMK) menjadi prioritas penanganan urgen. Pemprov Jatim bakal menggandeng pemerintah Australia untuk membahas ketersediaan obat dan vaksin PMK.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan, tanpa adanya kerja sama internasional, vaksinasi mustahil terealisasi. Rencananya, distribusi vaksin menjangkau daerah skala prioritas. Daerah yang masuk dalam radius wabah menjadi sasaran utama vaksinasi. ‘’Nanti dinas peternakan akan menentukan daerah yang menjadi skala prioritasnya,’’ ujar Emil saat melawat ke Ponorogo kemarin (12/5).

Sejarah mencatat, vaksin PMK di tanah air masif dilakukan mulai 1974 silam. Hingga pemerintah Indonesia mengumumkan PMK hilang pada 1986 silam melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian 260/Kpts/TN.510/5/1986. Kemudian, Organisasi untuk Kesehatan Hewan (OIE) menyatakan bahwa Indonesia bebas dari PMK sejak 1990. PMK baru merebak kembali dengan kemunculan awalnya di Jatim pasca-Lebaran tahun ini. ‘’Kenapa Jatim paling kedengeran (terdeteksi, Red)? Karena kami yang paling aktif untuk mencari tahu,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Pemkab Ponorogo Ganti Rumput Stadion Batoro Katong agar Tak Mirip Tegalan

Terkait pembatasan, Emil mengatakan bahwa satgas pangan bersama kepolisian telah melakukan monitoring traffic hewan ternak. Bukan melarang, melainkan memantau peredaran sapi dari daerah asal. Semata demi meningkatkan kewaspadaan. ‘’Ini tambahan effort, karena di ujung-ujung pintu masuk dari peternak ke konsumen ini yang wajib dilindungi. Kami tambahi agar cepat mendeteksi dan mengurangi (dampak risiko PMK, Red),’’ tuturnya.

Pemprov fokus percepatan penyembuhan pada ternak yang terjangkit PMK. Meskipun persentase sapi yang terjangkit PMK lebih kecil dibanding jumlah populasi sapi di Jatim. ‘’Saya ingin meyakinkan seluruh masyarakat bahwa pemprov benar-benar menjalankan sistem yang terbangun dalam menjaga keamanan pangan,’’ tegasnya.

Emil menyatakan, peternak yang paling dirugikan imbas dari serangan PMK. Pihaknya berupaya agar sebaran PMK dapat ditekan. Agar stabilitas pangan, terutama daging sapi, dapat terjaga menjelang Idul Adha. ‘’Yang paling kasihan peternak, ini kenapa kami ngegas agar menjelang Idul Adha situasi dapat lebih kondusif,’’ pungkasnya. (kid/c1/fin)

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Antisipasi penyakit mulut dan kuku (PMK) menjadi prioritas penanganan urgen. Pemprov Jatim bakal menggandeng pemerintah Australia untuk membahas ketersediaan obat dan vaksin PMK.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan, tanpa adanya kerja sama internasional, vaksinasi mustahil terealisasi. Rencananya, distribusi vaksin menjangkau daerah skala prioritas. Daerah yang masuk dalam radius wabah menjadi sasaran utama vaksinasi. ‘’Nanti dinas peternakan akan menentukan daerah yang menjadi skala prioritasnya,’’ ujar Emil saat melawat ke Ponorogo kemarin (12/5).

Sejarah mencatat, vaksin PMK di tanah air masif dilakukan mulai 1974 silam. Hingga pemerintah Indonesia mengumumkan PMK hilang pada 1986 silam melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian 260/Kpts/TN.510/5/1986. Kemudian, Organisasi untuk Kesehatan Hewan (OIE) menyatakan bahwa Indonesia bebas dari PMK sejak 1990. PMK baru merebak kembali dengan kemunculan awalnya di Jatim pasca-Lebaran tahun ini. ‘’Kenapa Jatim paling kedengeran (terdeteksi, Red)? Karena kami yang paling aktif untuk mencari tahu,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Bupati Sugiri Pilih Bangun Sirkuit Dekat Taman Wengker

Terkait pembatasan, Emil mengatakan bahwa satgas pangan bersama kepolisian telah melakukan monitoring traffic hewan ternak. Bukan melarang, melainkan memantau peredaran sapi dari daerah asal. Semata demi meningkatkan kewaspadaan. ‘’Ini tambahan effort, karena di ujung-ujung pintu masuk dari peternak ke konsumen ini yang wajib dilindungi. Kami tambahi agar cepat mendeteksi dan mengurangi (dampak risiko PMK, Red),’’ tuturnya.

Pemprov fokus percepatan penyembuhan pada ternak yang terjangkit PMK. Meskipun persentase sapi yang terjangkit PMK lebih kecil dibanding jumlah populasi sapi di Jatim. ‘’Saya ingin meyakinkan seluruh masyarakat bahwa pemprov benar-benar menjalankan sistem yang terbangun dalam menjaga keamanan pangan,’’ tegasnya.

Emil menyatakan, peternak yang paling dirugikan imbas dari serangan PMK. Pihaknya berupaya agar sebaran PMK dapat ditekan. Agar stabilitas pangan, terutama daging sapi, dapat terjaga menjelang Idul Adha. ‘’Yang paling kasihan peternak, ini kenapa kami ngegas agar menjelang Idul Adha situasi dapat lebih kondusif,’’ pungkasnya. (kid/c1/fin)

Most Read

Artikel Terbaru

/