alexametrics
28.9 C
Madiun
Friday, July 1, 2022

Reyog Jazz Ponorogo 2019: Berdendang Sakura dari Tepi Telaga Ngebel

PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo – Kolaborasi Reyog Ponorogo dengan Ber6 membuka Reyog Jazz Ponorogo 2019 di Telaga Ngebel, Sabtu (12/10). Band beranggotakan Denny Chasmala, Andre Dinutuh, Zendhy Kusuma, YankJay (gitar), Yandi Andanaputra (drumer), bersama Franky Sadikin (bass) itu kompak mengatur nada menyelaraskan dengan tarian reyog yang dibawakan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Ponorogo (UMP).

Sajian kedua diisi penampilan grup jazz lokal dari Ponorogo dan sekitarnya. Tak lama berselang, dilanjutkan penampilan Batur Band. Kumpulan musisi jazz lokal-mancanegara ini digawangi Yvon Thibeult (drumer dari Kanada), Andro Yopi Kristian dan Brandon Artsen (gitaris dan basis dari Indonesia), serta Gala Ga (vokalis dari Rusia). Menyapa penonton, sang vokalis rela turun panggung dan beberapa kali mencoba bercakap bahasa Indonesia. Beberapa kali, dia membujuk penonton bernyanyi bersamanya. ‘’Come on dance with me.’’ Sayang, ajakan itu ditolak penonton dengan senyum malu-malunya.

Malam di tepian telaga semakin hangat saat Sierra Soetedjo naik ke atas panggung. Suaranya menghipnotis penonton kala mendendangkan Overjoyed-nya Stevie Wonder. Adrenalin semakin tinggi ketika yang dinanti-nanti berjalan dari tamu VIP ke atas panggung. Kehadiran Krisdayanti (KD) menjadi daya tarik tersendiri. Pesona diva Indonesia itu sukses membuat ratusan penonton berebut mendekati panggung utama. Uniknya, ketika ditanya permintaan lagu, ada yang request lagu koplo Sayang. KD pun berimprovisasi membawakannya dengan diiringi musik jazz. ‘’Sebenarnya saya bukan artis, tapi teman dekat Pak Bupati dan istrinya,’’ kata pelantun lagu Mahadaya Cinta dan Menghitung Hari itu.

Baca Juga :  Pelanggar Lalin di Ponorogo Diberi Janur Kuning

Usai penampilan sang diva, penonton kembali dimanjakan improvisasi gila-gilaan dari Denny Chasmala dan kelompok Ber6-nya. Bupati Ipong Muchlissoni pun tergoda untuk naik ke atas panggung. Membawakan lagu-lagu kesukaannya. Hari sudah berganti, jarum jam menunjuk pukul 01.00 dini hari (13/10). Fariz Rustam Munaf didapuk memungkasi Reyog Jazz Ponorogo 2019. Musisi 60 tahun ini masih energik kala membawakan Hasrat dan Cinta, Nada Kasih, Sakura dan Barcelona. Selama 43 tahun berkarir di belantika musik tanah air, kedatangan ke Ponorogo baru pertama kalinya. ‘’Saya berharap bisa menggabungkan unsur-unsur tradisional Ponorogo terutama reyog dengan musik jazz, pop, nasional,’’ ujarnya.

Meski baru pertama menginjakkan kakinya, tebersit di benaknya untuk menjadikan kabupaten ini salah satu nominasi untuk menghabiskan masa tuanya. Di matanya, Bumi Reyog merupakan daerah yang kental dengan kulturnya dan keseniannya. ‘’Saya memang lagi nyari kota buat hari tua. Ada beberapa kota di Jawa Timur dan Ponorogo masuk nominasi,’’ ungkapnya saat ditemui koran ini di belakang panggung.

Kehadiran Reyog Jazz Ponorogo ini memberikan warna baru bagi penikmat musik di kabupaten ini. Dua kali penyelengaraannya kian mengakrabkan genre musik yang terlahir dari Amerika Serikat ini. ’’Kami berikan ruang bagi musisi untuk menunjukkan kebolehannya seperti festival jazz di tempat lain,’’ kata Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni. (dil/c1/fin)

PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo – Kolaborasi Reyog Ponorogo dengan Ber6 membuka Reyog Jazz Ponorogo 2019 di Telaga Ngebel, Sabtu (12/10). Band beranggotakan Denny Chasmala, Andre Dinutuh, Zendhy Kusuma, YankJay (gitar), Yandi Andanaputra (drumer), bersama Franky Sadikin (bass) itu kompak mengatur nada menyelaraskan dengan tarian reyog yang dibawakan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Ponorogo (UMP).

Sajian kedua diisi penampilan grup jazz lokal dari Ponorogo dan sekitarnya. Tak lama berselang, dilanjutkan penampilan Batur Band. Kumpulan musisi jazz lokal-mancanegara ini digawangi Yvon Thibeult (drumer dari Kanada), Andro Yopi Kristian dan Brandon Artsen (gitaris dan basis dari Indonesia), serta Gala Ga (vokalis dari Rusia). Menyapa penonton, sang vokalis rela turun panggung dan beberapa kali mencoba bercakap bahasa Indonesia. Beberapa kali, dia membujuk penonton bernyanyi bersamanya. ‘’Come on dance with me.’’ Sayang, ajakan itu ditolak penonton dengan senyum malu-malunya.

Malam di tepian telaga semakin hangat saat Sierra Soetedjo naik ke atas panggung. Suaranya menghipnotis penonton kala mendendangkan Overjoyed-nya Stevie Wonder. Adrenalin semakin tinggi ketika yang dinanti-nanti berjalan dari tamu VIP ke atas panggung. Kehadiran Krisdayanti (KD) menjadi daya tarik tersendiri. Pesona diva Indonesia itu sukses membuat ratusan penonton berebut mendekati panggung utama. Uniknya, ketika ditanya permintaan lagu, ada yang request lagu koplo Sayang. KD pun berimprovisasi membawakannya dengan diiringi musik jazz. ‘’Sebenarnya saya bukan artis, tapi teman dekat Pak Bupati dan istrinya,’’ kata pelantun lagu Mahadaya Cinta dan Menghitung Hari itu.

Baca Juga :  Reyog Ponorogo Jadi Nominasi Tunggal Warisan Budaya Tak Benda UNESCO

Usai penampilan sang diva, penonton kembali dimanjakan improvisasi gila-gilaan dari Denny Chasmala dan kelompok Ber6-nya. Bupati Ipong Muchlissoni pun tergoda untuk naik ke atas panggung. Membawakan lagu-lagu kesukaannya. Hari sudah berganti, jarum jam menunjuk pukul 01.00 dini hari (13/10). Fariz Rustam Munaf didapuk memungkasi Reyog Jazz Ponorogo 2019. Musisi 60 tahun ini masih energik kala membawakan Hasrat dan Cinta, Nada Kasih, Sakura dan Barcelona. Selama 43 tahun berkarir di belantika musik tanah air, kedatangan ke Ponorogo baru pertama kalinya. ‘’Saya berharap bisa menggabungkan unsur-unsur tradisional Ponorogo terutama reyog dengan musik jazz, pop, nasional,’’ ujarnya.

Meski baru pertama menginjakkan kakinya, tebersit di benaknya untuk menjadikan kabupaten ini salah satu nominasi untuk menghabiskan masa tuanya. Di matanya, Bumi Reyog merupakan daerah yang kental dengan kulturnya dan keseniannya. ‘’Saya memang lagi nyari kota buat hari tua. Ada beberapa kota di Jawa Timur dan Ponorogo masuk nominasi,’’ ungkapnya saat ditemui koran ini di belakang panggung.

Kehadiran Reyog Jazz Ponorogo ini memberikan warna baru bagi penikmat musik di kabupaten ini. Dua kali penyelengaraannya kian mengakrabkan genre musik yang terlahir dari Amerika Serikat ini. ’’Kami berikan ruang bagi musisi untuk menunjukkan kebolehannya seperti festival jazz di tempat lain,’’ kata Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni. (dil/c1/fin)

Most Read

Artikel Terbaru

/