alexametrics
25.1 C
Madiun
Saturday, July 2, 2022

Budaya Ngepop, Viral di Medsos Jadi Tren

PONOROGO, Jawa Pos Radar MadiunTrending topic di media sosial (medsos) memunculkan fenomena anyar. Dari film yang booming seperti KKN di Desa Penari, generasi milenial maupun netizen melampiaskan tren terbaru di medsos. Semisal, penggunaan kata-kata khodam yang sebelumnya tidak lazim dibicarakan anak muda. Generasi saat ini populer menggunakan kata itu untuk membuat konten video.

Gelora Yudaswara menyebut fenomena itu dengan istilah pos budaya ngepop (populer). Sesuatu yang viral di medsos seolah menjadi tren, mulai style, angle foto–video, hingga aksen berbahasa. Tren itu merangsang pengguna medsos untuk mendongkrak popularitasnya. ‘’Sebenarnya faktor horornya itu nggak dominan jika muncul tren kata-kata seperti khodam di medsos. Tapi, seperti inilah era disrupsi,’’ kata sineas Ponorogo itu.

Tren tersebut begitu cepat viral di medsos dan seolah menjadi populer di kalangan remaja. Namun, biasanya hanya seumuran jagung. Tren itu bakal tergantikan tren baru yang booming kemudian hari. Sebelumnya, film Layangan Putus juga meledak dan memunculkan tren baru. Diksi pelakor (pelaku adalah korban) sempat tren dan lazim dijadikan pilihan diksi dalam setiap perbincangan. ‘’Kala itu, liburan Cappadocia, Turki, sempat menjadi tren pencarian di Google,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Paramedik Veteriner Kewalahan Tangani Kasus PMK di Ponorogo

Ditarik mundur, film pendek berjudul Tilik yang diproduksi 2018 lalu juga meledak dua tahun kemudian. Istilah solutif yang diucapkan Bu Tejo, pemeran utama dalam film produksi Ravacana Films, itu juga sempat menjadi tren di masyarakat. Bahkan menjadi tagar yang viral dalam posting-an di medsos. ‘’Faktornya memang medsos, tapi post-budaya populer ini bisa cepat booming sekaligus cepat bergeser dan tergantikan tren baru dalam waktu sangat singkat. Istilahnya ngepop,’’ urainya.

Sebelum Lebaran, Ziarah juga sempat menjadi film paling dicari di medsos. Gelora pernah screening film rilisan 2016 itu ketika Tadarus Film di Ponorogo, 2019 silam. Justru ketika itu yang hadir hanya kalangan pegiat film yang jumlahnya tak genap 20 orang. ‘’Suatu produk belum tentu booming seketika itu. Tapi, bisa meledak beberapa tahun kemudian,’’ pungkasnya. (kid/c1/fin)

PONOROGO, Jawa Pos Radar MadiunTrending topic di media sosial (medsos) memunculkan fenomena anyar. Dari film yang booming seperti KKN di Desa Penari, generasi milenial maupun netizen melampiaskan tren terbaru di medsos. Semisal, penggunaan kata-kata khodam yang sebelumnya tidak lazim dibicarakan anak muda. Generasi saat ini populer menggunakan kata itu untuk membuat konten video.

Gelora Yudaswara menyebut fenomena itu dengan istilah pos budaya ngepop (populer). Sesuatu yang viral di medsos seolah menjadi tren, mulai style, angle foto–video, hingga aksen berbahasa. Tren itu merangsang pengguna medsos untuk mendongkrak popularitasnya. ‘’Sebenarnya faktor horornya itu nggak dominan jika muncul tren kata-kata seperti khodam di medsos. Tapi, seperti inilah era disrupsi,’’ kata sineas Ponorogo itu.

Tren tersebut begitu cepat viral di medsos dan seolah menjadi populer di kalangan remaja. Namun, biasanya hanya seumuran jagung. Tren itu bakal tergantikan tren baru yang booming kemudian hari. Sebelumnya, film Layangan Putus juga meledak dan memunculkan tren baru. Diksi pelakor (pelaku adalah korban) sempat tren dan lazim dijadikan pilihan diksi dalam setiap perbincangan. ‘’Kala itu, liburan Cappadocia, Turki, sempat menjadi tren pencarian di Google,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Bupati Sugiri Janjikan Buka RPH-R Ponorogo Bulan Depan

Ditarik mundur, film pendek berjudul Tilik yang diproduksi 2018 lalu juga meledak dua tahun kemudian. Istilah solutif yang diucapkan Bu Tejo, pemeran utama dalam film produksi Ravacana Films, itu juga sempat menjadi tren di masyarakat. Bahkan menjadi tagar yang viral dalam posting-an di medsos. ‘’Faktornya memang medsos, tapi post-budaya populer ini bisa cepat booming sekaligus cepat bergeser dan tergantikan tren baru dalam waktu sangat singkat. Istilahnya ngepop,’’ urainya.

Sebelum Lebaran, Ziarah juga sempat menjadi film paling dicari di medsos. Gelora pernah screening film rilisan 2016 itu ketika Tadarus Film di Ponorogo, 2019 silam. Justru ketika itu yang hadir hanya kalangan pegiat film yang jumlahnya tak genap 20 orang. ‘’Suatu produk belum tentu booming seketika itu. Tapi, bisa meledak beberapa tahun kemudian,’’ pungkasnya. (kid/c1/fin)

Most Read

Artikel Terbaru

/