alexametrics
23.9 C
Madiun
Friday, August 19, 2022

Kirab Budaya Setono-Tegalsari, Maknai Perjuangan Ki Ageng Besari

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Lebih dari dua setengah abad silam, Kiai Ageng Muhammad Besari tutup usia. Ulama besar yang menjadi penerang syiar Islam di Bumi Reog itu wafat pada 12 Selo 1747 M.

Haul ke-275 Ki Ageng Besari dimeriahkan berbagai kegiatan religi. Mulai simaan Alquran, tahlil kubro, istighotsah, ambengan, hadrah banjari, hingga kirab budaya. Perhelatan setahun sekali itu cukup dinantikan masyarakat dari dalam dan luar Ponorogo. ‘’Tahun ini mulai semarak lagi setelah dua tahun pandemi hanya tahlil kubro,’’ kata Kunto Pramono, penasihat Yayasan Ki Ageng Besari, kemarin (14/6).

Kirab budaya ini menostalgiakan masa kepindahan sang kiai dari Dukuh Setono, Jetis, tempatnya dahulu menimba ilmu di pesantrennya Kiai Donopuro pada 1660-an. ‘’Karenanya, kirab budaya dimulai dari Setono ke Tegalsari,’’ terang Kunto, dzurriyah (keturunan) ke-8 Ki Ageng Besari.

Baca Juga :  Berdiri Tanpa Izin, Warung-warung di Tepi Telaga Ngebel Bakal Direlokasi

Di Tegalsari, Ki Ageng Besari memiliki banyak murid yang menjadi sosok berpengaruh di negeri ini. Mulai dari Pakubuwono II, Raden Ngabehi Ronggowarsito, Pangeran Diponegoro, hingga H.O.S. Cokroaminoto. ‘’Mereka semua belajar agama Islam dari Ki Ageng Besari,’’ tuturnya.

Kunto berharap tradisi ini tetap lestari. Agar seluruh anak cucu dapat mengenal Ki Ageng Besari. Melestarikan budaya peninggalan sesepuh dan menjadikan Tegalsari sebagai desa wisata religi. (fac/c1/fin)

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Lebih dari dua setengah abad silam, Kiai Ageng Muhammad Besari tutup usia. Ulama besar yang menjadi penerang syiar Islam di Bumi Reog itu wafat pada 12 Selo 1747 M.

Haul ke-275 Ki Ageng Besari dimeriahkan berbagai kegiatan religi. Mulai simaan Alquran, tahlil kubro, istighotsah, ambengan, hadrah banjari, hingga kirab budaya. Perhelatan setahun sekali itu cukup dinantikan masyarakat dari dalam dan luar Ponorogo. ‘’Tahun ini mulai semarak lagi setelah dua tahun pandemi hanya tahlil kubro,’’ kata Kunto Pramono, penasihat Yayasan Ki Ageng Besari, kemarin (14/6).

Kirab budaya ini menostalgiakan masa kepindahan sang kiai dari Dukuh Setono, Jetis, tempatnya dahulu menimba ilmu di pesantrennya Kiai Donopuro pada 1660-an. ‘’Karenanya, kirab budaya dimulai dari Setono ke Tegalsari,’’ terang Kunto, dzurriyah (keturunan) ke-8 Ki Ageng Besari.

Baca Juga :  Rangkaian HLN Ke-75 di PLN UP3 Ponorogo

Di Tegalsari, Ki Ageng Besari memiliki banyak murid yang menjadi sosok berpengaruh di negeri ini. Mulai dari Pakubuwono II, Raden Ngabehi Ronggowarsito, Pangeran Diponegoro, hingga H.O.S. Cokroaminoto. ‘’Mereka semua belajar agama Islam dari Ki Ageng Besari,’’ tuturnya.

Kunto berharap tradisi ini tetap lestari. Agar seluruh anak cucu dapat mengenal Ki Ageng Besari. Melestarikan budaya peninggalan sesepuh dan menjadikan Tegalsari sebagai desa wisata religi. (fac/c1/fin)

Most Read

Artikel Terbaru

/