alexametrics
25.6 C
Madiun
Friday, May 20, 2022

Populasi Bulus Tersisa 100 Ekor, Pokdarwis Desa Pager Upayakan Konservasi

PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo – Kura-kura yang hidup di Sendang Bulus, Desa Pager, Bungkal, terancam punah jika tidak segera dikonservasi. Sebab, jumlahnya terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun. ‘’Dulu sebelum 2017 masih ada beberapa ratus, sekarang tinggal 100-an,’’ kata Dwianto, ketua kelompok sadar wisata (pokdarwis) desa setempat, Minggu (15/9).

Sudah dua tahun ini Dwi dan kelompoknya intens menjaga populasi bulus di sendang itu. Pasalnya, sejumlah oknum warga ditengarai sengaja mengambilnya untuk dikonsumsi maupun diperjualbelikan.

‘’Kami sudah ajukan proposal penangkaran tahun lalu. Terakhir, waktu sekjen Kemendes ke sini, proposal kami revisi dan ajukan kembali,’’ ungkapnya. ‘’Dalam proposal itu kami berharap ada pagar di sekeliling kolam agar telurnya aman. Telur-telur bulus sebaiknya memang tidak disentuh agar bisa menetas,’’ imbuh Dwi.

Baca Juga :  Minyak Goreng di Hypermart Ponorogo Ludes, Diborong Peritel Lokal?

Selain fasilitas penangkaran, proposal tersebut juga berisi rencana pengembangan wisata Sendang Bulus yang ditaksir membutuhkan bujet senilai Rp 2 miliar. ‘’Kalau disetujui mungkin dananya cair tahun ini.’’ ujarnya.

Dia menuturkan, populasi bulus mulai berkurang sejak 2000 silam. Pun, pada 2005 air sendang sempat tercemar racun yang mengakibatkan puluhan kura-kura mati. ‘’Seingat saya 50 lebih yang mati waktu itu,’’ kata Dwi sembari menyebut musim kemarau panjang pada 2010 hingga 2015 juga berpengaruh terhadap polulasi bulus.

Dwi kemarin sempat menunjukkan gundukan tanah di tepi sendang. Setelah digali dengan tangannya, tampak belasan butir telur bulus berwarna putih susu sebesar telur burung dara. ‘’Kalau bulus yang sudah tua sekali bisa bertelur sampai 15-20 butir. Mereka biasanya bertelur tiga bulan sebelum musim hujan,’’ paparnya. (dil/c1/isd)

PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo – Kura-kura yang hidup di Sendang Bulus, Desa Pager, Bungkal, terancam punah jika tidak segera dikonservasi. Sebab, jumlahnya terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun. ‘’Dulu sebelum 2017 masih ada beberapa ratus, sekarang tinggal 100-an,’’ kata Dwianto, ketua kelompok sadar wisata (pokdarwis) desa setempat, Minggu (15/9).

Sudah dua tahun ini Dwi dan kelompoknya intens menjaga populasi bulus di sendang itu. Pasalnya, sejumlah oknum warga ditengarai sengaja mengambilnya untuk dikonsumsi maupun diperjualbelikan.

‘’Kami sudah ajukan proposal penangkaran tahun lalu. Terakhir, waktu sekjen Kemendes ke sini, proposal kami revisi dan ajukan kembali,’’ ungkapnya. ‘’Dalam proposal itu kami berharap ada pagar di sekeliling kolam agar telurnya aman. Telur-telur bulus sebaiknya memang tidak disentuh agar bisa menetas,’’ imbuh Dwi.

Baca Juga :  Semangat Hatma Jadi Mamiek Prakoso Muda

Selain fasilitas penangkaran, proposal tersebut juga berisi rencana pengembangan wisata Sendang Bulus yang ditaksir membutuhkan bujet senilai Rp 2 miliar. ‘’Kalau disetujui mungkin dananya cair tahun ini.’’ ujarnya.

Dia menuturkan, populasi bulus mulai berkurang sejak 2000 silam. Pun, pada 2005 air sendang sempat tercemar racun yang mengakibatkan puluhan kura-kura mati. ‘’Seingat saya 50 lebih yang mati waktu itu,’’ kata Dwi sembari menyebut musim kemarau panjang pada 2010 hingga 2015 juga berpengaruh terhadap polulasi bulus.

Dwi kemarin sempat menunjukkan gundukan tanah di tepi sendang. Setelah digali dengan tangannya, tampak belasan butir telur bulus berwarna putih susu sebesar telur burung dara. ‘’Kalau bulus yang sudah tua sekali bisa bertelur sampai 15-20 butir. Mereka biasanya bertelur tiga bulan sebelum musim hujan,’’ paparnya. (dil/c1/isd)

Most Read

Artikel Terbaru

/