alexametrics
24.4 C
Madiun
Saturday, July 2, 2022

Pemkab Ponorogo Terima Banyak Laporan Peternak Sapi Gejala Mirip PMK

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (Dispertahankan) Ponorogo mulai banyak menerima laporan dari peternak yang mengkhawatirkan sapi piaraannya mengalami gejala klinis menyerupai penyakit mulut dan kuku (PMK). ‘’Banyak gejala hampir sama (PMK, Red) yang dilaporkan. Setelah kami datangi, hasilnya keluhan biasa (bukan PMK),’’ kata Kabid Peternakan, Kesehatan Hewan, dan Perikanan Dispertahankan Ponorogo Siti Barokah, Selasa (17/5).

Siti dapat memaklumi kekhawatiran berlebihan dari para peternak. Menimbang sebaran PMK kini telah merambah kabupaten tetangga. Sikap kooperatif peternak yang aktif melapor ke petugas patut diapresiasi. Meskipun ternak yang diperiksa mengalami penurunan nafsu makan, Siti memastikan bahwa itu bukanlah satu-satunya gejala terjangkit PMK. ‘’Ada banyak penyakit pembanding yang gejalanya hampir sama, yang kami datangi hanya keluhan biasa,’’ ujarnya.

Kendati hingga kini zero PMK, dispertahankan tetap meningkatkan kewaspadaan. Salah satunya memperketat lalu lintas hewan ternak. Pun, distribusi telah dikunci sementara (kuntara) hingga situasi kembali kondusif. Peternak telah diwanti-wanti tidak mendatangkan ataupun mengirim ternak ke daerah lain. ‘’Vaksin PMK belum ada di seluruh Indonesia. Informasinya masih diproses Kementan (Kementerian Pertanian),’’ tuturnya.

Baca Juga :  Kondisi Enam Pasien Positif Covid-19 asal Ponorogo Membaik

Ditanya soal pengadaan obat sebagai langkah antisipasi, tahun ini nihil pengadaan. Kendati dispertahankan layak mengusulkannya saat rapat koordinasi (rakor) bersama lintas sektoral yang rencananya digelar Pemkab Ponorogo hari ini (17/5). ‘’Pengadaan obat belum ada tahun ini,’’ ungkapnya.

Siti menegaskan bahwa daging sapi yang terjangkit PMK dapat dikonsumsi. Asalkan penyembelihannya memenuhi standard operating procedure (SOP). Pun tidak dilakukan di sembarang tempat. Paling aman diserahkan ke rumah pemotongan hewan (RPH). ‘’Daging bisa dikonsumsi asal dengan SOP yang benar. Cara memasak juga tidak boleh sembarangan. Asalkan pelayuan dagingnya sampai pH di bawah 6, insya Allah aman,’’ pungkasnya. (kid/c1/fin)

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (Dispertahankan) Ponorogo mulai banyak menerima laporan dari peternak yang mengkhawatirkan sapi piaraannya mengalami gejala klinis menyerupai penyakit mulut dan kuku (PMK). ‘’Banyak gejala hampir sama (PMK, Red) yang dilaporkan. Setelah kami datangi, hasilnya keluhan biasa (bukan PMK),’’ kata Kabid Peternakan, Kesehatan Hewan, dan Perikanan Dispertahankan Ponorogo Siti Barokah, Selasa (17/5).

Siti dapat memaklumi kekhawatiran berlebihan dari para peternak. Menimbang sebaran PMK kini telah merambah kabupaten tetangga. Sikap kooperatif peternak yang aktif melapor ke petugas patut diapresiasi. Meskipun ternak yang diperiksa mengalami penurunan nafsu makan, Siti memastikan bahwa itu bukanlah satu-satunya gejala terjangkit PMK. ‘’Ada banyak penyakit pembanding yang gejalanya hampir sama, yang kami datangi hanya keluhan biasa,’’ ujarnya.

Kendati hingga kini zero PMK, dispertahankan tetap meningkatkan kewaspadaan. Salah satunya memperketat lalu lintas hewan ternak. Pun, distribusi telah dikunci sementara (kuntara) hingga situasi kembali kondusif. Peternak telah diwanti-wanti tidak mendatangkan ataupun mengirim ternak ke daerah lain. ‘’Vaksin PMK belum ada di seluruh Indonesia. Informasinya masih diproses Kementan (Kementerian Pertanian),’’ tuturnya.

Baca Juga :  Pecah Rekor Harga Telur, Tembus Rp 28 Ribu Per Kilo

Ditanya soal pengadaan obat sebagai langkah antisipasi, tahun ini nihil pengadaan. Kendati dispertahankan layak mengusulkannya saat rapat koordinasi (rakor) bersama lintas sektoral yang rencananya digelar Pemkab Ponorogo hari ini (17/5). ‘’Pengadaan obat belum ada tahun ini,’’ ungkapnya.

Siti menegaskan bahwa daging sapi yang terjangkit PMK dapat dikonsumsi. Asalkan penyembelihannya memenuhi standard operating procedure (SOP). Pun tidak dilakukan di sembarang tempat. Paling aman diserahkan ke rumah pemotongan hewan (RPH). ‘’Daging bisa dikonsumsi asal dengan SOP yang benar. Cara memasak juga tidak boleh sembarangan. Asalkan pelayuan dagingnya sampai pH di bawah 6, insya Allah aman,’’ pungkasnya. (kid/c1/fin)

Most Read

Artikel Terbaru

/