alexametrics
26.8 C
Madiun
Thursday, September 29, 2022

Jejak Sang Ajudan: Sebuah Biografi Pierre Tendean

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Pada raga yang telah terbaring, tak ada kata sia-sia untuk sebuah pengorbanan demi berpendarnya ideologi Pancasila. Kalimat itu menjadi epilog yang tertera di sampul belakang buku berjudul Jejak Sang Ajudan: Sebuah Biografi Pierre Tendean.

‘’Buku ini membahas tentang biografi mulai dari Pierre lahir, masa-masa penjajahan, remaja, pilihan hidupnya sebagai perwira, hingga mengembuskan napas terakhir dalam tugasnya saat menjadi ajudan,’’ ujar Ahmad Nowmenta Putra, sang penulis buku, Rabu (17/8).

Menta, sapaan Ahmad Nowmenta Putra, menyebut bahwa Kapten Czi (Anumerta) Pierre Tendean berdarah campuran Prancis-Manado. Lahirnya Kapten Czi ketika era kolonialisme sedang goyah pada 1939. Karena saat itu mulai terjadi Perang Dunia II di daratan Eropa. Ibunya merupakan perempuan Belanda berdarah Prancis dan ayahnya seorang dokter berdarah Minahasa.

Dia mengenyam pendidikan di Magelang dan Semarang. Sejak kecil Pierre ingin menjadi tentara. Akhirnya bergabung ke dalam Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD) di Bandung pada 1958. Ketika lulus dari pendidikan militernya, dia mendapat pangkat Letnan II dan menjadi komandan di batalion zeni tempur Kodam II Medan.

Belum puas sampai di situ, beliau memutuskan masuk sekolah intelijen di Bogor dan setelah lulus ditugaskan menjadi intelijen di masa konfrontasi Indonesia-Malaysia. Karier yang sangat cemerlang di usia muda itu membuat Jendral A.H. Nasution tidak ragu untuk memilih Pierre Tendean sebagai ajudannya.

Menta menjabarkan secara detail kisah itu lewat bukunya. Dia menjelaskan bahwa buku tersebut lebih kepada personal life dari kacamata orang terdekat yakni Mitzie Farre Tandean, kakak Pierre. Juga disisipkan peristiwa saat Pierre Tendean masih kecil hingga gugur dalam tugasnya.

Baca Juga :  Masuk Musim Kemarau, Warga Satu Dusun di Ponorogo Alami Krisis Air Bersih

Buku ini banyak berkisah tentang berbagai peristiwa, khususnya pergolakan politik 1963-1965 yang mengakibatkan Pierre Tendean gugur dalam masa baktinya bersama Angkatan Darat. ‘’Buku ini menggambarkan sosok Pierre Tendean sebagai anak muda yang patut dicontoh oleh generasi milenial,’’ terangnya.

Menta membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menuliskan buku tersebut. Proses panjang itu dimulai pada 2009. Ketika itu, dia mulai mencari komunitas-komunitas sejarah dan melakukan pengenalan tokoh selama lima tahun.

Pada 2014, tim yang notabene rekan menulisnya mulai mengumpulkan data, melakukan napak tilas, serta mencari info tentang keluarga bersama teman komunitas sejarah. Riset ini memakan waktu sekitar empat tahun. Setelah dirasa cukup, dia mulai melakukan pendalaman spesifik untuk penulisan buku.

‘’Sesuai dengan blue print (kerangka kerja terperinci, Red) yang mau ditulis, mulai wawancara dengan keluarga, napak tilas lagi dengan dokumentasi, pengumpulan dokumentasi seperti foto, dan lain sebagainya, lalu mulai menulis,’’ urainya.

Selama proses penulisan, ada beberapa peristiwa yang berkesan bagi Menta. Salah satunya peristiwa di mana keluarga mendengar kabar bahwa Kapten Czi ditemukan tewas di rumah Jenderal A.H. Nasution.

Sebelum kejadian tersebut, Pierre sempat datang ke pernikahan dan titip pesan ke adik iparnya, ‘titip adik saya, ya’. ‘’Ketika menulis bagian itu saya meneteskan air mata. Karena tiga bulan sebelum saya menulis bagian ini, adik saya juga menikah,’’ tuturnya.

Buku tersebut dirilis pada 2018. Sekaligus menjadi buku biografi pertama tentang pahlawan revolusi termuda yang gugur saat Gerakan 30 September (G-30S) 1965 yang rilis era 2000-an. Buku karyanya itu juga menjadi buku pertama di Indonesia yang berisi foto-foto bersejarah yang telah direstorasi (warna ulang/recoloring). (mg2/kid/c1/fin)

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Pada raga yang telah terbaring, tak ada kata sia-sia untuk sebuah pengorbanan demi berpendarnya ideologi Pancasila. Kalimat itu menjadi epilog yang tertera di sampul belakang buku berjudul Jejak Sang Ajudan: Sebuah Biografi Pierre Tendean.

‘’Buku ini membahas tentang biografi mulai dari Pierre lahir, masa-masa penjajahan, remaja, pilihan hidupnya sebagai perwira, hingga mengembuskan napas terakhir dalam tugasnya saat menjadi ajudan,’’ ujar Ahmad Nowmenta Putra, sang penulis buku, Rabu (17/8).

Menta, sapaan Ahmad Nowmenta Putra, menyebut bahwa Kapten Czi (Anumerta) Pierre Tendean berdarah campuran Prancis-Manado. Lahirnya Kapten Czi ketika era kolonialisme sedang goyah pada 1939. Karena saat itu mulai terjadi Perang Dunia II di daratan Eropa. Ibunya merupakan perempuan Belanda berdarah Prancis dan ayahnya seorang dokter berdarah Minahasa.

Dia mengenyam pendidikan di Magelang dan Semarang. Sejak kecil Pierre ingin menjadi tentara. Akhirnya bergabung ke dalam Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD) di Bandung pada 1958. Ketika lulus dari pendidikan militernya, dia mendapat pangkat Letnan II dan menjadi komandan di batalion zeni tempur Kodam II Medan.

Belum puas sampai di situ, beliau memutuskan masuk sekolah intelijen di Bogor dan setelah lulus ditugaskan menjadi intelijen di masa konfrontasi Indonesia-Malaysia. Karier yang sangat cemerlang di usia muda itu membuat Jendral A.H. Nasution tidak ragu untuk memilih Pierre Tendean sebagai ajudannya.

Menta menjabarkan secara detail kisah itu lewat bukunya. Dia menjelaskan bahwa buku tersebut lebih kepada personal life dari kacamata orang terdekat yakni Mitzie Farre Tandean, kakak Pierre. Juga disisipkan peristiwa saat Pierre Tendean masih kecil hingga gugur dalam tugasnya.

Baca Juga :  Bupati Sugiri Curiga Aksi Borong hingga Penimbunan

Buku ini banyak berkisah tentang berbagai peristiwa, khususnya pergolakan politik 1963-1965 yang mengakibatkan Pierre Tendean gugur dalam masa baktinya bersama Angkatan Darat. ‘’Buku ini menggambarkan sosok Pierre Tendean sebagai anak muda yang patut dicontoh oleh generasi milenial,’’ terangnya.

Menta membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menuliskan buku tersebut. Proses panjang itu dimulai pada 2009. Ketika itu, dia mulai mencari komunitas-komunitas sejarah dan melakukan pengenalan tokoh selama lima tahun.

Pada 2014, tim yang notabene rekan menulisnya mulai mengumpulkan data, melakukan napak tilas, serta mencari info tentang keluarga bersama teman komunitas sejarah. Riset ini memakan waktu sekitar empat tahun. Setelah dirasa cukup, dia mulai melakukan pendalaman spesifik untuk penulisan buku.

‘’Sesuai dengan blue print (kerangka kerja terperinci, Red) yang mau ditulis, mulai wawancara dengan keluarga, napak tilas lagi dengan dokumentasi, pengumpulan dokumentasi seperti foto, dan lain sebagainya, lalu mulai menulis,’’ urainya.

Selama proses penulisan, ada beberapa peristiwa yang berkesan bagi Menta. Salah satunya peristiwa di mana keluarga mendengar kabar bahwa Kapten Czi ditemukan tewas di rumah Jenderal A.H. Nasution.

Sebelum kejadian tersebut, Pierre sempat datang ke pernikahan dan titip pesan ke adik iparnya, ‘titip adik saya, ya’. ‘’Ketika menulis bagian itu saya meneteskan air mata. Karena tiga bulan sebelum saya menulis bagian ini, adik saya juga menikah,’’ tuturnya.

Buku tersebut dirilis pada 2018. Sekaligus menjadi buku biografi pertama tentang pahlawan revolusi termuda yang gugur saat Gerakan 30 September (G-30S) 1965 yang rilis era 2000-an. Buku karyanya itu juga menjadi buku pertama di Indonesia yang berisi foto-foto bersejarah yang telah direstorasi (warna ulang/recoloring). (mg2/kid/c1/fin)

Most Read

Artikel Terbaru

/