alexametrics
30.3 C
Madiun
Monday, May 23, 2022

Tiga Siswi SMPN 1 Jetis Ciptakan Alat Getah Pari Hybrid

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Sumber energi alternatif yang ditemukan tiga siswi SMPN 1 Jetis Ponorogo ini benar-benar baru. Sebab, memanfaatkan getaran air hujan sekaligus panas matahari menjadi energi listrik. Alat temuan Meylani Putri Eka Wardani, Salsabila Dinis Oktavista, dan Nasywa ‘Aziizatuz Zahro itu dinamai Getah Pari Hybrid yang tak kenal musim kemarau atau penghujan. Getah Pari merupakan singkatan dari getaran air hujan dan panas matahari. ‘’Kebanyakan hasil penelitian hanya memanfaatkan cahaya matahari atau gerakan air untuk menghasilkan listrik. Kami memanfaatkan dua-duanya, yaitu getaran air hujan yang turun dan panas matahari,’’ kata Meylani, Jumat (17/12).

Tak pelak, Getah Pari Hybrid meraih juara II sekaligus penyaji terbaik bidang ilmu pengetahuan alam dan lingkungan dalam ajang Kompetisi Penelitian Siswa Indonesia (KoPSI) 2021. Listrik di Indonesia sebagian besar masih menggunakan bahan bakar fosil yang notabene sumber daya alam tidak dapat diperbarui. Pemanfaatan dalam jangka panjang bakal berdampak pada kelangkaan sumber daya alam. ‘’Indonesia itu beriklim tropis, mengapa tidak memanfaatkan cahaya matahari yang berlimpah dan curah hujan tinggi untuk mengubahnya menjadi energi listrik,’’ tanya balik Meylani.

Getah Pari Hybrid terdiri dari sejumlah komponen. Di antaranya, panel surya, sensor getaran, voltmeter, modul arduino uno, modul light dependent resistor (LDR), sensor air, motor servo, dan aki sebagai penyimpan arus listrik sementara. Meylani, Salsabila, dan Nasywa butuh waktu sekitar lima bulan untuk merakit alat itu berikut menyusun naskah lomba. Mulai akhir Januari hingga awal Juli 2021 baru kelar. ‘’Itu pun belum sempurna betul hasilnya,’’ imbuh Salsabila.

Dia mengaku menemui kesulitan dalam pengambilan data hingga pemrograman. Proses trial and error (percobaan) memakan waktu satu bulan. Muncul kendala saat sejumlah komponen tidak berfungsi sempurna. Modul LDR juga sempat ngadat ketika merespons cahaya matahari. ‘’Ini menjadi tantangan tersendiri,’’ ungkap Salsabila.

Baca Juga :  Saluran TPA Mrican Tercemar, DPRD Ponorogo Soroti Produksi Briket Mandek

Otak Getah Pari Hybrid memang terdapat di modul LDR. Atap berbahan mika akan terbuka secara otomatis ketika ada cahaya matahari masuk hingga dua panel surya mengubahnya menjadi energi listrik yang kemudian disimpan di aki. Sebaliknya, atap mika itu menutup sendiri saat hujan mulai turun. ‘’Sensor air akan memerintahkan motor untuk menutup atap mika agar panel surya terlindungi dan digantikan energi kinetik untuk menghasilkan listrik,’’ papar Salsabila.

Arus listrik yang dihasilkan Getah Pari Hybrid berupa tegangan searah (DC) yang mampu menghidupkan berbagai perangkat elektronik seperti gawai, lampu emergency, atau peranti lain dengan tegangan rendah. Tiga siswi kelas IX SMPN 1 Jetis itu ingin menyempurnakan alat temuan mereka hingga dapat menghasilkan arus bolak-balik. ‘’Supaya alat elektronik yang memerlukan arus AC bisa menggunakan Getah Pari Hybrid,’’ ujar Salsabila.

Kepala SMPN 1 Jetis Asih Setyowati mengacungkan jempol untuk prestasi tiga siswinya yang langganan juara itu. Jerih payah Meylani, Salsabila, dan Nasywa selama lima bulan melakukan penelitian dan menyusun naskah dengan pendampingan guru pembimbing Dwi Sujatmiko akhirnya membuahkan hasil maksimal. Sebelumnya, mereka juga pernah menyabet juara II bidang ilmu pengetahuan teknik dan rekayasa KoPSI 2019. ‘’Waktu itu menciptakan sajadah elektronik sebagai penghitung jumlah rakaat salat untuk para lansia,’’ terang Asih.

Juara KoPSI tahun ini juga menjadi hadiah bagi Asih yang akan purnatugas Maret mendatang. Asih berharap Jatmiko -sapaan Dwi Sujatmiko- segera menyiapkan calon juara dalam perlombaan tingkat nasional tahun depan. Bagi pelajar SMPN 1 Jetis yang mampu menorehkan prestasi akan mendapat apresiasi berupa pembebasan biaya sekolah. ‘’Selain mendapat hadiah dari perlombaan yang diikuti, supaya mereka semangat,’’ jelasnya. (fac/hw/c1)

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Sumber energi alternatif yang ditemukan tiga siswi SMPN 1 Jetis Ponorogo ini benar-benar baru. Sebab, memanfaatkan getaran air hujan sekaligus panas matahari menjadi energi listrik. Alat temuan Meylani Putri Eka Wardani, Salsabila Dinis Oktavista, dan Nasywa ‘Aziizatuz Zahro itu dinamai Getah Pari Hybrid yang tak kenal musim kemarau atau penghujan. Getah Pari merupakan singkatan dari getaran air hujan dan panas matahari. ‘’Kebanyakan hasil penelitian hanya memanfaatkan cahaya matahari atau gerakan air untuk menghasilkan listrik. Kami memanfaatkan dua-duanya, yaitu getaran air hujan yang turun dan panas matahari,’’ kata Meylani, Jumat (17/12).

Tak pelak, Getah Pari Hybrid meraih juara II sekaligus penyaji terbaik bidang ilmu pengetahuan alam dan lingkungan dalam ajang Kompetisi Penelitian Siswa Indonesia (KoPSI) 2021. Listrik di Indonesia sebagian besar masih menggunakan bahan bakar fosil yang notabene sumber daya alam tidak dapat diperbarui. Pemanfaatan dalam jangka panjang bakal berdampak pada kelangkaan sumber daya alam. ‘’Indonesia itu beriklim tropis, mengapa tidak memanfaatkan cahaya matahari yang berlimpah dan curah hujan tinggi untuk mengubahnya menjadi energi listrik,’’ tanya balik Meylani.

Getah Pari Hybrid terdiri dari sejumlah komponen. Di antaranya, panel surya, sensor getaran, voltmeter, modul arduino uno, modul light dependent resistor (LDR), sensor air, motor servo, dan aki sebagai penyimpan arus listrik sementara. Meylani, Salsabila, dan Nasywa butuh waktu sekitar lima bulan untuk merakit alat itu berikut menyusun naskah lomba. Mulai akhir Januari hingga awal Juli 2021 baru kelar. ‘’Itu pun belum sempurna betul hasilnya,’’ imbuh Salsabila.

Dia mengaku menemui kesulitan dalam pengambilan data hingga pemrograman. Proses trial and error (percobaan) memakan waktu satu bulan. Muncul kendala saat sejumlah komponen tidak berfungsi sempurna. Modul LDR juga sempat ngadat ketika merespons cahaya matahari. ‘’Ini menjadi tantangan tersendiri,’’ ungkap Salsabila.

Baca Juga :  Khofifah Kesengsem Briket Sampah

Otak Getah Pari Hybrid memang terdapat di modul LDR. Atap berbahan mika akan terbuka secara otomatis ketika ada cahaya matahari masuk hingga dua panel surya mengubahnya menjadi energi listrik yang kemudian disimpan di aki. Sebaliknya, atap mika itu menutup sendiri saat hujan mulai turun. ‘’Sensor air akan memerintahkan motor untuk menutup atap mika agar panel surya terlindungi dan digantikan energi kinetik untuk menghasilkan listrik,’’ papar Salsabila.

Arus listrik yang dihasilkan Getah Pari Hybrid berupa tegangan searah (DC) yang mampu menghidupkan berbagai perangkat elektronik seperti gawai, lampu emergency, atau peranti lain dengan tegangan rendah. Tiga siswi kelas IX SMPN 1 Jetis itu ingin menyempurnakan alat temuan mereka hingga dapat menghasilkan arus bolak-balik. ‘’Supaya alat elektronik yang memerlukan arus AC bisa menggunakan Getah Pari Hybrid,’’ ujar Salsabila.

Kepala SMPN 1 Jetis Asih Setyowati mengacungkan jempol untuk prestasi tiga siswinya yang langganan juara itu. Jerih payah Meylani, Salsabila, dan Nasywa selama lima bulan melakukan penelitian dan menyusun naskah dengan pendampingan guru pembimbing Dwi Sujatmiko akhirnya membuahkan hasil maksimal. Sebelumnya, mereka juga pernah menyabet juara II bidang ilmu pengetahuan teknik dan rekayasa KoPSI 2019. ‘’Waktu itu menciptakan sajadah elektronik sebagai penghitung jumlah rakaat salat untuk para lansia,’’ terang Asih.

Juara KoPSI tahun ini juga menjadi hadiah bagi Asih yang akan purnatugas Maret mendatang. Asih berharap Jatmiko -sapaan Dwi Sujatmiko- segera menyiapkan calon juara dalam perlombaan tingkat nasional tahun depan. Bagi pelajar SMPN 1 Jetis yang mampu menorehkan prestasi akan mendapat apresiasi berupa pembebasan biaya sekolah. ‘’Selain mendapat hadiah dari perlombaan yang diikuti, supaya mereka semangat,’’ jelasnya. (fac/hw/c1)

Most Read

Artikel Terbaru

/