alexametrics
29.8 C
Madiun
Wednesday, May 18, 2022

Usai Waduk Bendo Ponorogo Digenangi, Muncul Telaga Makam Baru

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Bermunculan telaga baru dampak genangan air Waduk Bendo yang menenggelamkan area pemakaman. Setelah Telaga Sarean, ada lagi Telaga Nglebak. Satu telaga di Desa Temon, Sawoo, dan satunya berada di Dusun Krajan, Ngadirojo, Sooko, yang lokasinya bersebelahan. Tak urung, Ponorogo bakal memiliki tiga danau melengkapi Telaga Ngebel.

Kasun Krajan, Ngadirojo, Agus Suprianto menyebut, di bawah Telaga Nglebak terdapat pemakaman umum seluas 0,2 hektare. Para ahli waris sudah memindahkan sekitar 315 makam leluhurnya itu sebelum punah. Belum ada ganti biaya pindah makam dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo. ‘’Kami sudah memindahkan seluruh makam sebelum tergenang,’’ kata Agus, Selasa (18/1/2022).

Agus mafhum pihaknya tidak mampu membuktikan kepemilikan lahan. Tak urung, BBWS Bengawan Solo yang membangun Waduk Bendo tidak dapat menganggarkan ganti rugi lahan. Agus mengatakan, lahan seluas 0,2 hektare itu milik Perusahaan Hutan Indonesia (Perhutani). ‘’Hanya ada ganti biaya pindah makam, sesuai kesepakatan dengan BBWS,’’ terangnya.

Baca Juga :  Empat Sungai Besar di Ponorogo Mendesak Dinormalisasi

Pertengahan Desember lalu, permukaan air Waduk Bendo semakin tinggi hingga menenggelamkan makam Nglebak. Perhatian khalayak yang penasaran ingin melihat Waduk Bendo akhirnya beralih ke Ngadirojo dengan munculnya telaga baru. ‘’Warga sini menyebutnya dengan Telaga Nglebak. Kalau Telaga Sarean itu masuk wilayah Desa Temon, Sawoo, yang sama-sama terdampak Waduk Bendo,’’ ujarnya.

Agus mengaku sudah berkoordinasi dengan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Ponorogo. Pemdes Ngadirojo juga sudah mengambil ancang-ancang menjadikan Telaga Nglebak sebagai objek wisata. Kelompok sadar wisata (pokdarwis) sengaja dibentuk. ‘’Yang mengelola wisata nanti dari BUMDes (badan usaha milik desa, Red),’’ jelasnya.

Kata Agus, desanya juga menerbitkan perdes tentang lingkungan hidup untuk pengelolaan wisata alam di sekitar Telaga Nglebak. Pemdes Ngadirojo kini sedang menyusun peraturan tentang desa wisata. ‘’Mengatur para pemancing, warung di sekitar telaga, dan retribusi parkir. Ini berkah untuk warga kami yang bisa meningkatkan penghasilan,’’ ungkapnya. (mg7/c1/hw/her)

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Bermunculan telaga baru dampak genangan air Waduk Bendo yang menenggelamkan area pemakaman. Setelah Telaga Sarean, ada lagi Telaga Nglebak. Satu telaga di Desa Temon, Sawoo, dan satunya berada di Dusun Krajan, Ngadirojo, Sooko, yang lokasinya bersebelahan. Tak urung, Ponorogo bakal memiliki tiga danau melengkapi Telaga Ngebel.

Kasun Krajan, Ngadirojo, Agus Suprianto menyebut, di bawah Telaga Nglebak terdapat pemakaman umum seluas 0,2 hektare. Para ahli waris sudah memindahkan sekitar 315 makam leluhurnya itu sebelum punah. Belum ada ganti biaya pindah makam dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo. ‘’Kami sudah memindahkan seluruh makam sebelum tergenang,’’ kata Agus, Selasa (18/1/2022).

Agus mafhum pihaknya tidak mampu membuktikan kepemilikan lahan. Tak urung, BBWS Bengawan Solo yang membangun Waduk Bendo tidak dapat menganggarkan ganti rugi lahan. Agus mengatakan, lahan seluas 0,2 hektare itu milik Perusahaan Hutan Indonesia (Perhutani). ‘’Hanya ada ganti biaya pindah makam, sesuai kesepakatan dengan BBWS,’’ terangnya.

Baca Juga :  Cokro Sketsa Berhimpun di Jalan HOS Cokroaminoto Ponorogo

Pertengahan Desember lalu, permukaan air Waduk Bendo semakin tinggi hingga menenggelamkan makam Nglebak. Perhatian khalayak yang penasaran ingin melihat Waduk Bendo akhirnya beralih ke Ngadirojo dengan munculnya telaga baru. ‘’Warga sini menyebutnya dengan Telaga Nglebak. Kalau Telaga Sarean itu masuk wilayah Desa Temon, Sawoo, yang sama-sama terdampak Waduk Bendo,’’ ujarnya.

Agus mengaku sudah berkoordinasi dengan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Ponorogo. Pemdes Ngadirojo juga sudah mengambil ancang-ancang menjadikan Telaga Nglebak sebagai objek wisata. Kelompok sadar wisata (pokdarwis) sengaja dibentuk. ‘’Yang mengelola wisata nanti dari BUMDes (badan usaha milik desa, Red),’’ jelasnya.

Kata Agus, desanya juga menerbitkan perdes tentang lingkungan hidup untuk pengelolaan wisata alam di sekitar Telaga Nglebak. Pemdes Ngadirojo kini sedang menyusun peraturan tentang desa wisata. ‘’Mengatur para pemancing, warung di sekitar telaga, dan retribusi parkir. Ini berkah untuk warga kami yang bisa meningkatkan penghasilan,’’ ungkapnya. (mg7/c1/hw/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/