alexametrics
29.9 C
Madiun
Wednesday, July 6, 2022

Hujan Tak Rata, Petani Mengeluh Sulit Suplai Air

PONOROGO – Musim penghujan yang tak merata berimbas buruk bagi pertanian di Desa Bancar, Kecamatan Bungkal. Sejumlah petani mengeluhkan sulitnya mendapat suplai pengairan yang mencukupi. ‘’Sudah pakai pompa dan diesel, tapi airnya gak mau naik,’’ keluh Misran, petani setempat.

Misran tak sendiri. Ada banyak petani lain yang merasakan hal serupa di musim penghujan tak merata ini. Rata-rata, tanah sawah retak-retak, meski tanaman padi sudah tampak menghijau. Padahal, panen yang tinggal hitungan bulan butuh pengairan memadai. ‘’Biasanya Desember sudah deras. Tapi, sampai Februari hujannya masih jarang-jarang,’’ kata dia.

Khawatir gagal panen, Misran sampai merogoh biaya Rp 2 juta untuk membeli air irigasi. Namun, tetap tak cukup. Sementara pengairan harus tercukupi hingga dua bulan ke depan. ‘’Saya bingung, kalau terus pakai pengairan orang keuntungan menipis. Bisa rugi,’’ ujarnya.

Baca Juga :  PAD Pariwisata Triwulan Pertama Minim

Supeno, petani lain, mengungkapkan cerita berbeda. Imbas lain belum meratanya musim penghujan adalah munculnya hama. Tanda-tanda terjangkiti virus sudah terlihat di sawahnya. Beberapa tanaman padi yang ujungnya sudah menguning terkena hama potong leher. ‘’Ini (potong leher, Red) bisa menyebabkan penurunan panen secara drastis, karena bulir padi tidak sepenuhnya terisi. Waktu dipanen, paling banyak gapuk atau kosong,’’ urainya.

Supeno juga berharap adanya sumber air yang stabil mengairi persawahan. Terlebih di masa anomali cuaca sekarang ini. Hanya dari sawah inilah, baik Misran maupun Supeno, mengais rezeki. ‘’Kalau sumber airnya ajek, walaupun tidak hujan, tanaman bisa tumbuh baik. Ini yang penting,’’ tekannya. (naz/c1/fin)

PONOROGO – Musim penghujan yang tak merata berimbas buruk bagi pertanian di Desa Bancar, Kecamatan Bungkal. Sejumlah petani mengeluhkan sulitnya mendapat suplai pengairan yang mencukupi. ‘’Sudah pakai pompa dan diesel, tapi airnya gak mau naik,’’ keluh Misran, petani setempat.

Misran tak sendiri. Ada banyak petani lain yang merasakan hal serupa di musim penghujan tak merata ini. Rata-rata, tanah sawah retak-retak, meski tanaman padi sudah tampak menghijau. Padahal, panen yang tinggal hitungan bulan butuh pengairan memadai. ‘’Biasanya Desember sudah deras. Tapi, sampai Februari hujannya masih jarang-jarang,’’ kata dia.

Khawatir gagal panen, Misran sampai merogoh biaya Rp 2 juta untuk membeli air irigasi. Namun, tetap tak cukup. Sementara pengairan harus tercukupi hingga dua bulan ke depan. ‘’Saya bingung, kalau terus pakai pengairan orang keuntungan menipis. Bisa rugi,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Dewan Siap Audiensi Relokasi

Supeno, petani lain, mengungkapkan cerita berbeda. Imbas lain belum meratanya musim penghujan adalah munculnya hama. Tanda-tanda terjangkiti virus sudah terlihat di sawahnya. Beberapa tanaman padi yang ujungnya sudah menguning terkena hama potong leher. ‘’Ini (potong leher, Red) bisa menyebabkan penurunan panen secara drastis, karena bulir padi tidak sepenuhnya terisi. Waktu dipanen, paling banyak gapuk atau kosong,’’ urainya.

Supeno juga berharap adanya sumber air yang stabil mengairi persawahan. Terlebih di masa anomali cuaca sekarang ini. Hanya dari sawah inilah, baik Misran maupun Supeno, mengais rezeki. ‘’Kalau sumber airnya ajek, walaupun tidak hujan, tanaman bisa tumbuh baik. Ini yang penting,’’ tekannya. (naz/c1/fin)

Most Read

Artikel Terbaru

/