alexametrics
29.7 C
Madiun
Friday, May 13, 2022

Potret Guru Honorer di Ponorogo, Tinggali Rumah Bersemen Tanah Nyaris Roboh

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Nasib belum berpihak ke Siti Maimanah. Kendati titelnya sarjana kependidikan. Pun, kesehariannya sebagai pengajar di salah satu lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD) tak jauh dari rumahnya di Jalan Kawung, Gang II, Kelurahan Mangunsuman, Siman, Ponorogo.

Tempat tinggal yang didiami ibu seorang anak bersama suaminya itu tidak lagi layak huni. Dinding teras retak-retak dan satu sisi dinding lagi sengaja disangga bambu. Beberapa bagian atap juga bocor. Bahkan, bangunan dapur dan satu kamar kini sudah rata tanah. Pasangan bata berikut plesteran bangunan rumah itu masih berbahan tanah liat hingga rentan ambruk. ‘’Rumah peninggalan orang tua, tidak kuat diguyur air hujan,’’ ujar perempuan 31 tahun tersebut, Rabu (19/1/2022).

Honorarium Siti sebagai guru PAUD tidak seberapa. Penghasilan suaminya yang seorang pekerja bangunan tak menentu pula. Pun, Siti kini tengah mengandung enam bulan. Cita-cita Siti menjadi guru fisika di sekolah menengah sudah ditanggalkan lama. Surat lamaran yang dikirim ke sejumlah sekolah tidak berbalas. ‘’Saya mengajar di PAUD sudah tujuh tahun, statusnya guru honorer,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  3856 GTT dan PTT Jadi Peserta BPJS Ketenagakerjaan

Bersamaan penghujan sekarang ini, Siti sekeluarga tidak dapat nyenyak tidur. Mereka sengaja mengungsi di teras tatkala hujan turun. Khawatir bangunan rumah roboh sewaktu-waktu. Kondisi Siti itu akhirnya mengundang keprihatinan sejumlah pihak. Masyarakat setempat sengaja membentuk panitia pembangunan rumah. ‘’Tanah warisan harus dibagi dengan lima saudara yang lain,’’ jelas Siti.

Dia mendapat bagian tanah kosong di sisi depan. Panitia sudah memasang patok untuk calon fondasi. Sumbangan berdatangan dari PGRI Ponorogo, Baznas, LAZISNU, perwakilan PAUD, dan iuran tetangga. Siti sekeluarga bakal menghuni rumah baru seluas 35 meter persegi. ‘’Minggu depan (23/1) mulai dibangun, kata panitia sebulan selesai. Terima kasih sudah ada yang membantu, saya merasa beruntung berada di lingkungan masyarakat yang memiliki kepedulian,’’ akunya. (fac/hw/c1)

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Nasib belum berpihak ke Siti Maimanah. Kendati titelnya sarjana kependidikan. Pun, kesehariannya sebagai pengajar di salah satu lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD) tak jauh dari rumahnya di Jalan Kawung, Gang II, Kelurahan Mangunsuman, Siman, Ponorogo.

Tempat tinggal yang didiami ibu seorang anak bersama suaminya itu tidak lagi layak huni. Dinding teras retak-retak dan satu sisi dinding lagi sengaja disangga bambu. Beberapa bagian atap juga bocor. Bahkan, bangunan dapur dan satu kamar kini sudah rata tanah. Pasangan bata berikut plesteran bangunan rumah itu masih berbahan tanah liat hingga rentan ambruk. ‘’Rumah peninggalan orang tua, tidak kuat diguyur air hujan,’’ ujar perempuan 31 tahun tersebut, Rabu (19/1/2022).

Honorarium Siti sebagai guru PAUD tidak seberapa. Penghasilan suaminya yang seorang pekerja bangunan tak menentu pula. Pun, Siti kini tengah mengandung enam bulan. Cita-cita Siti menjadi guru fisika di sekolah menengah sudah ditanggalkan lama. Surat lamaran yang dikirim ke sejumlah sekolah tidak berbalas. ‘’Saya mengajar di PAUD sudah tujuh tahun, statusnya guru honorer,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Wisata Pulung Merdiko Nyekar Raden Jayengrono

Bersamaan penghujan sekarang ini, Siti sekeluarga tidak dapat nyenyak tidur. Mereka sengaja mengungsi di teras tatkala hujan turun. Khawatir bangunan rumah roboh sewaktu-waktu. Kondisi Siti itu akhirnya mengundang keprihatinan sejumlah pihak. Masyarakat setempat sengaja membentuk panitia pembangunan rumah. ‘’Tanah warisan harus dibagi dengan lima saudara yang lain,’’ jelas Siti.

Dia mendapat bagian tanah kosong di sisi depan. Panitia sudah memasang patok untuk calon fondasi. Sumbangan berdatangan dari PGRI Ponorogo, Baznas, LAZISNU, perwakilan PAUD, dan iuran tetangga. Siti sekeluarga bakal menghuni rumah baru seluas 35 meter persegi. ‘’Minggu depan (23/1) mulai dibangun, kata panitia sebulan selesai. Terima kasih sudah ada yang membantu, saya merasa beruntung berada di lingkungan masyarakat yang memiliki kepedulian,’’ akunya. (fac/hw/c1)

Most Read

Artikel Terbaru

/