alexametrics
27.8 C
Madiun
Monday, May 23, 2022

Reyog Masuk Nominasi Tiga Besar Warisan Budaya Tak Benda UNESCO

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Selangkah lagi, reyog menjadi warisan budaya tak benda dari United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO). Itu setelah reyog masuk dalam tiga besar nominasi Intangible Cultural Heritage (ICH) Unesco. Keputusan itu disampaikan Direktorat Perlindungan, Kebudayaan, Direktoral Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) kemarin (18/2).

Reyog harus bersaing dengan tempe dan budaya sehat jamu dalam nominasi tunggal. Penilaian selanjutnya, dewan juri bakal melihat paparan naskah akademik, sepuluh foto, dan video berdurasi 10 menit. Pemkab Ponorogo wajib mengirimkan persyaratan itu paling lambat 14 Maret mendatang. ‘’Tim bergerak mengerjakan persyaratan. Kami sajikan yang terbaik, mudah-mudahan reyog terpilih,’’ kata Kang Giri (KG), sapaan Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko, Sabtu (19/2).

Reyog layak ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda. Selain warisan budaya adi luhung, pecah konflik akibat klaim negara tetangga di era 2000-an lalu patut menjadi pertimbangan. Apalagi kesadaran warga setempat melestarikan kesenian reyog terbilang tinggi. ‘’Mudah-mudahan pelestarian dan regenerasi terus berjalan. Masyarakat memiliki, semua sekolah punya peranti reyog untuk ekstrakurikuler,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Siapkan Rp 11 Miliar, Pemkab Ponorogo Tebus 1.125 Unit Laptop

Sugiri memastikan bahan baku reyog ramah lingkungan. Kepala barongan yang dulunya masih menggunakan kulit harimau telah berganti kulit kambing. Penangkaran burung merak juga telah menjamur di setiap desa. Pemanfaatan bulunya menyesuaikan proses biologis secara alami. Merak mengalami fase melepaskan bulu (molting). Proses itu harus berjalan alami agar merak berkesempatan memiliki bulu baru. ‘’Justru itu limbah dan kita manfaatkan, jadi tidak merusak ekologi,’’ tegasnya.

Pemanfaatan bahan baku itu seiring kesadaran masyarakat melestarikan hewan yang dilindungi, yakni merak dan harimau. KG mendefinisikan reyog tidak sekadar dadak merak. Melainkan perpaduan seni drama dan musik. ‘’Musiknya memadukan unsur pelog dan slendro jadi satu, itu sulit karena notasinya sendiri-sendiri,’’ ujarnya.

Warga Ponorogo menyambut kabar gembira tersebut. Untuk merayakannya, KG spontan nanggap reyog di Pendapa Pemkab Ponorogo tadi malam (18/2). Dia ingin seluruh masyarakat memberikan dukungan agar reyog terpilih menjadi warisan budaya tak benda dari UNESCO. ‘’Saya pikir juri layak memilih reyog,’’ ucapnya. (kid/c1/fin/her)

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Selangkah lagi, reyog menjadi warisan budaya tak benda dari United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO). Itu setelah reyog masuk dalam tiga besar nominasi Intangible Cultural Heritage (ICH) Unesco. Keputusan itu disampaikan Direktorat Perlindungan, Kebudayaan, Direktoral Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) kemarin (18/2).

Reyog harus bersaing dengan tempe dan budaya sehat jamu dalam nominasi tunggal. Penilaian selanjutnya, dewan juri bakal melihat paparan naskah akademik, sepuluh foto, dan video berdurasi 10 menit. Pemkab Ponorogo wajib mengirimkan persyaratan itu paling lambat 14 Maret mendatang. ‘’Tim bergerak mengerjakan persyaratan. Kami sajikan yang terbaik, mudah-mudahan reyog terpilih,’’ kata Kang Giri (KG), sapaan Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko, Sabtu (19/2).

Reyog layak ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda. Selain warisan budaya adi luhung, pecah konflik akibat klaim negara tetangga di era 2000-an lalu patut menjadi pertimbangan. Apalagi kesadaran warga setempat melestarikan kesenian reyog terbilang tinggi. ‘’Mudah-mudahan pelestarian dan regenerasi terus berjalan. Masyarakat memiliki, semua sekolah punya peranti reyog untuk ekstrakurikuler,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Selidiki Rider Bleyer-Bleyer di Telaga Ngebel

Sugiri memastikan bahan baku reyog ramah lingkungan. Kepala barongan yang dulunya masih menggunakan kulit harimau telah berganti kulit kambing. Penangkaran burung merak juga telah menjamur di setiap desa. Pemanfaatan bulunya menyesuaikan proses biologis secara alami. Merak mengalami fase melepaskan bulu (molting). Proses itu harus berjalan alami agar merak berkesempatan memiliki bulu baru. ‘’Justru itu limbah dan kita manfaatkan, jadi tidak merusak ekologi,’’ tegasnya.

Pemanfaatan bahan baku itu seiring kesadaran masyarakat melestarikan hewan yang dilindungi, yakni merak dan harimau. KG mendefinisikan reyog tidak sekadar dadak merak. Melainkan perpaduan seni drama dan musik. ‘’Musiknya memadukan unsur pelog dan slendro jadi satu, itu sulit karena notasinya sendiri-sendiri,’’ ujarnya.

Warga Ponorogo menyambut kabar gembira tersebut. Untuk merayakannya, KG spontan nanggap reyog di Pendapa Pemkab Ponorogo tadi malam (18/2). Dia ingin seluruh masyarakat memberikan dukungan agar reyog terpilih menjadi warisan budaya tak benda dari UNESCO. ‘’Saya pikir juri layak memilih reyog,’’ ucapnya. (kid/c1/fin/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/