alexametrics
30.3 C
Madiun
Monday, May 23, 2022

Transisi Pandemi ke Endemi, Optimistis Ekonomi Akar Rumput Berdenyut Lagi

PONOROGO, Jawa Pso Radar Madiun – Pandemi menuju endemi mengembuskan angin segar ke segala penjuru. Keran ekonomi yang selama ini tersumbat bakal terbuka lebar seiring dilonggarkannya segala aktivitas sosial kemasyarakatan. Kebijakan yang tengah digodok pemerintah pusat itu bakal mengembalikan ekonomi ke prinsip dasarnya: ada orang ada uang.

Ekonom Fery Setiawan berpandangan bahwa peralihan status epidemiologi itu bakal memberikan oase bagi pelaku perniagaan. Mulai yang berskala besar hingga yang berniaga di pasar tradisional. Juga menyelamatkan denyut nadi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang sempat mati suri. ‘’Ekonomi memang belum pulih 100 persen. Tetap butuh adaptasi dan setidaknya tahun ini sudah pulih 75 persen,’’ kata dosen Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Ponorogo itu, Sabtu (19/3).

Fery optimistis mata rantai ekonomi yang semula putus atau berkarat bakal berputar kembali. Contoh kecilnya, resepsi pernikahan maupun hajatan yang kembali diizinkan tanpa pembatasan. Maka, usaha penunjangnya bakal terpulihkan. ‘’Usaha kuliner juga hidup kembali dan semua ini akan sambung-menyambung dengan usaha lain,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Khofifah Perintahkan Disperindag Jatim Turun Tangan Pantau Harga Migor

Produktivitas UMKM turut mempercepat pemulihan ekonomi. Tidak terkecuali di sektor pariwisata. Sektor akar rumput ini yang selama ini paling terdampak. Di tahun pertama pandemi, mereka harus memutar otak agar dapat bertahan. Salah satunya melalui digitalisasi marketing. ‘’Yang jadi diskusi kami adalah resiliensi atau kemampuan beradaptasi dan bertahan UMKM dalam menghadapi pandemi,’’ tuturnya.

Meski tidak sedikit UMKM memilih gulung tikar, senyatanya masih ada yang mampu menelurkan inovasi. Fery tunjuk bukti salah satu pelaku UMKM produksi jamur. Justru ketika pandemi sanggup merambah pasar yang lebih luas. ‘’Masalah itu dijadikan tantangan dan dijawab dengan digitalisasi marketing yang membuat pasarnya merambah ke berbagai daerah,’’ urainya.

Di sisi lain, Fery menilai tahun ini masih menjadi tahun berat bagi perusahaan-perusahaan besar. Butuh waktu lebih lama bagi setiap korporasi untuk beradaptasi. Setidaknya, endemi menjadi awal titik balik bagi perusahaan besar untuk bangkit kembali. ‘’Titik tekannya pada aktivitas sosial. Jika endemi, maka pembatasan tidak ada lagi. Mata rantai ekonomi pasti jalan lagi,’’ pungkasnya. (kid/c1/fin/her)

PONOROGO, Jawa Pso Radar Madiun – Pandemi menuju endemi mengembuskan angin segar ke segala penjuru. Keran ekonomi yang selama ini tersumbat bakal terbuka lebar seiring dilonggarkannya segala aktivitas sosial kemasyarakatan. Kebijakan yang tengah digodok pemerintah pusat itu bakal mengembalikan ekonomi ke prinsip dasarnya: ada orang ada uang.

Ekonom Fery Setiawan berpandangan bahwa peralihan status epidemiologi itu bakal memberikan oase bagi pelaku perniagaan. Mulai yang berskala besar hingga yang berniaga di pasar tradisional. Juga menyelamatkan denyut nadi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang sempat mati suri. ‘’Ekonomi memang belum pulih 100 persen. Tetap butuh adaptasi dan setidaknya tahun ini sudah pulih 75 persen,’’ kata dosen Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Ponorogo itu, Sabtu (19/3).

Fery optimistis mata rantai ekonomi yang semula putus atau berkarat bakal berputar kembali. Contoh kecilnya, resepsi pernikahan maupun hajatan yang kembali diizinkan tanpa pembatasan. Maka, usaha penunjangnya bakal terpulihkan. ‘’Usaha kuliner juga hidup kembali dan semua ini akan sambung-menyambung dengan usaha lain,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Awas Bom Waktu Omicron, Kasus Aktif Covid-19 di Ponorogo Capai Belasan

Produktivitas UMKM turut mempercepat pemulihan ekonomi. Tidak terkecuali di sektor pariwisata. Sektor akar rumput ini yang selama ini paling terdampak. Di tahun pertama pandemi, mereka harus memutar otak agar dapat bertahan. Salah satunya melalui digitalisasi marketing. ‘’Yang jadi diskusi kami adalah resiliensi atau kemampuan beradaptasi dan bertahan UMKM dalam menghadapi pandemi,’’ tuturnya.

Meski tidak sedikit UMKM memilih gulung tikar, senyatanya masih ada yang mampu menelurkan inovasi. Fery tunjuk bukti salah satu pelaku UMKM produksi jamur. Justru ketika pandemi sanggup merambah pasar yang lebih luas. ‘’Masalah itu dijadikan tantangan dan dijawab dengan digitalisasi marketing yang membuat pasarnya merambah ke berbagai daerah,’’ urainya.

Di sisi lain, Fery menilai tahun ini masih menjadi tahun berat bagi perusahaan-perusahaan besar. Butuh waktu lebih lama bagi setiap korporasi untuk beradaptasi. Setidaknya, endemi menjadi awal titik balik bagi perusahaan besar untuk bangkit kembali. ‘’Titik tekannya pada aktivitas sosial. Jika endemi, maka pembatasan tidak ada lagi. Mata rantai ekonomi pasti jalan lagi,’’ pungkasnya. (kid/c1/fin/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/