alexametrics
23.8 C
Madiun
Friday, August 19, 2022

Obat PMK Semakin Langka, Pemkab Ponorogo Pesan 600 Dikirim 400 Botol

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Obat sapi sakit penyakit mulut dan kuku (PMK) kian langka di pasaran. Tingginya permintaan tak sebanding jumlah produksi. Penyedia dibuat kalang kabut memenuhi permintaan konsumen.

Problem ini turut dirasakan Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (Dispertahankan) Ponorogo. Pesanan obat sejak beberapa waktu lalu baru dikirimkan Jumat (17/6). Pun, jumlahnya kurang dari pesanan. ‘’Obatnya sudah datang, tapi tidak sesuai jumlah yang kami minta,’’ kata Kepala Dispertahankan Ponorogo Masun, Minggu (19/6).

Dispertahankan memesan empat jenis antibiotik ke pihak penyedia. Masing-masing jenis 600 botol. Namun, penyedia baru sanggup memenuhi satu jenis. Pun, jumlahnya hanya 400 botol. Kendati tidak sesuai pesanan, setidaknya obat telah terdistribusikan. ‘’Dibanding dengan sebaran kasus, ya tentu belum ideal,’’ ungkapnya.

Masun menegaskan, obat tersebut tidak sebanding dengan laporan kasus PMK. Per 14 Juni lalu, tercatat laporan kasus mencapai 4.000. Pihaknya tak mampu berbuat apa-apa kendati pabrik kewalahan memenuhi permintaan. ‘’Coba bayangkan, ketika pabrik semula produksi normal, tiba-tiba permintaannya meningkat. Akhirnya di lapangan rebutan, pasar semakin langka. Kalau sudah seperti ini mau nyalahin siapa?’’ tanyanya balik.

Baca Juga :  Ponorogo Nihil Sengketa Pilkades Serentak

Setidaknya, Masun sedikit lega. Dispertahankan telah menjalin kerja sama dengan pihak ketiga yang sanggup memasok berbagai jenis obat dari seluruh pabrikan. Namun, pengirimannya hanya disanggupi dua pekan sekali. ‘’Paling tidak sedikit terurai, sudah ada perjanjian dengan satu penyedia,’’ ujarnya.

Disinggung peternak yang sampai harus mencari obat sendiri, Masun mengembalikannya pada regulasi. Jika dalam regulasi diatur kewajiban pemerintah membiayai seluruh pengobatan, maka bakal diganti. ‘’Tapi, regulasi terkait itu belum ada,’’ ucapnya. (kid/c1/fin)

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Obat sapi sakit penyakit mulut dan kuku (PMK) kian langka di pasaran. Tingginya permintaan tak sebanding jumlah produksi. Penyedia dibuat kalang kabut memenuhi permintaan konsumen.

Problem ini turut dirasakan Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (Dispertahankan) Ponorogo. Pesanan obat sejak beberapa waktu lalu baru dikirimkan Jumat (17/6). Pun, jumlahnya kurang dari pesanan. ‘’Obatnya sudah datang, tapi tidak sesuai jumlah yang kami minta,’’ kata Kepala Dispertahankan Ponorogo Masun, Minggu (19/6).

Dispertahankan memesan empat jenis antibiotik ke pihak penyedia. Masing-masing jenis 600 botol. Namun, penyedia baru sanggup memenuhi satu jenis. Pun, jumlahnya hanya 400 botol. Kendati tidak sesuai pesanan, setidaknya obat telah terdistribusikan. ‘’Dibanding dengan sebaran kasus, ya tentu belum ideal,’’ ungkapnya.

Masun menegaskan, obat tersebut tidak sebanding dengan laporan kasus PMK. Per 14 Juni lalu, tercatat laporan kasus mencapai 4.000. Pihaknya tak mampu berbuat apa-apa kendati pabrik kewalahan memenuhi permintaan. ‘’Coba bayangkan, ketika pabrik semula produksi normal, tiba-tiba permintaannya meningkat. Akhirnya di lapangan rebutan, pasar semakin langka. Kalau sudah seperti ini mau nyalahin siapa?’’ tanyanya balik.

Baca Juga :  Kartinian, Adu Kreasi Tumpeng Nasi Kuning

Setidaknya, Masun sedikit lega. Dispertahankan telah menjalin kerja sama dengan pihak ketiga yang sanggup memasok berbagai jenis obat dari seluruh pabrikan. Namun, pengirimannya hanya disanggupi dua pekan sekali. ‘’Paling tidak sedikit terurai, sudah ada perjanjian dengan satu penyedia,’’ ujarnya.

Disinggung peternak yang sampai harus mencari obat sendiri, Masun mengembalikannya pada regulasi. Jika dalam regulasi diatur kewajiban pemerintah membiayai seluruh pengobatan, maka bakal diganti. ‘’Tapi, regulasi terkait itu belum ada,’’ ucapnya. (kid/c1/fin)

Most Read

Artikel Terbaru

/