alexametrics
24.2 C
Madiun
Friday, May 27, 2022

Aset Daerah di Terminal Seloaji Mangkrak

PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo – Separo bagian aset Terminal Seloaji sekarat. Dua tahun terakhir, bangunan sisi timur yang tidak ikut dilimpahkan ke pusat mangkrak. ‘’Kami hanya memfungsikan area sisi barat,’’ kata Kepala Satuan Pelaksana Terminal Tipe A Seloaji Eko Hadi Prasetyo Rabu (18/9).

Secara keseluruhan, kompleks Terminal Seloaji menempati tanah seluas tujuh hektare. Saat pelimpahan 2017 lalu, rupanya hanya empat hektare area di sisi barat yang dilimpahkan. Itu pun tidak semua. Ruang terbuka hijau dan area parkir sepeda motor di sisi barat masih menjadi milik daerah. Sementara di sisi timur, seluruh tanah plus bangunan peron lama juga masih berstatus aset pemkab setempat. ‘’Tiga hektare lebih statusnya masih menjadi aset Pemkab Ponorogo,’’ ujarnya.

Kenapa tidak ikut dilimpahkan? Eko menyebut, daerah tentu punya pertimbangan tersendiri. Kala itu, negosiasi antara pusat dan daerah menyepakati hanya empat hektare yang dilimpahkan ke Kemenhub. ‘’Akhirnya pemerintah pusat hanya membangun di area barat,’’ tutur mantan kepala terminal di Surabaya itu.

Baca Juga :  Perkuat Sinergi Tangkal Pandemi

Diakui Eko, kebanyakan daerah memang cukup berat melepas aset seiring kebijakan baru tersebut. Termasuk beberapa jembatan timbang yang juga diambil alih oleh Kemenhub per 2017 lalu. ‘’Mereka eman karena menjadi salah satu pos pendapatan asli daerah (PAD). Termasuk saat ini, daerah masih memungut retribusi khusus untuk parkir sepeda motor, karena status asetnya masih milik daerah,’’ terang Eko.

Eko sejatinya ikut menyayangkan nasib bangunan tersebut. Kondisinya masih relatif bagus, namun tidak difungsikan untuk apa pun. Bahkan, kini terkesan kumuh. Pihaknya sempat berkomunikasi dengan pemkab setempat terkait pemanfaatan eks peron terminal. Untuk sementara ini, area terbukanya hanya dimanfaatkan operator bus untuk pemeliharaan armada. ‘’Cuci kendaraan atau perbaikan ringan,’’ sebutnya. (naz/c1/fin)

PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo – Separo bagian aset Terminal Seloaji sekarat. Dua tahun terakhir, bangunan sisi timur yang tidak ikut dilimpahkan ke pusat mangkrak. ‘’Kami hanya memfungsikan area sisi barat,’’ kata Kepala Satuan Pelaksana Terminal Tipe A Seloaji Eko Hadi Prasetyo Rabu (18/9).

Secara keseluruhan, kompleks Terminal Seloaji menempati tanah seluas tujuh hektare. Saat pelimpahan 2017 lalu, rupanya hanya empat hektare area di sisi barat yang dilimpahkan. Itu pun tidak semua. Ruang terbuka hijau dan area parkir sepeda motor di sisi barat masih menjadi milik daerah. Sementara di sisi timur, seluruh tanah plus bangunan peron lama juga masih berstatus aset pemkab setempat. ‘’Tiga hektare lebih statusnya masih menjadi aset Pemkab Ponorogo,’’ ujarnya.

Kenapa tidak ikut dilimpahkan? Eko menyebut, daerah tentu punya pertimbangan tersendiri. Kala itu, negosiasi antara pusat dan daerah menyepakati hanya empat hektare yang dilimpahkan ke Kemenhub. ‘’Akhirnya pemerintah pusat hanya membangun di area barat,’’ tutur mantan kepala terminal di Surabaya itu.

Baca Juga :  Reyog Menolak Punah, Pemkab Ponorogo Kirim Naskah Akademik ke Kemendikbud

Diakui Eko, kebanyakan daerah memang cukup berat melepas aset seiring kebijakan baru tersebut. Termasuk beberapa jembatan timbang yang juga diambil alih oleh Kemenhub per 2017 lalu. ‘’Mereka eman karena menjadi salah satu pos pendapatan asli daerah (PAD). Termasuk saat ini, daerah masih memungut retribusi khusus untuk parkir sepeda motor, karena status asetnya masih milik daerah,’’ terang Eko.

Eko sejatinya ikut menyayangkan nasib bangunan tersebut. Kondisinya masih relatif bagus, namun tidak difungsikan untuk apa pun. Bahkan, kini terkesan kumuh. Pihaknya sempat berkomunikasi dengan pemkab setempat terkait pemanfaatan eks peron terminal. Untuk sementara ini, area terbukanya hanya dimanfaatkan operator bus untuk pemeliharaan armada. ‘’Cuci kendaraan atau perbaikan ringan,’’ sebutnya. (naz/c1/fin)

Most Read

Artikel Terbaru

/