alexametrics
26.8 C
Madiun
Thursday, September 29, 2022

Pasien DBD di Ponorogo Tak Meningkat Signifikan

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Demam berdarah dengue (DBD) di Ponorogo fluktuatif. Hingga 19 September, RSUD dr Harjono telah menangani 12 kasus. Pekan pertama (4-10 September) terdapat sembilan kasus, pekan kedua (11-19 September) tiga kasus DBD. ‘’Data yang saya terima pagi, ada tiga pasien. Tapi, siangnya tersisa satu pasien, dua sudah pulang,’’ kata S. Joko Handoko, Kasubag humas dan publikasi RSUD dr Harjono, Kamis (22/9).

Jumlah pasien DBD yang ditangani sama dengan kasus bulan ini. Berdasarkan database pasien tahun sebelumnya, pasien DBD semakin melonjak saat awal penghujan. ‘’Perawatan biasanya maksimal sampai sepekan,’’ lanjutnya.

Populasi nyamuk Aedes aegypti meningkat saat penghujan. Tempat yang lembap dan tergenang memudahkan perkembangbiakan. ‘’Bulan ini jumlah pasien DBD tidak signifikan. Meski begitu, kita harus selalu waspada,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Kadinkes Pacitan: Anak Flu atau Demam Bisa Tunda Vaksinasi

Mayoritas pasien DBD merupakan anak-anak usia 1-7 tahun. Rahmawati Dwi Kartika Rini, ibu pasien anak berusia tujuh tahun, menceritakan ihwal gejala yang dialami buah hatinya. Diawali badan lesu pada Rabu (14/9) malam. Keesokan harinya muntah dan deman. Seketika, diberikan obat penurun panas. ‘’Dua hari panasnya sempat turun, tapi batuk dan pileknya masih,’’ kata Ika, sapaannya.

Sepekan kemudian, anaknya kembali muntah dan demam hingga 39,5 derajat. Kemudian, dibawa ke RSUD dr Harjono untuk cek laboratorium. ‘’Trombositnya pas 150, tapi leukositnya saat itu rendah. Sekarang alhamdulillah anaknya sudah mau makan dan tidak panas lagi,’’ ucapnya lega. (mg2/kid/c1/fin)

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Demam berdarah dengue (DBD) di Ponorogo fluktuatif. Hingga 19 September, RSUD dr Harjono telah menangani 12 kasus. Pekan pertama (4-10 September) terdapat sembilan kasus, pekan kedua (11-19 September) tiga kasus DBD. ‘’Data yang saya terima pagi, ada tiga pasien. Tapi, siangnya tersisa satu pasien, dua sudah pulang,’’ kata S. Joko Handoko, Kasubag humas dan publikasi RSUD dr Harjono, Kamis (22/9).

Jumlah pasien DBD yang ditangani sama dengan kasus bulan ini. Berdasarkan database pasien tahun sebelumnya, pasien DBD semakin melonjak saat awal penghujan. ‘’Perawatan biasanya maksimal sampai sepekan,’’ lanjutnya.

Populasi nyamuk Aedes aegypti meningkat saat penghujan. Tempat yang lembap dan tergenang memudahkan perkembangbiakan. ‘’Bulan ini jumlah pasien DBD tidak signifikan. Meski begitu, kita harus selalu waspada,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Aliansi Mahasiswa Tolak People Power

Mayoritas pasien DBD merupakan anak-anak usia 1-7 tahun. Rahmawati Dwi Kartika Rini, ibu pasien anak berusia tujuh tahun, menceritakan ihwal gejala yang dialami buah hatinya. Diawali badan lesu pada Rabu (14/9) malam. Keesokan harinya muntah dan deman. Seketika, diberikan obat penurun panas. ‘’Dua hari panasnya sempat turun, tapi batuk dan pileknya masih,’’ kata Ika, sapaannya.

Sepekan kemudian, anaknya kembali muntah dan demam hingga 39,5 derajat. Kemudian, dibawa ke RSUD dr Harjono untuk cek laboratorium. ‘’Trombositnya pas 150, tapi leukositnya saat itu rendah. Sekarang alhamdulillah anaknya sudah mau makan dan tidak panas lagi,’’ ucapnya lega. (mg2/kid/c1/fin)

Most Read

Artikel Terbaru

/