alexametrics
28.4 C
Madiun
Monday, June 27, 2022

182 Ekor Sapi di Ponorogo Mati Gegara PMK, Tiap Penguburan Habis Rp 500 Ribu

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Kasus kematian akibat penyakit mulut dan kuku (PMK) tembus 182 ekor. Seluruhnya berasal dari Kecamatan Pudak yang menjadi konsentrasi penanganan dua pekan terakhir. Hampir setiap hari, warga setempat bergotong royong menguburkan sapi yang sudah tak tertolong lagi.

Tak ada alat berat untuk membantu penggalian. Tiap desa telah dibentuk tim pemakaman. Mereka merupakan warga yang setiap harinya menggali lubang sedalam 3-4 meter. Mereka juga bersama-sama mengangkat sapi mati untuk dinaikkan ke pikap sebelum dibawa menuju lokasi penguburan. ‘’Kami kedepankan gotong royong,’’ kata Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko.

Kang Giri, sapaan bupati, tidak memilih mendatangkan alat berat agar tradisi gotong royong tetap berjalan. Sebagai gantinya, pemkab nalangi biaya penguburan. Tiap ekor sapi diberikan bantuan Rp 500 ribu. ‘’Biaya diberikan ke tim pemakaman, Rp 500 ribu setiap sapi meninggal. Mulai saya ngantor di sini berjalan seperti itu,’’ lanjutnya.

Baca Juga :  Belasan Kendaraan Dipasangi Rotator Terjaring Razia Polisi

Pemandangan proses penguburan seperti terlihat di Desa Krisik kemarin (22/6). Kades Krisik Erwan Susanto mengungkapkan, kemarin pagi warga telah menguburkan lima ekor sapi. Satu di antaranya merupakan sapi miliknya. ‘’Punya saya satu sudah mati, ini tambah satu lagi,’’ kata Erwan.

Erwan menyebutkan, sapi yang mati rata-rata bergejala berat. Tidak sanggup berdiri, tidak mau makan, dan lemas. Tren kasus kematian di desanya meningkat beberapa hari terakhir. Sebelumnya, eskalasi kasus kematian tertinggi berada di Desa Pudak Kulon. ‘’Hampir setiap hari menerima laporan sapi mati,’’ ujarnya.

Biasanya, warga segera mengobral sapi yang dinilai peluang sembuhnya kecil. Harganya berkisar Rp 1,5 juta sampai Rp 4 juta. Hingga kemarin (22/6) total sapi yang dijual atau dipotong bersyarat itu tembus 306 ekor di Pudak. Data update harian itu laporan dari diskominfo setempat. (kid/c1/fin)

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Kasus kematian akibat penyakit mulut dan kuku (PMK) tembus 182 ekor. Seluruhnya berasal dari Kecamatan Pudak yang menjadi konsentrasi penanganan dua pekan terakhir. Hampir setiap hari, warga setempat bergotong royong menguburkan sapi yang sudah tak tertolong lagi.

Tak ada alat berat untuk membantu penggalian. Tiap desa telah dibentuk tim pemakaman. Mereka merupakan warga yang setiap harinya menggali lubang sedalam 3-4 meter. Mereka juga bersama-sama mengangkat sapi mati untuk dinaikkan ke pikap sebelum dibawa menuju lokasi penguburan. ‘’Kami kedepankan gotong royong,’’ kata Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko.

Kang Giri, sapaan bupati, tidak memilih mendatangkan alat berat agar tradisi gotong royong tetap berjalan. Sebagai gantinya, pemkab nalangi biaya penguburan. Tiap ekor sapi diberikan bantuan Rp 500 ribu. ‘’Biaya diberikan ke tim pemakaman, Rp 500 ribu setiap sapi meninggal. Mulai saya ngantor di sini berjalan seperti itu,’’ lanjutnya.

Baca Juga :  Kacau Balau Data PMK, Belasan Sapi di Ponorogo Mati dalam Sehari

Pemandangan proses penguburan seperti terlihat di Desa Krisik kemarin (22/6). Kades Krisik Erwan Susanto mengungkapkan, kemarin pagi warga telah menguburkan lima ekor sapi. Satu di antaranya merupakan sapi miliknya. ‘’Punya saya satu sudah mati, ini tambah satu lagi,’’ kata Erwan.

Erwan menyebutkan, sapi yang mati rata-rata bergejala berat. Tidak sanggup berdiri, tidak mau makan, dan lemas. Tren kasus kematian di desanya meningkat beberapa hari terakhir. Sebelumnya, eskalasi kasus kematian tertinggi berada di Desa Pudak Kulon. ‘’Hampir setiap hari menerima laporan sapi mati,’’ ujarnya.

Biasanya, warga segera mengobral sapi yang dinilai peluang sembuhnya kecil. Harganya berkisar Rp 1,5 juta sampai Rp 4 juta. Hingga kemarin (22/6) total sapi yang dijual atau dipotong bersyarat itu tembus 306 ekor di Pudak. Data update harian itu laporan dari diskominfo setempat. (kid/c1/fin)

Most Read

Artikel Terbaru

/