23.9 C
Madiun
Tuesday, March 21, 2023

Hanya Desa Duri yang Terdampak Kemarau Tahun Ini di Ponorogo

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Wilayah terdampak kekeringan air bersih tahun ini menurun. Sejauh ini, BPBD Ponorogo hanya menyuplai air bersih ke Dusun Jenggring dan Banyuripan, Desa Duri, Slahung. Padahal, tahun-tahun sebelumnya, pada bulan-bulan ini BPBD berkirim air bersih ke beberapa wilayah lain.

Khusus Dusun Banyuripan, Desa Duri, Slahung, kekeringan telah melanda sejak Mei. Warga harus menempuh perjalanan sejauh empat kilometer untuk mendapatkan air bersih. Sebab, sumur di dusun tersebut telah mengering. ‘’Sejak Mei sumur kering, jalan empat kilometer,’’ kata Tukirah, warga setempat, Jumat (23/9).

Warga setempat semringah saat mendapatkan dropping air bersih kemarin (22/9). Warga berbondong-bondong mengantre sembari membawa jeriken. Jarwoto, warga setempat, datang membawa 10 jeriken berkapasitas 20 liter tiap jeriken. Air bersih itu dimanfaatkan untuk minum, masak, mandi, serta untuk hewan ternak. ‘’Sehari langsung habis. Apalagi kalau musim kemarau, bisa lebih dari itu,’’ ucap Jarwoto.

Persoalan kekeringan di wilayah setempat disebabkan faktor geografis. Wilayah Dusun Banyuripan berada di atas bukit. Kondisi itu membuat warga kesulitan mendapatkan saluran air dari sumber air yang ada di wilayah bawah. Selain itu, debit air sumur tidak mampu mencukupi kebutuhan warga. ‘’Karena daerahnya terlalu tinggi, saluran air tidak bisa sampai ke sini,’’ lanjutnya.

Baca Juga :  BPBD Magetan Antisipasi Kekeringan di Tiga Kecamatan

Dusun Banyuripan dan Jenggring, Desa Duri, Slahung, merupakan wilayah yang masih menjadi langganan kekeringan. Berdasarkan pemetaan BPBD Ponorogo, wilayah terdampak kekeringan tahun ini menurun. Desa Wates (Slahung) dan Karangpatihan (Pulung) yang tahun-tahun sebelumnya termasuk dalam wilayah kekeringan, hingga kini belum mengajukan dropping.

‘’Tahun ini BPBD hanya mendapat permintaan suplai air bersih ke Desa Duri, total dua tangki kapasitas 6 liter. Kami kirim tiap Senin dan Kamis,’’ kata Kabid Kedaruratan Logistik BPBD Ponorogo Surono.

Adapun jumlah warga terdampak kekeringan di dua dusun itu lumayan banyak. Kekeringan di Dusun Jenggring dirasakan oleh 146 jiwa, 56 kepala keluarga (KK), dan ternak milik warga. Sementara, di Dusun Banyuripan sedikitnya 22 KK terdampak. ‘’Sumber air warga kering biasanya mulai Agustus sampai dengan September. Jadi, kami setiap tahunnya mengirimkan air bersih ke desa ini,’’ tuturnya. (mg2/kid/c1/fin)

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Wilayah terdampak kekeringan air bersih tahun ini menurun. Sejauh ini, BPBD Ponorogo hanya menyuplai air bersih ke Dusun Jenggring dan Banyuripan, Desa Duri, Slahung. Padahal, tahun-tahun sebelumnya, pada bulan-bulan ini BPBD berkirim air bersih ke beberapa wilayah lain.

Khusus Dusun Banyuripan, Desa Duri, Slahung, kekeringan telah melanda sejak Mei. Warga harus menempuh perjalanan sejauh empat kilometer untuk mendapatkan air bersih. Sebab, sumur di dusun tersebut telah mengering. ‘’Sejak Mei sumur kering, jalan empat kilometer,’’ kata Tukirah, warga setempat, Jumat (23/9).

Warga setempat semringah saat mendapatkan dropping air bersih kemarin (22/9). Warga berbondong-bondong mengantre sembari membawa jeriken. Jarwoto, warga setempat, datang membawa 10 jeriken berkapasitas 20 liter tiap jeriken. Air bersih itu dimanfaatkan untuk minum, masak, mandi, serta untuk hewan ternak. ‘’Sehari langsung habis. Apalagi kalau musim kemarau, bisa lebih dari itu,’’ ucap Jarwoto.

Persoalan kekeringan di wilayah setempat disebabkan faktor geografis. Wilayah Dusun Banyuripan berada di atas bukit. Kondisi itu membuat warga kesulitan mendapatkan saluran air dari sumber air yang ada di wilayah bawah. Selain itu, debit air sumur tidak mampu mencukupi kebutuhan warga. ‘’Karena daerahnya terlalu tinggi, saluran air tidak bisa sampai ke sini,’’ lanjutnya.

Baca Juga :  Pendaki Hilang di Gunung Lawu, Tim SAR Sisir Pasar Dieng dan Khayangan

Dusun Banyuripan dan Jenggring, Desa Duri, Slahung, merupakan wilayah yang masih menjadi langganan kekeringan. Berdasarkan pemetaan BPBD Ponorogo, wilayah terdampak kekeringan tahun ini menurun. Desa Wates (Slahung) dan Karangpatihan (Pulung) yang tahun-tahun sebelumnya termasuk dalam wilayah kekeringan, hingga kini belum mengajukan dropping.

‘’Tahun ini BPBD hanya mendapat permintaan suplai air bersih ke Desa Duri, total dua tangki kapasitas 6 liter. Kami kirim tiap Senin dan Kamis,’’ kata Kabid Kedaruratan Logistik BPBD Ponorogo Surono.

Adapun jumlah warga terdampak kekeringan di dua dusun itu lumayan banyak. Kekeringan di Dusun Jenggring dirasakan oleh 146 jiwa, 56 kepala keluarga (KK), dan ternak milik warga. Sementara, di Dusun Banyuripan sedikitnya 22 KK terdampak. ‘’Sumber air warga kering biasanya mulai Agustus sampai dengan September. Jadi, kami setiap tahunnya mengirimkan air bersih ke desa ini,’’ tuturnya. (mg2/kid/c1/fin)

Most Read

Artikel Terbaru