23.7 C
Madiun
Sunday, January 29, 2023

Revitalisasi Pasar Janti Harus Manusiawi

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Mengakhiri praktik prostitusi itu tidaklah mudah. Jika tak disertai solusi jangka panjang, penertiban yang dilakukan barangkali hanya berakhir menjadi semata aksi. Dewan memberikan beberapa opsi yang dapat dijadikan solusi. Agar ke depan bisnis esek-esek berkedok warung remang di Pasar Janti, Desa Ngrupit, Jenangan tak muncul lagi.

Prinsip, wakil rakyat mendukung penuh upaya revitalisasi Pasar Janti yang sedang diikhtiari pemerintah desa (pemdes) setempat. ‘’Kami telah menjalin komunikasi dengan pemdes dan melihat langsung lokasi,’’ tutur Wakil Ketua DPRD Ponorogo Dwi Agus Prayitno.

Kang Wi, sapaan Dwi Agus Prayitno, menegaskan Pasar  Janti merupakan tanah aset desa. Sehingga keberadaannya dapat dimaksimalkan untuk mendulang potensi perekonomian desa setempat. ‘’Di belakang ada pagar-pagar itu dijebol, artinya kami sangat mengapresiasi dikembalikan untuk pasar lagi. Karena dapat meningkatkan pendapatan asli desa agar lebih mandiri lagi,’’ kata politisi PKB, itu.

Kalangan dewan siap mensupport dari sisi penganggaran. Tahap awal, anggaran dapat dialokasikan dari dana desa (DD). Selanjutnya, kalangan dewan bakal menjadikan usulan dalam penganggaran APBD. Dwi sepakat dengan pendapat masyarakat setempat yang menghendaki Pasar  Janti direvitalisasi dan disterilisasi.

Agar tak memicu dampak sosial di kemudian  hari. Apalagi, notabene penjaja warung di sana bukanlah asli warga desa setempat. ‘’Jangan sampai penyakit masyarakat muncul di sana,’’ tegasnya.

Baca Juga :  Relokasi Pasar Legi Tak Direkomendasi Kejari

Dwi juga memberikan catatan kepada pemkab agar ikhtiar revitalisasi itu diikuti solusi. Perlu dilakukan pendataan untuk mengidentifikasi asal daerah para penjaja di pasar tersebut. Setelah data valid, diperlukan koordinasi lintas sektoral dan pemerintah daerah untuk merumuskan bersama-sama langkah lanjutan kepada para pelaku warung remang tersebut. ‘’Langkah itu harus memanusiakan manusia,’’ tegasnya.

Bagi para pelaku asal Ponorogo, dinas terkait dapat menindaklanjutinya dengan pelatihan kerja. Dilakukan secara kontinyu hingga yang bersangkutan mandiri secara ekonomi. Sehingga potensi untuk kembali ke ‘habitat’ sebelumnya dapat diantisipasi.

‘’Katakanlah dinsos-PPPA, kemudian disperdakum, dan disnaker berkoordinasi untuk menindaklanjuti pemberian keterampilan serta pendampingan hingga mereka itu benar-benar berdikari. Artinya, jangan sampai balik ke potret kelam itu tadi,’’ sambungnya.

Sementara bagi pelaku asal daerah lain, dinas terkait di kabupaten ini segera melakukan koordinasi dengan dinas terkait di daerah asal tersebut. Sehingga dinas daerah asalnya dapat menindaklanjuti dengan upaya serupa.

Hasil akhirnya, mereka dapat move on dari praktik prostitusi dan mencoba hidup baru dengan bekal keterampilan yang diberikan dinas terkait. ‘’Kalau pelatihan dan pendampingan ini tidak diberikan sampai mereka benar-benar insaf, percuma. Mereka bisa membuka tempat baru di lokasi lain,’’ pungkasnya. (kid/fin) 

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Mengakhiri praktik prostitusi itu tidaklah mudah. Jika tak disertai solusi jangka panjang, penertiban yang dilakukan barangkali hanya berakhir menjadi semata aksi. Dewan memberikan beberapa opsi yang dapat dijadikan solusi. Agar ke depan bisnis esek-esek berkedok warung remang di Pasar Janti, Desa Ngrupit, Jenangan tak muncul lagi.

Prinsip, wakil rakyat mendukung penuh upaya revitalisasi Pasar Janti yang sedang diikhtiari pemerintah desa (pemdes) setempat. ‘’Kami telah menjalin komunikasi dengan pemdes dan melihat langsung lokasi,’’ tutur Wakil Ketua DPRD Ponorogo Dwi Agus Prayitno.

Kang Wi, sapaan Dwi Agus Prayitno, menegaskan Pasar  Janti merupakan tanah aset desa. Sehingga keberadaannya dapat dimaksimalkan untuk mendulang potensi perekonomian desa setempat. ‘’Di belakang ada pagar-pagar itu dijebol, artinya kami sangat mengapresiasi dikembalikan untuk pasar lagi. Karena dapat meningkatkan pendapatan asli desa agar lebih mandiri lagi,’’ kata politisi PKB, itu.

Kalangan dewan siap mensupport dari sisi penganggaran. Tahap awal, anggaran dapat dialokasikan dari dana desa (DD). Selanjutnya, kalangan dewan bakal menjadikan usulan dalam penganggaran APBD. Dwi sepakat dengan pendapat masyarakat setempat yang menghendaki Pasar  Janti direvitalisasi dan disterilisasi.

Agar tak memicu dampak sosial di kemudian  hari. Apalagi, notabene penjaja warung di sana bukanlah asli warga desa setempat. ‘’Jangan sampai penyakit masyarakat muncul di sana,’’ tegasnya.

Baca Juga :  Puluhan Motor di Ponorogo Terjaring Razia Balap Liar

Dwi juga memberikan catatan kepada pemkab agar ikhtiar revitalisasi itu diikuti solusi. Perlu dilakukan pendataan untuk mengidentifikasi asal daerah para penjaja di pasar tersebut. Setelah data valid, diperlukan koordinasi lintas sektoral dan pemerintah daerah untuk merumuskan bersama-sama langkah lanjutan kepada para pelaku warung remang tersebut. ‘’Langkah itu harus memanusiakan manusia,’’ tegasnya.

Bagi para pelaku asal Ponorogo, dinas terkait dapat menindaklanjutinya dengan pelatihan kerja. Dilakukan secara kontinyu hingga yang bersangkutan mandiri secara ekonomi. Sehingga potensi untuk kembali ke ‘habitat’ sebelumnya dapat diantisipasi.

‘’Katakanlah dinsos-PPPA, kemudian disperdakum, dan disnaker berkoordinasi untuk menindaklanjuti pemberian keterampilan serta pendampingan hingga mereka itu benar-benar berdikari. Artinya, jangan sampai balik ke potret kelam itu tadi,’’ sambungnya.

Sementara bagi pelaku asal daerah lain, dinas terkait di kabupaten ini segera melakukan koordinasi dengan dinas terkait di daerah asal tersebut. Sehingga dinas daerah asalnya dapat menindaklanjuti dengan upaya serupa.

Hasil akhirnya, mereka dapat move on dari praktik prostitusi dan mencoba hidup baru dengan bekal keterampilan yang diberikan dinas terkait. ‘’Kalau pelatihan dan pendampingan ini tidak diberikan sampai mereka benar-benar insaf, percuma. Mereka bisa membuka tempat baru di lokasi lain,’’ pungkasnya. (kid/fin) 

Most Read

Artikel Terbaru