27.2 C
Madiun
Friday, December 9, 2022

Pasca Diregrouping, 45 Gedung SDN di Ponorogo Nganggur

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Ilalang dan pepohonan tumbuh liar dan nyaris menutupi bangunan SDN 01 Tajug, Siman. Beberapa pintu kelas rusak. Rangka atap juga hampir roboh. ‘’Sekolah ini ditutup setelah ada persoalan sengketa kepemilikan tanah 2018 lalu,’’ kata Erna Sari, warga setempat.

Erna menceritakan bahwa tanah di SDN 01 Tajug tersebut awalnya milik Pemerintah Desa (Pemdes) Tajug. Kemudian, ditukar dengan area persawahan. Namun, tanah tersebut masih atas nama pemdes setempat. ‘’Itu tanah bengkok. Anaknya orang yang mendapat bengkok tidak bisa menjual sawah tersebut. Akhirnya mereka meminta tanah sekolah itu dan menyegelnya,’’ urai Erna.

Alhasil, SDN 01 dimerger ke SDN 02 Tajug. Saat itu, anak Erna masih duduk di bangku kelas IV sekolah tersebut. ‘’Guru-gurunya tidak semuanya ikut ke SDN 02 Tajug. Ada yang pindah ke sekolah lain,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Ruang Kelas Rusak, Siswa SDN 2 Karangpatihan Belajar di Tenda Darurat

Edy Suprianto, Kabid Pembinaan SD Dinas Pendidikan (Dindik) Ponorogo, mengatakan bahwa bekas gedung SDN 01 Tajug telah dikembalikan menjadi aset daerah. Seluruh kewenangan berada di dinas terkait. ‘’Semua gedung-gedung yang tutup sudah bukan kewenangan dindik. Semuanya dikembalikan ke dinas aset. Jika desa sekitar sekolah tersebut ingin menggunakannya, harus mengurus ke dinas aset terlebih dahulu,’’ kata Edy.

Rupanya, tak hanya SDN 01 Tajug yang nganggur pascamerger. Dindik setempat menunjukkan 45 SDN yang tersebar di 16 kecamatan telah ditutup pasca digabung. Data tersebut akumulasi selama periode 2006-2021. ‘’Ditutup karena minimnya siswa selama tiga tahun. Minimal empat pendaftar agar sekolah bisa terus jalan. Seluruh gedung kami menjadi aset daerah dan kami kembalikan ke dinas terkait,’’ pungkasnya. (mg2/kid/c1/fin)

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Ilalang dan pepohonan tumbuh liar dan nyaris menutupi bangunan SDN 01 Tajug, Siman. Beberapa pintu kelas rusak. Rangka atap juga hampir roboh. ‘’Sekolah ini ditutup setelah ada persoalan sengketa kepemilikan tanah 2018 lalu,’’ kata Erna Sari, warga setempat.

Erna menceritakan bahwa tanah di SDN 01 Tajug tersebut awalnya milik Pemerintah Desa (Pemdes) Tajug. Kemudian, ditukar dengan area persawahan. Namun, tanah tersebut masih atas nama pemdes setempat. ‘’Itu tanah bengkok. Anaknya orang yang mendapat bengkok tidak bisa menjual sawah tersebut. Akhirnya mereka meminta tanah sekolah itu dan menyegelnya,’’ urai Erna.

Alhasil, SDN 01 dimerger ke SDN 02 Tajug. Saat itu, anak Erna masih duduk di bangku kelas IV sekolah tersebut. ‘’Guru-gurunya tidak semuanya ikut ke SDN 02 Tajug. Ada yang pindah ke sekolah lain,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Miris! Empat Ibu Curi Susu di Swalayan

Edy Suprianto, Kabid Pembinaan SD Dinas Pendidikan (Dindik) Ponorogo, mengatakan bahwa bekas gedung SDN 01 Tajug telah dikembalikan menjadi aset daerah. Seluruh kewenangan berada di dinas terkait. ‘’Semua gedung-gedung yang tutup sudah bukan kewenangan dindik. Semuanya dikembalikan ke dinas aset. Jika desa sekitar sekolah tersebut ingin menggunakannya, harus mengurus ke dinas aset terlebih dahulu,’’ kata Edy.

Rupanya, tak hanya SDN 01 Tajug yang nganggur pascamerger. Dindik setempat menunjukkan 45 SDN yang tersebar di 16 kecamatan telah ditutup pasca digabung. Data tersebut akumulasi selama periode 2006-2021. ‘’Ditutup karena minimnya siswa selama tiga tahun. Minimal empat pendaftar agar sekolah bisa terus jalan. Seluruh gedung kami menjadi aset daerah dan kami kembalikan ke dinas terkait,’’ pungkasnya. (mg2/kid/c1/fin)

Most Read

Artikel Terbaru

/