27.2 C
Madiun
Friday, December 9, 2022

Harga Kedelai Setinggi Gunung Semeru, Produsen Tempe Pilih Berhenti Produksi

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Kenaikan harga kedelai impor pecah rekor harga tertinggi selama ini. Kini meroket hingga Rp 12.600 per kilogram. Kenaikannya bertahap dalam dua pekan belakangan. ‘’Setiap hari naik Rp 100 hingga Rp 300 selama dua minggu ini. Normalnya Rp 6.000-Rp 7.000 sekilo,’’ kata Riani, salah seorang penjual kedelai di Pasar Legi, Sabtu (24/9).

Hingga saat ini suplai kedelai di Indonesia masih mengandalkan impor. Suwardi, distributor kedelai impor asal Kelurahan Nologaten, mengatakan bahwa 90 persen kedelai diimpor dari Amerika Serikat. Dia memperkirakan harga kedelai bakal terus melonjak hingga akhir tahun. Harga diperkirakan berangsur normal saat panen raya di negara berjuluk Paman Sam itu, Januari tahun depan. ‘’Kenaikan harga disebabkan penurunan produksi akibat pengaruh cuaca di Amerika. Juga dipengaruhi kenaikan kurs dolar,’’ kata Suwardi.

Baca Juga :  Imbas Kenaikan Harga Kedelai, Omzet Pedagang Turun Drastis

Dia membeberkan, kenaikan harga berdampak pada penurunan permintaan hingga 20 persen. Selain itu, berdampak pada kemacetan pembayaran dari para pelanggannya. Bahkan, ada konsumen yang memutuskan berhenti membeli kedelai. ‘’Satu pelanggan berhenti produksi tempe,’’ lanjutnya.

Taufiq, produsen tempe asal Desa Jabung, Mlarak, memilih berhenti produksi. Menurutnya, lonjakan harga yang begitu tinggi itu berdampak pada tingginya ongkos produksi. Jika memaksa untuk menaikkan harga jual, dikhawatirkan pelanggan kecewa. ‘’Saya tadi pagi telepon Pak Suwardi ingin membeli kedelai. Tapi, berhubung harga kedelai naik setinggi Gunung Semeru, terpaksa tidak jadi beli dan berhenti produksi sementara waktu,’’ kata Taufiq. (mg2/c1/kid)

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Kenaikan harga kedelai impor pecah rekor harga tertinggi selama ini. Kini meroket hingga Rp 12.600 per kilogram. Kenaikannya bertahap dalam dua pekan belakangan. ‘’Setiap hari naik Rp 100 hingga Rp 300 selama dua minggu ini. Normalnya Rp 6.000-Rp 7.000 sekilo,’’ kata Riani, salah seorang penjual kedelai di Pasar Legi, Sabtu (24/9).

Hingga saat ini suplai kedelai di Indonesia masih mengandalkan impor. Suwardi, distributor kedelai impor asal Kelurahan Nologaten, mengatakan bahwa 90 persen kedelai diimpor dari Amerika Serikat. Dia memperkirakan harga kedelai bakal terus melonjak hingga akhir tahun. Harga diperkirakan berangsur normal saat panen raya di negara berjuluk Paman Sam itu, Januari tahun depan. ‘’Kenaikan harga disebabkan penurunan produksi akibat pengaruh cuaca di Amerika. Juga dipengaruhi kenaikan kurs dolar,’’ kata Suwardi.

Baca Juga :  Pelaku Industri Olahan Kedelai Diminta Tekan Biaya Operasional

Dia membeberkan, kenaikan harga berdampak pada penurunan permintaan hingga 20 persen. Selain itu, berdampak pada kemacetan pembayaran dari para pelanggannya. Bahkan, ada konsumen yang memutuskan berhenti membeli kedelai. ‘’Satu pelanggan berhenti produksi tempe,’’ lanjutnya.

Taufiq, produsen tempe asal Desa Jabung, Mlarak, memilih berhenti produksi. Menurutnya, lonjakan harga yang begitu tinggi itu berdampak pada tingginya ongkos produksi. Jika memaksa untuk menaikkan harga jual, dikhawatirkan pelanggan kecewa. ‘’Saya tadi pagi telepon Pak Suwardi ingin membeli kedelai. Tapi, berhubung harga kedelai naik setinggi Gunung Semeru, terpaksa tidak jadi beli dan berhenti produksi sementara waktu,’’ kata Taufiq. (mg2/c1/kid)

Most Read

Artikel Terbaru

/