alexametrics
24.5 C
Madiun
Thursday, May 26, 2022

Timbang Matang Calon Direktur RSUD dr Harjono Ponorogo

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Rambut boleh sama hitam, pikiran berlain-lainan. Pendapat Agung Priyanto, wakil Komisi A DPRD Ponorogo, berbeda soal pilihan calon direktur RSUD dr Harjono. Politikus PDI Perjuangan itu mematok syarat bahwa siapa pun direkturnya wajib punya kemampuan menjalankan manajemen rumah sakit dengan baik. ‘’Pengelolaan BLUD (badan layanan umum daerah) sudah menyangkut pelayanan publik, memilih siapa direkturnya wajib dengan pertimbangan matang,’’ kata Agung, Selasa (25/1).

Dia tidak menyoal urusan gender. Apakah direktur RSUD harus dokter laki-laki atau sudah waktunya dipegang seorang dokter perempuan. Agung menyebutkan, proses seleksi terbuka calon direktur rumah sakit pelat merah itu sudah cukup ketat. Nah, Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko yang bakal memilih satu di antara tiga calon tidak harus mendasarkan sisi akademis saja. ‘’Memilih siapa yang lebih punya kompetensi, saya juga tidak menyoal apakah berasal dari orang dalam atau orang luar,’’ ujarnya. 

Menurut Agung, RSUD memiliki potensi pendapatan asli daerah (PAD) cukup besar. Pun, ada syarat bahwa seorang direktur bukan berstatus pegawai negeri sipil hingga lebih profesional. Ketiga calon juga sudah memaparkan gagasan untuk pengembangan rumah sakit yang hendak mereka pimpin.  ‘’Bupati bisa memilih dari berbagai sudut pandang, apalagi RSUD Harjono termasuk rumah sakit tipe A,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Pekan Depan, Pemkab Ponorogo Lelang 8 Jabatan Eselon II

Seperti diberitakan, panitia seleksi terbuka calon direktur RSUD dr Harjono menyodorkan tiga nama. Mereka adalah Yunus Mahatma, Siti Nurfaidah, dan Enggar Triadji Sambodo berdasarkan urutan perolehan nilai. Dua nama terakhir termasuk orang dalam (ordal) karena sama-sama pernah menjabat wakil direktur. Yunus yang seorang dokter spesialis dalam itu satu-satunya orang luar. 

Nama Siti Nurfaidah sempat mencuat tinggi lantaran dalam sejarah delapan periode direktur RSUD dr Harjono sejak 1980 hingga sekarang, belum sekalipun dijabat dokter perempuan. Apalagi, dia bergelar magister manajemen rumah sakit (MMRS). Sedangkan Yunus yang notabene peraih nilai tertinggi memiliki pengalaman sebagai direktur RSUD Sayidiman, Magetan. Peluang Enggar juga belum tertutup karena pilihan bupati tidak hanya mendasar perolehan nilai dari hasil uji kelayakan dan kepatutan (UKK) serta wawancara. (mg7/c1/hw)

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Rambut boleh sama hitam, pikiran berlain-lainan. Pendapat Agung Priyanto, wakil Komisi A DPRD Ponorogo, berbeda soal pilihan calon direktur RSUD dr Harjono. Politikus PDI Perjuangan itu mematok syarat bahwa siapa pun direkturnya wajib punya kemampuan menjalankan manajemen rumah sakit dengan baik. ‘’Pengelolaan BLUD (badan layanan umum daerah) sudah menyangkut pelayanan publik, memilih siapa direkturnya wajib dengan pertimbangan matang,’’ kata Agung, Selasa (25/1).

Dia tidak menyoal urusan gender. Apakah direktur RSUD harus dokter laki-laki atau sudah waktunya dipegang seorang dokter perempuan. Agung menyebutkan, proses seleksi terbuka calon direktur rumah sakit pelat merah itu sudah cukup ketat. Nah, Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko yang bakal memilih satu di antara tiga calon tidak harus mendasarkan sisi akademis saja. ‘’Memilih siapa yang lebih punya kompetensi, saya juga tidak menyoal apakah berasal dari orang dalam atau orang luar,’’ ujarnya. 

Menurut Agung, RSUD memiliki potensi pendapatan asli daerah (PAD) cukup besar. Pun, ada syarat bahwa seorang direktur bukan berstatus pegawai negeri sipil hingga lebih profesional. Ketiga calon juga sudah memaparkan gagasan untuk pengembangan rumah sakit yang hendak mereka pimpin.  ‘’Bupati bisa memilih dari berbagai sudut pandang, apalagi RSUD Harjono termasuk rumah sakit tipe A,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Bikin Kampung Baru Dekat Waduk Bendo

Seperti diberitakan, panitia seleksi terbuka calon direktur RSUD dr Harjono menyodorkan tiga nama. Mereka adalah Yunus Mahatma, Siti Nurfaidah, dan Enggar Triadji Sambodo berdasarkan urutan perolehan nilai. Dua nama terakhir termasuk orang dalam (ordal) karena sama-sama pernah menjabat wakil direktur. Yunus yang seorang dokter spesialis dalam itu satu-satunya orang luar. 

Nama Siti Nurfaidah sempat mencuat tinggi lantaran dalam sejarah delapan periode direktur RSUD dr Harjono sejak 1980 hingga sekarang, belum sekalipun dijabat dokter perempuan. Apalagi, dia bergelar magister manajemen rumah sakit (MMRS). Sedangkan Yunus yang notabene peraih nilai tertinggi memiliki pengalaman sebagai direktur RSUD Sayidiman, Magetan. Peluang Enggar juga belum tertutup karena pilihan bupati tidak hanya mendasar perolehan nilai dari hasil uji kelayakan dan kepatutan (UKK) serta wawancara. (mg7/c1/hw)

Most Read

Artikel Terbaru

/