alexametrics
21.8 C
Madiun
Tuesday, June 28, 2022

Warsito Telaten Ukir Kayu Dadap Jadi Alat Kesenian Reyog

Warsito Hadi Suyatno banting setir dari mengukir rancakan gamelan ke reyog. Pindah haluan itu buntut sedikitnya peminat. Kini, eksistensinya sebagai perajin reyog diuji sulitnya mencari bahan kayu dadap.

==================== 

DILA RAHMATIKA, Ponorogo, Jawa Pos Radar Ponorogo

TANGAN Warsito Hadi Suyatno naik-turun mengukir sebuah kayu dadap membentuk taring gigi warok. Di sekelilingnya berserak pahatan alat kesenian reyog. Seperti kepala barongan lengkap dengan taring. Juga dua buah kepala reyog yang sedang dijemur. ‘’Tinggal melengkapi kulit,’’ katanya.

Sebelum menjadi perajin reyog, Warsito mengukir rancakan atau wadah gamelan. Desain buatannya dikenal cukup unik. Perpaduan tiga daerah berbeda: Jogjakarta; Jepara; dan Solo, Jawa Tengah. Karena saking rumitnya, desain itu sulit ditiru perajin lain. ‘’Karena pesanan rancakan sekarang sepi, saya ganti membuat reyog,’’ ujar warga Kelurahan Mangunsuman, Siman, Ponorogo, tersebut.

Warsito menguasai teknik membuat reyog hasil bekerja di tempat salah seorang perajin selama lima tahun. Dari yang semula buruh, kini membuka produksi sendiri. Usahanya mulai dikembangkan anak sulungnya sejak 2015 lalu. ‘’Saya suruh kuliah tidak mau. Tapi dia lebih mahir daripada saya,’’ tutur bapak dua anak itu.

Baca Juga :  Kirab Budaya Setono-Tegalsari, Maknai Perjuangan Ki Ageng Besari

Karya kepala barong dan kerangka dadak merak buatan pria 60 tahun itu sudah melanglang buana. Dipasok ke berbagai daerah di luar Ponorogo. Bahkan, untuk kepala barong sudah tembus mancanegara. Dalam sehari, Warsito bisa membuat sebuah kepala barong serta kerangkanya. Perlu teknik khusus agar senimannya merasa nyaman ketika menggunakannya. ‘’Ukuran harus pas dan seimbang,’’ ucap Warsito.

Eksistensi Warsito sebagai perajin reyog diuji sulitnya memperoleh kayu dadap. Kebutuhan kayu itu didapatkan dari wilayah lain. Seperti Ngawi, Pacitan, dan Malang. Kondisi itu membuatnya harus menguras duit tambahan untuk biaya transportasi pengiriman kayu. ‘’Yang paling cocok pakai dadap,’’ jelasnya.

Kayu dadap lebih ringan ketimbang jenis lainnya. Selain itu teksturnya bagus. Hingga kini belum terpikirkan mengganti kayu lain. ‘’Ringan, kuat, dan tidak gampang pecah. Kalau dipaku kokoh, sulit dicabut,’’ papar Warsito. ***(cor/c1)

Warsito Hadi Suyatno banting setir dari mengukir rancakan gamelan ke reyog. Pindah haluan itu buntut sedikitnya peminat. Kini, eksistensinya sebagai perajin reyog diuji sulitnya mencari bahan kayu dadap.

==================== 

DILA RAHMATIKA, Ponorogo, Jawa Pos Radar Ponorogo

TANGAN Warsito Hadi Suyatno naik-turun mengukir sebuah kayu dadap membentuk taring gigi warok. Di sekelilingnya berserak pahatan alat kesenian reyog. Seperti kepala barongan lengkap dengan taring. Juga dua buah kepala reyog yang sedang dijemur. ‘’Tinggal melengkapi kulit,’’ katanya.

Sebelum menjadi perajin reyog, Warsito mengukir rancakan atau wadah gamelan. Desain buatannya dikenal cukup unik. Perpaduan tiga daerah berbeda: Jogjakarta; Jepara; dan Solo, Jawa Tengah. Karena saking rumitnya, desain itu sulit ditiru perajin lain. ‘’Karena pesanan rancakan sekarang sepi, saya ganti membuat reyog,’’ ujar warga Kelurahan Mangunsuman, Siman, Ponorogo, tersebut.

Warsito menguasai teknik membuat reyog hasil bekerja di tempat salah seorang perajin selama lima tahun. Dari yang semula buruh, kini membuka produksi sendiri. Usahanya mulai dikembangkan anak sulungnya sejak 2015 lalu. ‘’Saya suruh kuliah tidak mau. Tapi dia lebih mahir daripada saya,’’ tutur bapak dua anak itu.

Baca Juga :  Slamet Riyadi, Mantan TKI yang Jadi Buruh Tani dengan Satu Tangan

Karya kepala barong dan kerangka dadak merak buatan pria 60 tahun itu sudah melanglang buana. Dipasok ke berbagai daerah di luar Ponorogo. Bahkan, untuk kepala barong sudah tembus mancanegara. Dalam sehari, Warsito bisa membuat sebuah kepala barong serta kerangkanya. Perlu teknik khusus agar senimannya merasa nyaman ketika menggunakannya. ‘’Ukuran harus pas dan seimbang,’’ ucap Warsito.

Eksistensi Warsito sebagai perajin reyog diuji sulitnya memperoleh kayu dadap. Kebutuhan kayu itu didapatkan dari wilayah lain. Seperti Ngawi, Pacitan, dan Malang. Kondisi itu membuatnya harus menguras duit tambahan untuk biaya transportasi pengiriman kayu. ‘’Yang paling cocok pakai dadap,’’ jelasnya.

Kayu dadap lebih ringan ketimbang jenis lainnya. Selain itu teksturnya bagus. Hingga kini belum terpikirkan mengganti kayu lain. ‘’Ringan, kuat, dan tidak gampang pecah. Kalau dipaku kokoh, sulit dicabut,’’ papar Warsito. ***(cor/c1)

Most Read

Artikel Terbaru

/