alexametrics
29.7 C
Madiun
Thursday, January 20, 2022

Periksa 1.670 Orang Bergejala, 364 Positif Tuberkulosis

PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo – Melacak penderita tuberkulosis (TB) kini susah-susah gampang. Sebab, gejalanya nyaris sama dengan Covid-19. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mensyaratkan pemeriksaan 8.525 orang bergejala di Ponorogo untuk melacak penderita TB itu. ‘’Kami baru mampu memeriksa 1.670 orang bergejala dan menemukan 364 positif TB,’’ kata Kepala Seksi Pencegahan Penyakit Menular Dinkes Ponorogo Edi Kusnanto, Kamis (25/11).

Pihaknya menghadapi kendala berupa keengganan masyarakat menjalani pemeriksaan TB. Mereka khawatir menghadapi kenyataan terpapar virus korona. Gejala klinis memang hampir sama yang berupa batuk, sesak napas, dan demam. Padahal, kasus penyakitnya berbeda antara TB dan Covid-19. ‘’TB disebabkan bakteri, kalau penyebab Covid adalah virus,’’ terangnya.

Padahal, TB jika tidak segera diobati bakal menggerogoti tubuh penderita. Gejala umum yang dialami pasien TB adalah batuk berdahak lebih dari dua minggu. Dahak yang perlu uji laboratorium untuk memastikan seseorang terserang TB atau tidak. Edi membenarkan bahwa proses penyembuhan perlu waktu cukup lama hingga butuh kesabaran. ‘’Sekitar enam bulan harus rutin konsumsi obat kalau tidak ingin kena RO (resistan obat, Red),’’ jelasnya.

Baca Juga :  Tes CPNS Ponorogo, Berani Jamin Nihil Perjokian

Sudah ada delapan pasien TB di Ponorogo berstatus RO. Mereka tetap bisa sembuh meskipun harus melewati perjuangan yang berat. Tenaga kesehatan perlu ketat mengawasi keteraturan pasien meminum obat. Edi menyebut, pasien TB yang resisten obat dapat sembuh dalam kurun sekitar satu tahun. Semua puskesmas kini tengah mencari keberadaan pasien TB untuk memutus mata rantai penularan. ‘’Harus sebanyak-banyaknya ditemukan,’’ ungkapnya.

Padahal, tahun lalu ditemukan 922 kasus positif TB. Edi mengatakan, ada beberapa kasus TB tahun lalu yang masih aktif dan terdata tahun ini. Pihaknya menargetkan pada tahun depan pihaknya menemukan lebih banyak lagi kasus aktif. Sebenarnya, dana untuk program TB bukan semata-mata menghilangkan jejak penyakit yang bersumber bakteri itu. ‘’Jangan salah mengartikan. Kami harus temukan agar kasus TB tereliminasi 2030 nanti,’’ pungkasnya. (mg7/c1/hw/her)

PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo – Melacak penderita tuberkulosis (TB) kini susah-susah gampang. Sebab, gejalanya nyaris sama dengan Covid-19. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mensyaratkan pemeriksaan 8.525 orang bergejala di Ponorogo untuk melacak penderita TB itu. ‘’Kami baru mampu memeriksa 1.670 orang bergejala dan menemukan 364 positif TB,’’ kata Kepala Seksi Pencegahan Penyakit Menular Dinkes Ponorogo Edi Kusnanto, Kamis (25/11).

Pihaknya menghadapi kendala berupa keengganan masyarakat menjalani pemeriksaan TB. Mereka khawatir menghadapi kenyataan terpapar virus korona. Gejala klinis memang hampir sama yang berupa batuk, sesak napas, dan demam. Padahal, kasus penyakitnya berbeda antara TB dan Covid-19. ‘’TB disebabkan bakteri, kalau penyebab Covid adalah virus,’’ terangnya.

Padahal, TB jika tidak segera diobati bakal menggerogoti tubuh penderita. Gejala umum yang dialami pasien TB adalah batuk berdahak lebih dari dua minggu. Dahak yang perlu uji laboratorium untuk memastikan seseorang terserang TB atau tidak. Edi membenarkan bahwa proses penyembuhan perlu waktu cukup lama hingga butuh kesabaran. ‘’Sekitar enam bulan harus rutin konsumsi obat kalau tidak ingin kena RO (resistan obat, Red),’’ jelasnya.

Baca Juga :  Tiga Hari Intensifikasi, Warga Jambon Negatif Korona

Sudah ada delapan pasien TB di Ponorogo berstatus RO. Mereka tetap bisa sembuh meskipun harus melewati perjuangan yang berat. Tenaga kesehatan perlu ketat mengawasi keteraturan pasien meminum obat. Edi menyebut, pasien TB yang resisten obat dapat sembuh dalam kurun sekitar satu tahun. Semua puskesmas kini tengah mencari keberadaan pasien TB untuk memutus mata rantai penularan. ‘’Harus sebanyak-banyaknya ditemukan,’’ ungkapnya.

Padahal, tahun lalu ditemukan 922 kasus positif TB. Edi mengatakan, ada beberapa kasus TB tahun lalu yang masih aktif dan terdata tahun ini. Pihaknya menargetkan pada tahun depan pihaknya menemukan lebih banyak lagi kasus aktif. Sebenarnya, dana untuk program TB bukan semata-mata menghilangkan jejak penyakit yang bersumber bakteri itu. ‘’Jangan salah mengartikan. Kami harus temukan agar kasus TB tereliminasi 2030 nanti,’’ pungkasnya. (mg7/c1/hw/her)

Most Read

Artikel Terbaru