alexametrics
27.3 C
Madiun
Saturday, May 21, 2022

365 Hari Begitu Berarti, Pembangunan Harus Berkelanjutan

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Kinerja pasangan kepala daerah selama setahun menjabat sudah dapat menjadi cerminan tingkat keberhasilannya. Kalangan akademisi menilai Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko dan Wakil Bupati (Wabup) Lisdyarita telah melakukan serangkaian gebrakan.

Namun, ada sejumlah program belum tereksekusi dengan baik. ‘’Terkendala situasi pandemi yang menyebabkan seluruh pemerintah daerah harus me-refocusing dan merealokasi anggaran,’’ kata Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Ponorogo Ayub Dwi Anggoro, Sabtu (26/2).

Namun, dia mengingatkan bahwa mayoritas  masyarakat hanya memandang kondisi riil hasil tanpa menghitung proses yang tengah berjalan. Ayub juga menegaskan bahwa sulit mengukur tingkat kepuasan masyarakat terhadap pemimpin mereka tanpa melalui survei. ‘’Sekali lagi, kecenderungan masyarakat kita menilai dari sesuatu yang kelihatan,’’ ujarnya.

Tak urung, bupati dan wakil bupati dianggap berhasil memimpin daerah jika mampu membangun infrastruktur jalan, prasarana pertanian, serta memajukan desa. Sebaliknya, pengakuan United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) terhadap reyog sebagai warisan budaya sekalipun tidak masuk perhitungan khalayak umum yang notabene para pemilih di pilkada. ‘’Meskipun pengakuan UNESCO itu didapat dengan effort (upaya, Red) yang luar biasa,’’ terang Ayub.

Baca Juga :  Bupati Sugiri: Jaga Ponorogo Tetap Nol PMK

Menjadi catatan khusus pula, tiga bupati incumbent selalu kalah dalam Pilkada Ponorogo. Mulai Muhadi Suyono yang kalah dari Amin (Pilkada 2010), pun Amin kalah dari Ipong Muchlissoni (2015), lagi-lagi Ipong tumbang oleh Sugiri Sancoko yang melakukan revans di Pilkada 2020. Baik Muhadi, Amin, maupun Ipong hanya menjabat satu periode. Ayub mengaku prihatin dengan fenomena itu lantaran program pembangunan sejatinya butuh proses panjang. ‘’Tidak cukup hanya dalam jangka lima tahun,’’ ungkapnya.

Apalagi, masa jabatan pasangan Kang Giri (KG) –sapaan Sugiri Sancoko– dan Bunda Rita (BR) –sebutan akrab Lisdyarita– hanya 3,5 tahun buntut kebijakan Pemilu Serentak 2024. Tanpa memandang siapa bupati yang terpilih dalam pemungutan suara pada 14 Februari tiga tahun mendatang, pembangunan harus berkelanjutan. ‘’Apakah lanjut atau tidak, itu tergantung pada komunikasi politik dan kepuasan masyarakat,’’ tegasnya. (kid/c1/hw)

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Kinerja pasangan kepala daerah selama setahun menjabat sudah dapat menjadi cerminan tingkat keberhasilannya. Kalangan akademisi menilai Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko dan Wakil Bupati (Wabup) Lisdyarita telah melakukan serangkaian gebrakan.

Namun, ada sejumlah program belum tereksekusi dengan baik. ‘’Terkendala situasi pandemi yang menyebabkan seluruh pemerintah daerah harus me-refocusing dan merealokasi anggaran,’’ kata Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Ponorogo Ayub Dwi Anggoro, Sabtu (26/2).

Namun, dia mengingatkan bahwa mayoritas  masyarakat hanya memandang kondisi riil hasil tanpa menghitung proses yang tengah berjalan. Ayub juga menegaskan bahwa sulit mengukur tingkat kepuasan masyarakat terhadap pemimpin mereka tanpa melalui survei. ‘’Sekali lagi, kecenderungan masyarakat kita menilai dari sesuatu yang kelihatan,’’ ujarnya.

Tak urung, bupati dan wakil bupati dianggap berhasil memimpin daerah jika mampu membangun infrastruktur jalan, prasarana pertanian, serta memajukan desa. Sebaliknya, pengakuan United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) terhadap reyog sebagai warisan budaya sekalipun tidak masuk perhitungan khalayak umum yang notabene para pemilih di pilkada. ‘’Meskipun pengakuan UNESCO itu didapat dengan effort (upaya, Red) yang luar biasa,’’ terang Ayub.

Baca Juga :  Seorang Pegawai Luwes Positif Covid-19

Menjadi catatan khusus pula, tiga bupati incumbent selalu kalah dalam Pilkada Ponorogo. Mulai Muhadi Suyono yang kalah dari Amin (Pilkada 2010), pun Amin kalah dari Ipong Muchlissoni (2015), lagi-lagi Ipong tumbang oleh Sugiri Sancoko yang melakukan revans di Pilkada 2020. Baik Muhadi, Amin, maupun Ipong hanya menjabat satu periode. Ayub mengaku prihatin dengan fenomena itu lantaran program pembangunan sejatinya butuh proses panjang. ‘’Tidak cukup hanya dalam jangka lima tahun,’’ ungkapnya.

Apalagi, masa jabatan pasangan Kang Giri (KG) –sapaan Sugiri Sancoko– dan Bunda Rita (BR) –sebutan akrab Lisdyarita– hanya 3,5 tahun buntut kebijakan Pemilu Serentak 2024. Tanpa memandang siapa bupati yang terpilih dalam pemungutan suara pada 14 Februari tiga tahun mendatang, pembangunan harus berkelanjutan. ‘’Apakah lanjut atau tidak, itu tergantung pada komunikasi politik dan kepuasan masyarakat,’’ tegasnya. (kid/c1/hw)

Most Read

Artikel Terbaru

/