alexametrics
27.6 C
Madiun
Saturday, May 28, 2022

Setahun Kerja Sugiri-Lisdyarita, Letakkan Dasar Menuju Ponorogo Hebat

KOTA, Jawa Pos Radar Ponorogo – Satu tahun bukanlah waktu yang singkat. Sugiri Sancoko dan Lisdyarita sudah melakukan banyak hal selama 365 hari menjabat sebagai bupati dan wabup Ponorogo sejak dilantik 26 Februari 2021 lalu.

Namun, Kang Giri –sapaan Sugiri Sancoko– sengaja merendah kendati publik menilai bupati yang berpasangan dengan Bunda Rita –sebutan Lisdyarita– itu berhasil meletakkan dasar pembangunan menuju Ponorogo Hebat. ‘’Saya sadar capaian selama ini belum bisa memuaskan semua pihak. Kami sudah berupaya menempatkan dasar yang baik dan benar sesuai visi serta misi,’’ kata Kang Giri, Sabtu (26/2).

Gebrakan awal Kang Giri adalah membedah wajah (face-off) Jalan HOS Tjokroaminoto tanpa mengambil duit APBD sepeser pun. Pemkab mengetuk kepedulian 60 perusahaan untuk memenuhi tanggung jawab sosial (corporate social responsibility) mereka. Face-off akhirnya juga menyentuh pedestrian sisi utara Jalan Jenderal Sudirman. Trotoar dua jalan protokol lainnya –Jalan Jenderal Urip Sumoharjo dan Jalan Diponegoro– juga bakal  mengalami operasi wajah hingga membentuk segiempat dengan tali pusar kawasan alun-alun. ‘’Inilah tata kota berbudaya dan beradab yang akan menjadi kota hebat karena langsung memberikan halo efect (kesan pertama, Red) kepada masyarakat,’’ terang suami Susilowati itu.

Di sektor pertanian, Kang Giri concern meningkatkan indeks hasil produksi. Terlebih di area sawah yang tidak dilalui saluran irigasi. Pasangan kepala daerah itu sengaja membangun sumur dalam setelah resmi menjabat. Pun, 96 sumur dalam digali tahun ini. Belum cukup, 150 sumur bor artesis dibangun pada 2023 dan 2024 mendatang. ‘’Persis perencanaan dalam visi dan misi,’’ ungkapnya.

Bupati dan Wabup juga berupaya menggugah partisipasi aktif masyarakat. Total 6.982 rukun tetangga (RT) mendapat jatah anggaran masing-masing Rp 10 juta. Gelontoran dana itu guna menstimulus warga peduli lingkungan hingga transformasi digital. Mulai pengelolaan sampah, biopori sebagai tabungan air, hingga  fasilitas wifi. ‘’Kami ingin meletakkan kesadaran serentak untuk membangun sebuah peradaban,’’ jelas Kang Giri.

Baca Juga :  UPT BLK Ponorogo Pastikan Tak Terlibat Human Trafficking

Kang Giri dan Lisdyarita juga memberikan jaminan sosial bagi perangkat RT maupun BPD. Mulai unsur ketua, sekretaris, hingga bendahara didaftarkan kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan. Urusan premi disokong Pemkab Ponorogo lewat pos pembiayaan di APBD. ‘’Sebagai jaminan bagi yang bekerja di lapangan siang dan malam,’’ tuturnya.

Pengembangan sektor wisata tak luput dari perhatian. Kang Giri mengangankan monumen dan museum reyog berdiri menempel di gunung kapur Sampung. Ongkos pembangunan proyek mercusuar itu menganut pola multiyears dengan total anggaran Rp 200 miliar. Sedangkan pengembangan wisata Ngebel ditandai dengan tuntasnya planning water fountain yang kelak butuh dana sekitar Rp 6 miliar. ‘’Kami bangun wisata pemikat. Sampung dan  Ngebel sama-sama punya daya tarik yang kuat,’’ imbuhnya.

Belum lagi, potensi wisata desa yang digali lewat kelompok sadar wisata (pokdarwis).  Pemkab mengurai kendala kepemilikan lahan bersama Perhutani. Kedua pemangku kebijakan itu akhirnya sama-sama berkomitmen mengembangkan pariwisata di akar rumput. ‘’Perhutani sebagai pemilik lahan sepakat mengembangkan potensi wisata yang ada di desa-desa,’’  ujarnya.

Di sektor ekonomi, Kang Giri dan Bunda Rita membangun kelurahan dan desa yang mandiri. Terobosan berupa pasar krempyeng ternyata mampu menggerakkan roda perekonomian nyaris di seluruh pelosok kampung.  Pun, ditunjang dengan perencanaan revitalisasi pasar tradisional di lima kecamatan. ‘’Kami juga masih mendorongnya dengan upaya konektivitas akses jalan,’’ beber Kang Giri.

Setahun kerja Kang Giri dan Bunda Rita menuntaskan pula persoalan administrasi dana pinjaman pemulihan ekonomi nasional (PEN) senilai Rp 155 miliar. Kucuran dana talangan dari Jakarta itu bakal mampu menjawab persoalan infrastruktur jalan yang rusak. Rehabilitasi 51 ruas jalan juga bertujuan sebagai pengungkit ekonomi, penghubung daerah terpencil, alternatif jalan nasional, pendukung pariwisata,  perintis, serta penghubung antar kabupaten. ‘’Before dan after akan kami sampaikan pertengahan periode manakala semua program sudah tereksekusi dengan baik. Masyarakat akan melihat capaian itu,’’ ucapnya. (kid/c1/hw/ip)

KOTA, Jawa Pos Radar Ponorogo – Satu tahun bukanlah waktu yang singkat. Sugiri Sancoko dan Lisdyarita sudah melakukan banyak hal selama 365 hari menjabat sebagai bupati dan wabup Ponorogo sejak dilantik 26 Februari 2021 lalu.

Namun, Kang Giri –sapaan Sugiri Sancoko– sengaja merendah kendati publik menilai bupati yang berpasangan dengan Bunda Rita –sebutan Lisdyarita– itu berhasil meletakkan dasar pembangunan menuju Ponorogo Hebat. ‘’Saya sadar capaian selama ini belum bisa memuaskan semua pihak. Kami sudah berupaya menempatkan dasar yang baik dan benar sesuai visi serta misi,’’ kata Kang Giri, Sabtu (26/2).

Gebrakan awal Kang Giri adalah membedah wajah (face-off) Jalan HOS Tjokroaminoto tanpa mengambil duit APBD sepeser pun. Pemkab mengetuk kepedulian 60 perusahaan untuk memenuhi tanggung jawab sosial (corporate social responsibility) mereka. Face-off akhirnya juga menyentuh pedestrian sisi utara Jalan Jenderal Sudirman. Trotoar dua jalan protokol lainnya –Jalan Jenderal Urip Sumoharjo dan Jalan Diponegoro– juga bakal  mengalami operasi wajah hingga membentuk segiempat dengan tali pusar kawasan alun-alun. ‘’Inilah tata kota berbudaya dan beradab yang akan menjadi kota hebat karena langsung memberikan halo efect (kesan pertama, Red) kepada masyarakat,’’ terang suami Susilowati itu.

Di sektor pertanian, Kang Giri concern meningkatkan indeks hasil produksi. Terlebih di area sawah yang tidak dilalui saluran irigasi. Pasangan kepala daerah itu sengaja membangun sumur dalam setelah resmi menjabat. Pun, 96 sumur dalam digali tahun ini. Belum cukup, 150 sumur bor artesis dibangun pada 2023 dan 2024 mendatang. ‘’Persis perencanaan dalam visi dan misi,’’ ungkapnya.

Bupati dan Wabup juga berupaya menggugah partisipasi aktif masyarakat. Total 6.982 rukun tetangga (RT) mendapat jatah anggaran masing-masing Rp 10 juta. Gelontoran dana itu guna menstimulus warga peduli lingkungan hingga transformasi digital. Mulai pengelolaan sampah, biopori sebagai tabungan air, hingga  fasilitas wifi. ‘’Kami ingin meletakkan kesadaran serentak untuk membangun sebuah peradaban,’’ jelas Kang Giri.

Baca Juga :  Tradisi Reogan Dilanjutkan Pasca-Lebaran

Kang Giri dan Lisdyarita juga memberikan jaminan sosial bagi perangkat RT maupun BPD. Mulai unsur ketua, sekretaris, hingga bendahara didaftarkan kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan. Urusan premi disokong Pemkab Ponorogo lewat pos pembiayaan di APBD. ‘’Sebagai jaminan bagi yang bekerja di lapangan siang dan malam,’’ tuturnya.

Pengembangan sektor wisata tak luput dari perhatian. Kang Giri mengangankan monumen dan museum reyog berdiri menempel di gunung kapur Sampung. Ongkos pembangunan proyek mercusuar itu menganut pola multiyears dengan total anggaran Rp 200 miliar. Sedangkan pengembangan wisata Ngebel ditandai dengan tuntasnya planning water fountain yang kelak butuh dana sekitar Rp 6 miliar. ‘’Kami bangun wisata pemikat. Sampung dan  Ngebel sama-sama punya daya tarik yang kuat,’’ imbuhnya.

Belum lagi, potensi wisata desa yang digali lewat kelompok sadar wisata (pokdarwis).  Pemkab mengurai kendala kepemilikan lahan bersama Perhutani. Kedua pemangku kebijakan itu akhirnya sama-sama berkomitmen mengembangkan pariwisata di akar rumput. ‘’Perhutani sebagai pemilik lahan sepakat mengembangkan potensi wisata yang ada di desa-desa,’’  ujarnya.

Di sektor ekonomi, Kang Giri dan Bunda Rita membangun kelurahan dan desa yang mandiri. Terobosan berupa pasar krempyeng ternyata mampu menggerakkan roda perekonomian nyaris di seluruh pelosok kampung.  Pun, ditunjang dengan perencanaan revitalisasi pasar tradisional di lima kecamatan. ‘’Kami juga masih mendorongnya dengan upaya konektivitas akses jalan,’’ beber Kang Giri.

Setahun kerja Kang Giri dan Bunda Rita menuntaskan pula persoalan administrasi dana pinjaman pemulihan ekonomi nasional (PEN) senilai Rp 155 miliar. Kucuran dana talangan dari Jakarta itu bakal mampu menjawab persoalan infrastruktur jalan yang rusak. Rehabilitasi 51 ruas jalan juga bertujuan sebagai pengungkit ekonomi, penghubung daerah terpencil, alternatif jalan nasional, pendukung pariwisata,  perintis, serta penghubung antar kabupaten. ‘’Before dan after akan kami sampaikan pertengahan periode manakala semua program sudah tereksekusi dengan baik. Masyarakat akan melihat capaian itu,’’ ucapnya. (kid/c1/hw/ip)

Most Read

Artikel Terbaru

/