alexametrics
23.8 C
Madiun
Saturday, May 21, 2022

Pedagang di Ponorogo Penuh Perjuangan Tebus Migor Lima Belas Ribuan

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Minyak goreng (migor) curah kian menjadi buruan. Antrean mengular di distributor seolah lazim dijumpai setiap hari. Warga pun rela berdatangan sebelum pintu toko besar itu dibuka.

Misdori, warga Kertosari, Babadan, salah satunya. Dia harus bergegas tiba di toko itu pukul 05.30 kemarin (25/3). Terlambat sedikit saja, takut tak kebagian. Jika sampai pulang dengan tangan kosong, dia tak dapat berjualan. ‘’Saya sudah tiga hari tidak jualan,’’ kata pelapak kulineran di alun-alun itu.

Hari-hari ini, pedagang cilik semakin tercekik. Mendapatkan migor curah susahnya minta ampun. Misdori sendiri tak berani memaksakan diri membeli migor yang seharga Rp 24 ribu-Rp 25 ribu per liter. Beruntung, kemarin Misdori berhasil membawa pulang 10 kilogram migor curah. ‘’Ini harganya cuma Rp 15.500 per kilogram. Kalau kemasan harganya bisa sampai Rp 25 ribu. Nggak nyucuk,’’ ujarnya.

Mahrus Tohari, warga lainnya, juga girang bukan kepalang setelah mendapat nomor antrean 33 setelah toko buka pukul 07.00 kemarin. Dia telah mangantre sejam lebih di pinggiran jalan timur Pasar Legi itu. Empat hari sebelumnya, dia tak kebagian jatah migor dari toko yang sama. Alhasil, terpaksa libur jualan keripik usus ayam. ‘’Saya libur sejak Selasa karena nggak dapat minyak,’’ kata warga Desa Tajug, Siman, itu.

Baca Juga :  Malam Tahun Baru Sunyi Tanpa Gemerlap Kembang Api

Selama empat hari libur tak jualan, sebenarnya Tohari tak berpangku tangan. Agar asap dapur tetap ngebul, dia rela menyisir dari satu toko ke toko lain. Dapatnya migor kemasan yang harganya berselisih lumayan dengan harga migor curah. ‘’Saya biasanya sehari habis 9 kilogram minyak. Kemarin sampai sini telat, nggak kebagian,’’ ungkapnya.

Tak seluruh warga yang mengantre bernasib mujur. Pantauan di lokasi, banyak warga terpaksa balik kucing lantaran tak kebagian nomor antrean. Pihak toko menjatah 80-90 orang. Tiap orang dijatah 10 kilogram dengan harga Rp 15.500 per kilogram sesuai harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah pusat. (kid/c1/fin/her)

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Minyak goreng (migor) curah kian menjadi buruan. Antrean mengular di distributor seolah lazim dijumpai setiap hari. Warga pun rela berdatangan sebelum pintu toko besar itu dibuka.

Misdori, warga Kertosari, Babadan, salah satunya. Dia harus bergegas tiba di toko itu pukul 05.30 kemarin (25/3). Terlambat sedikit saja, takut tak kebagian. Jika sampai pulang dengan tangan kosong, dia tak dapat berjualan. ‘’Saya sudah tiga hari tidak jualan,’’ kata pelapak kulineran di alun-alun itu.

Hari-hari ini, pedagang cilik semakin tercekik. Mendapatkan migor curah susahnya minta ampun. Misdori sendiri tak berani memaksakan diri membeli migor yang seharga Rp 24 ribu-Rp 25 ribu per liter. Beruntung, kemarin Misdori berhasil membawa pulang 10 kilogram migor curah. ‘’Ini harganya cuma Rp 15.500 per kilogram. Kalau kemasan harganya bisa sampai Rp 25 ribu. Nggak nyucuk,’’ ujarnya.

Mahrus Tohari, warga lainnya, juga girang bukan kepalang setelah mendapat nomor antrean 33 setelah toko buka pukul 07.00 kemarin. Dia telah mangantre sejam lebih di pinggiran jalan timur Pasar Legi itu. Empat hari sebelumnya, dia tak kebagian jatah migor dari toko yang sama. Alhasil, terpaksa libur jualan keripik usus ayam. ‘’Saya libur sejak Selasa karena nggak dapat minyak,’’ kata warga Desa Tajug, Siman, itu.

Baca Juga :  Migor Curah Langka di Ponorogo, Kapolres: Kalau Ada yang Bermain, Laporkan!

Selama empat hari libur tak jualan, sebenarnya Tohari tak berpangku tangan. Agar asap dapur tetap ngebul, dia rela menyisir dari satu toko ke toko lain. Dapatnya migor kemasan yang harganya berselisih lumayan dengan harga migor curah. ‘’Saya biasanya sehari habis 9 kilogram minyak. Kemarin sampai sini telat, nggak kebagian,’’ ungkapnya.

Tak seluruh warga yang mengantre bernasib mujur. Pantauan di lokasi, banyak warga terpaksa balik kucing lantaran tak kebagian nomor antrean. Pihak toko menjatah 80-90 orang. Tiap orang dijatah 10 kilogram dengan harga Rp 15.500 per kilogram sesuai harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah pusat. (kid/c1/fin/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/