alexametrics
24.1 C
Madiun
Friday, August 19, 2022

Pengawal Pesta Demokrasi Butuh Motivasi

PONOROGO – Dari belasan petugas yang tumbang mengawal pesta demokrasi, terselip nama Andri Utama Halim. Setelah mengemban tugas dari pagi hingga jelang siang keesokan harinya, petugas TPS 11 Desa Gelangkulon, Sampung itu harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Satu dari dua bed salah satu ruang di rumah sakit swasta itu, Andri Utama Halim terbaring. Marina, ibunya setia duduk di samping. Pria 27 tahun itu terkulai tak berdaya. Sekadar berucap masih berat. Saat petugas PPK Sampung dan KPU Ponorogo menjenguk, Marina sedang memberi minum Andri. Tangan kirinya menahan punggung anaknya, tangan kanannya memegang gelas berisi air mineral. Setelah beberapa cegukan membasahi tenggorokan, dia kembali rebahan. ‘’Kami datang untuk memberikan motivasi dan dukungan agar segera pulih,’’ kata Divisi Sosialisasi Pendidikan Pemilih Partisipasi Masyarakat dan Sumber Daya Manusia KPU Ponorogo Nita Herdiana Wati.

Tidak terbayang sebelumnya, pria yang sehari-hari bekerja sebagai tukang las itu bakal tumbang. Sebelum pukul 06.00, 17 April lalu, dia pamit kepada ibunya untuk menyiapkan tempat dan berbagai keperluan pemilu. Saat itu, tawanya masih renyah dan tampak ceria. ‘’Sebelum pemilu masih sehat,’’ tegasnya.

Di TPS 11 Gelangkulon, Sampung, Andri dan petugas lainnya harus melayani 230 daftar pemilih tetap (DPT). Seusai warga menyalurkan hak pilihnya, tugas Andri dan petugas lainnya tak lantas usai. Masih harus menghitung surat suara yang jumlahnya mencapai empat jenis. Dikalikan seluruh pemilih yang hadir di hari itu. Menuntut kejelian dan kehatian-hatian. ‘’Tenaganya sudah terforsir sejak pagi,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Tingkat Konsumsi Pertalite Warga Turun

Penghitungan berlangsung hingga tengah malam. Andri tetap menunjukan tanggung jawabnya sebagai petugas. Dia pun menyelesaikan penghitungan dengan tidak meninggalkan masalah. Namun, setelahnya dia masih harus menyelesaikan berbagai rekapan catatan dan mengawal surat suara menuju tingkat desa. Seluruh pekerjaan dirampungkan hingga tuntas. ‘’Dia baru pulang ke rumah keesokan harinya (18/4) sekitar pukul 10.00. Dengan pakaian batik masih melekat di badan,’’ sambungnya.

Sesampainya di rumah, Andri mengeluh kepada ibunya. Badannya mulai lemas dan tidak berdaya. Dia lantas tertidur di kamarnya. Mengetahui hal itu, ibunya lekas mengirimkan anaknya ke puskesmas. Sempat dirawat tiga hari, namun kondisinya tidak kunjung membaik. Minggu (21/4) lalu, Andri dirujuk ke rumah sakit. Dokter masih terus melakukan upaya medis. Pemeriksaan sementara, Andri menderita penyakit tyfus. ‘’Dia butuh dukungan dan motivasi,’’ terangnya. *** (fin)

PONOROGO – Dari belasan petugas yang tumbang mengawal pesta demokrasi, terselip nama Andri Utama Halim. Setelah mengemban tugas dari pagi hingga jelang siang keesokan harinya, petugas TPS 11 Desa Gelangkulon, Sampung itu harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Satu dari dua bed salah satu ruang di rumah sakit swasta itu, Andri Utama Halim terbaring. Marina, ibunya setia duduk di samping. Pria 27 tahun itu terkulai tak berdaya. Sekadar berucap masih berat. Saat petugas PPK Sampung dan KPU Ponorogo menjenguk, Marina sedang memberi minum Andri. Tangan kirinya menahan punggung anaknya, tangan kanannya memegang gelas berisi air mineral. Setelah beberapa cegukan membasahi tenggorokan, dia kembali rebahan. ‘’Kami datang untuk memberikan motivasi dan dukungan agar segera pulih,’’ kata Divisi Sosialisasi Pendidikan Pemilih Partisipasi Masyarakat dan Sumber Daya Manusia KPU Ponorogo Nita Herdiana Wati.

Tidak terbayang sebelumnya, pria yang sehari-hari bekerja sebagai tukang las itu bakal tumbang. Sebelum pukul 06.00, 17 April lalu, dia pamit kepada ibunya untuk menyiapkan tempat dan berbagai keperluan pemilu. Saat itu, tawanya masih renyah dan tampak ceria. ‘’Sebelum pemilu masih sehat,’’ tegasnya.

Di TPS 11 Gelangkulon, Sampung, Andri dan petugas lainnya harus melayani 230 daftar pemilih tetap (DPT). Seusai warga menyalurkan hak pilihnya, tugas Andri dan petugas lainnya tak lantas usai. Masih harus menghitung surat suara yang jumlahnya mencapai empat jenis. Dikalikan seluruh pemilih yang hadir di hari itu. Menuntut kejelian dan kehatian-hatian. ‘’Tenaganya sudah terforsir sejak pagi,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Prabowo Ajak Pendukungnya Tidak Balas Dendam

Penghitungan berlangsung hingga tengah malam. Andri tetap menunjukan tanggung jawabnya sebagai petugas. Dia pun menyelesaikan penghitungan dengan tidak meninggalkan masalah. Namun, setelahnya dia masih harus menyelesaikan berbagai rekapan catatan dan mengawal surat suara menuju tingkat desa. Seluruh pekerjaan dirampungkan hingga tuntas. ‘’Dia baru pulang ke rumah keesokan harinya (18/4) sekitar pukul 10.00. Dengan pakaian batik masih melekat di badan,’’ sambungnya.

Sesampainya di rumah, Andri mengeluh kepada ibunya. Badannya mulai lemas dan tidak berdaya. Dia lantas tertidur di kamarnya. Mengetahui hal itu, ibunya lekas mengirimkan anaknya ke puskesmas. Sempat dirawat tiga hari, namun kondisinya tidak kunjung membaik. Minggu (21/4) lalu, Andri dirujuk ke rumah sakit. Dokter masih terus melakukan upaya medis. Pemeriksaan sementara, Andri menderita penyakit tyfus. ‘’Dia butuh dukungan dan motivasi,’’ terangnya. *** (fin)

Most Read

Artikel Terbaru

/