alexametrics
21.8 C
Madiun
Tuesday, June 28, 2022

Keluarga di Ponorogo Ini Jaga Tradisi Pemberian Nama Satu Kata

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Keluarga di Desa Temon, Sawoo, ini getol menjaga tradisi leluhurnya dalam memberikan nama pada anak-anaknya dengan satu kata. Meski julukan itu habis dalam sekali ucap, banyak harapan yang dipanjat.

JITUN sempat bingung saat berbincang dengan anak gadisnya melalui sambungan telepon. Dia tak tahu-menahu soal update Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) 74/2022 yang mengatur pencatatan nama minimal terdiri dari dua kata. ‘’Dari dulu, nama keluarga saya memang satu kata,’’ ujarnya, Kamis (26/5).

Seluruh keluarga Jitun memiliki nama satu kata. Selain Jitun, almarhum suaminya juga bernama satu kata: Sujud. Bahkan, orang tuanya bernama Soiman dan Tuki. Kakek-neneknya bernama Sakad dan Sadiyem. ‘’Sebenarnya nama asli saya Jemini, tapi lebih familier dipanggil Jitun. Akhirnya di KTP tertulis Jemini/Jitun,’’ tuturnya.

Meski hanya terdiri satu kata, tiap nama yang disematkan Jitun terhadap anak-anaknya bukannya tak berarti apa-apa. Anak sulungnya yang lahir 1991 diberi nama Wahyuti. Artinya, wahyu yang sejati dari Allah. Anak keduanya Wiyati (1996), ketiga Winarsih (2000), dan si bungsu Krisna (2005). ‘’Sebenarnya anak terakhir itu mau diberi nama Krisna Aldi Saputra. Tapi, sebelum dijenangabangi, ternyata anak tetangga namanya sama. Akhirnya saya ambil Krisna-nya saja. Artinya semempit koyo arit,’’ jelas perempuan kelahiran 1971 itu.

Baca Juga :  Waswas Banjir Bandang, DLH Ponorogo Bentengi Alih Fungsi Hutan

Selain melanggengkan tradisi keluarga, pemberian nama satu kata mudah diingat dan dihafal. Jitun juga berharap dengan penamaan singkat itu memberi ’’ruang kosong’’ untuk ditambahi gelar maupun pangkat. Karena itulah, Jitun selalu memotivasi anak-anaknya agar menempuh pendidikan setinggi-tingginya. ‘’Kalau namanya terlalu panjang, gelar atau pangkat nanti nggak muat,’’ pungkasnya. *** (winarsih-khurin mufarikah-mg-iain/kid)

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Keluarga di Desa Temon, Sawoo, ini getol menjaga tradisi leluhurnya dalam memberikan nama pada anak-anaknya dengan satu kata. Meski julukan itu habis dalam sekali ucap, banyak harapan yang dipanjat.

JITUN sempat bingung saat berbincang dengan anak gadisnya melalui sambungan telepon. Dia tak tahu-menahu soal update Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) 74/2022 yang mengatur pencatatan nama minimal terdiri dari dua kata. ‘’Dari dulu, nama keluarga saya memang satu kata,’’ ujarnya, Kamis (26/5).

Seluruh keluarga Jitun memiliki nama satu kata. Selain Jitun, almarhum suaminya juga bernama satu kata: Sujud. Bahkan, orang tuanya bernama Soiman dan Tuki. Kakek-neneknya bernama Sakad dan Sadiyem. ‘’Sebenarnya nama asli saya Jemini, tapi lebih familier dipanggil Jitun. Akhirnya di KTP tertulis Jemini/Jitun,’’ tuturnya.

Meski hanya terdiri satu kata, tiap nama yang disematkan Jitun terhadap anak-anaknya bukannya tak berarti apa-apa. Anak sulungnya yang lahir 1991 diberi nama Wahyuti. Artinya, wahyu yang sejati dari Allah. Anak keduanya Wiyati (1996), ketiga Winarsih (2000), dan si bungsu Krisna (2005). ‘’Sebenarnya anak terakhir itu mau diberi nama Krisna Aldi Saputra. Tapi, sebelum dijenangabangi, ternyata anak tetangga namanya sama. Akhirnya saya ambil Krisna-nya saja. Artinya semempit koyo arit,’’ jelas perempuan kelahiran 1971 itu.

Baca Juga :  Enam PDP Ponorogo Dinyatakan Negatif

Selain melanggengkan tradisi keluarga, pemberian nama satu kata mudah diingat dan dihafal. Jitun juga berharap dengan penamaan singkat itu memberi ’’ruang kosong’’ untuk ditambahi gelar maupun pangkat. Karena itulah, Jitun selalu memotivasi anak-anaknya agar menempuh pendidikan setinggi-tingginya. ‘’Kalau namanya terlalu panjang, gelar atau pangkat nanti nggak muat,’’ pungkasnya. *** (winarsih-khurin mufarikah-mg-iain/kid)

Most Read

Artikel Terbaru

/