alexametrics
29.9 C
Madiun
Wednesday, July 6, 2022

BPBD Sebut Gemuruh Toro Bukan Tanda Bencana Alam

PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo – Bayang-bayang tanah longsor Desa Banaran, Pulung, April tahun lalu masih membekas. Sejumlah warga Dusun Toro, Pudak Kulon, Pudak, dihantui suara gemuruh dari arah Gunung Perahu desa setempat. Mereka resah karena mengira ada pergerakan tanah berujung longsor. ‘’Suara itu bukan tanda alam bencana longsor,’’ kata Kabid Logistik dan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo Setyo Budiono Jumat (25/10).

Budi –sapaan akrabnya– mengatakan, warga Toro mendengar gemuruh pertama kali pada Minggu siang (20/10). Suara itu berulang muncul hingga membuat pihaknya menerjunkan tim ke lokasi. Hasil pantauan, tidak ditemukan perubahan kondisi lapangan. Misalnya, air tetap dingin, jernih, dan tidak berbau, atau tumbangnya pepohonan. Sejumlah warga juga dimintai keterangannya. ‘’Terakhir kali suara didengar Senin (21/10),’’ ujarnya.

Baca Juga :  PKL Sultan Agung Tolak Relokasi

Pihaknya lantas melaporkan fenomena itu ke Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Nganjuk. Hasilnya, suara tersebut diduga longsoran kecil di dalam tanah. Lokasinya yang sangat dalam dipandang tidak membahayakan. Longsor itu kemungkinan akibat perubahan musim. Meski begitu, pemantauan lokasi terus dilakukan. ‘’Suara hanya di lingkup sana saja,’’ tutur Budi sambil menyebut hanya enam kepala keluarga (KK) yang mendengar gemuruh itu.

BPBD belum memiliki alat pendeteksi khusus suara gemuruh dari dalam tanah. Alat tersebut hanya dimiliki BMKG. (dil/c1/cor)

PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo – Bayang-bayang tanah longsor Desa Banaran, Pulung, April tahun lalu masih membekas. Sejumlah warga Dusun Toro, Pudak Kulon, Pudak, dihantui suara gemuruh dari arah Gunung Perahu desa setempat. Mereka resah karena mengira ada pergerakan tanah berujung longsor. ‘’Suara itu bukan tanda alam bencana longsor,’’ kata Kabid Logistik dan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo Setyo Budiono Jumat (25/10).

Budi –sapaan akrabnya– mengatakan, warga Toro mendengar gemuruh pertama kali pada Minggu siang (20/10). Suara itu berulang muncul hingga membuat pihaknya menerjunkan tim ke lokasi. Hasil pantauan, tidak ditemukan perubahan kondisi lapangan. Misalnya, air tetap dingin, jernih, dan tidak berbau, atau tumbangnya pepohonan. Sejumlah warga juga dimintai keterangannya. ‘’Terakhir kali suara didengar Senin (21/10),’’ ujarnya.

Baca Juga :  Jalan Tiga Kecamatan Terpetakan Rawan

Pihaknya lantas melaporkan fenomena itu ke Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Nganjuk. Hasilnya, suara tersebut diduga longsoran kecil di dalam tanah. Lokasinya yang sangat dalam dipandang tidak membahayakan. Longsor itu kemungkinan akibat perubahan musim. Meski begitu, pemantauan lokasi terus dilakukan. ‘’Suara hanya di lingkup sana saja,’’ tutur Budi sambil menyebut hanya enam kepala keluarga (KK) yang mendengar gemuruh itu.

BPBD belum memiliki alat pendeteksi khusus suara gemuruh dari dalam tanah. Alat tersebut hanya dimiliki BMKG. (dil/c1/cor)

Most Read

Artikel Terbaru

/